• Home
  • About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Advertise

Tujuan I - Pendidikan Online

Tujuan I -  Pendidikan Online

Ahok Djarot Pilkada DKI

  • AHOK DJAROT PILKADA DKI
  • Home
  • DUNIA KESEHATAN
  • HUKUM PIDANA
  • MANAJEMEN
  • DAFTAR OBAT MUNTAH
  • SURAT LAMARAN KERJA
  • ▼
Home → Semua Post Berkategori Pendidikan Umum
Showing posts with label Pendidikan Umum. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Umum. Show all posts
Sebab Sebab Terjadinya Kecelakaan Kerja

Sebab Sebab Terjadinya Kecelakaan Kerja

Unknown
11:48 AM
1. Sebab-sebab Kecelakaan 

Kecelakaan tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau kondisi yang tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan nilai tersendiri dari teknik keselamatan. Ada pepatah yang mengungkapkan tindakan yang lalai seperti kegagalan dalam melihat atau berjalan mencapai suatu yang jauh diatas sebuah tangga. Hal tersebut menunjukkan cara yang lebih baik selamat untuk menghilangkan kondisi kelalaian dan memperbaiki kesadaran mengenai keselamatan setiap karyawan pabrik. 

Diantara kondisi yang kurang aman salah satunya adalah pencahayaan, ventilasi yang memasukkan debu dan gas, layout yang berbahaya ditempatkan dekat dengan pekerja, pelindung mesin yang tak sebanding, peralatan yang rusak, peralatan pelindung yang tak mencukupi, seperti helm dan gudang yang kurang baik. 

Diantara tindakan yang kurang aman salah satunya diklasifikasikan seperti latihan sebagai kegagalan menggunakan peralatan keselamatan, mengoperasikan pelindung mesin mengoperasikan tanpa izin atasan, memakai kecepatan penuh, menambah daya dan lain-lain. Dari hasil analisa kebanyakan kecelakaan biasanya terjadi karena mereka lalai ataupun kondisi kerja yang kurang aman, tidak hanya satu saja. Keselamatan dapat dilaksanakan sedini mungkin, tetapi untuk tingkat efektivitas maksimum, pekerja harus dilatih, menggunakan peralatan keselamatan. 

2. Faktor - faktor Kecelakaan 

Studi kasus menunjukkan hanya proporsi yang kecil dari pekerja sebuah industri terdapat kecelakaan yang cukup banyak. Pekerja pada industri mengatakan itu sebagai kecenderungan kecelakaan. Untuk mengukur kecenderungan kecelakaan harus menggunakan data dari situasi yang menunjukkan tingkat resiko yang ekivalen. 

Begitupun, pelatihan yang diberikan kepada pekerja harus dianalisa, untuk seseorang yang berada di kelas pelatihan kecenderungan kecelakaan mungkin hanya sedikit yang diketahuinya. Satu lagi pertanyaan yang tak terjawab ialah apakah ada hubungan yang signifikan antara kecenderungan terhadap kecelakaan yang kecil atau salah satu kecelakaan yang besar. Pendekatan yang sering dilakukan untuk seorang manager untuk salah satu faktor kecelakaan terhadap pekerja adalah dengan tidak membayar upahnya. Bagaimanapun jika banyak pabrik yang melakukan hal diatas akan menyebabkan berkurangnya rata-rata pendapatan, dan tidak membayar upah pekerja akan membuat pekerja malas melakukan pekerjaannya dan terus membahayakan diri mereka ataupun pekerja yang lain. Ada kemungkinan bahwa kejadian secara acak dari sebuah kecelakaan dapat membuat faktor-faktor kecelakaan tersendiri. 

3. Masalah Kesehatan Dan Keselamatan Kerja 

Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. 

a) Kapasitas Kerja 

Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum memuaskan. Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30-40% masyarakat pekerja kurang kalori protein, 30% menderita anemia gizi dan 35% kekurangan zat besi tanpa anemia. Kondisi kesehatan seperti ini tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal. Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang mempunyai banyak keterbatasan, sehingga untuk dalam melakukan tugasnya mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK dan kecelakaan kerja. 

b) Beban Kerja 

Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis beroperasi 8 - 24 jam sehari, dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan pada laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilirdan tugas/jaga malam. Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat, akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah, yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres. 


c) Lingkungan Kerja 

Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident), Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational Disease & Work Related Diseases). 

Tujuan Pendidikan Islam Adalah

Tujuan Pendidikan Islam Adalah

Unknown
11:31 AM
Sebuah Renungan Untuk Para Pendidik 
Pendidikan Islam, walaupun mencapai kemajuan dalam bidang sarana, namum kwalitasnya dirasakan belum memenuhi keinginan ummat. Kemerosotan itu disebabkan oleh berbagai faktor, satu diantaranya adalah ketidak fahaman terhadap tujuan Pendidikan Islam. Sebagian pendidik dan lembaga pendidikan berpandangan bahwa tujuan pendidikan adalah menyampaikan ilmu pengetahuan. Akibatnya semua usaha pendidikan hanya ditujuan untuk mentransmisikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. 

Disamping itu terdapat pula anggapan bahwa yang dinamakan Pendidikan Islam adalah pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman (syari'ah), sehingga berkembang angapan bahwa ilmu-ilmu selain ilmu keislaman bukanlah merupakan garapan Pendidikan Islam. Akibatnya tujuan lembaga Pendidikan Islam terbatas pada pangajaran ilmu-ilmu syari'ah. 

Tulisan ini mencoba mengemukan tujuan Pendidikan Islam agar kesalah pahaman tersebut akan dapat diperbaiki, dan Pendidikan akan dapat berkembang sejalan dengan tujuan hakiki Pendidikan Islam yang sesuai dengan kehendak ajaran Islam. 


Tujuan 

Tujuan merupakan fitrah yang telah melekat dalam diri setiap insan. Tidak ada tindakan manusia yang tidak mempunyai tujan. Sesungguhnya perbuatan seorang yang ia lakukan tanpa sadar mempunyai tujuan, walupun ia tidak mengetahui tujuan itu. Abdur Rahman Al-Qalawi, Ushul Tarbiyah al-Islamiyah, Kairo, Darul Fikril Arabi, hal. 96 

Seorang yang sedang tidur akan menarik tangannya bila ditusuk dengan jarum. Tujuannya adalah mempertahankan diri, atau berkeinginan untuk hidup. 

Biasanya, semua orang yang sadar dan berakal, selalu memikirkan tujuan setiap tindakannya. Bila ia menyadari tujuan tindakannya, akan terdorong untuk melakukan perbuatan itu. Seandainya seorang menempuh sebuah jalan tanpa mengetahui sebab ia harus melewati jalan tersebut, dia tidak akan antusias lewat di jalan itu. Tapi bila ia mengetahui bahwa di ujung jalan itu ada kebun yang indah, pemiliknya ramah dan akan mengajak setiap orang yang lewat di depan kebun itu untuk makan di pinggir kolam yang ada di kebun itu, sedangkan orang yang lewat ini sedang kelaparan, maka pasti orang tersenut akan terdorong dan bersemangat melewati jalan tersebut. 

Demikian pula dalam semua bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Seorang mahasiswa akan belajar dengan tekun sepanjang tahun, bila dalam benaknya selalu terbayang apa tujuan yang akan ia capai dengan pendidikan tersebut. Ia akan berusaha sekuat tenaga mencapai tujuan yang ia idam-idamkan. 

Disamping itu tujuan juga akan mengarahkan proses sebuah kegiatan. Bila tujuan tergambar, seorang akan dapat menentukan langkah, menentukan cara dan menentukan apa yang akan diperbuat ke arah tujuan itu. 

Kebutuhan terhadap tujuan 

Disamping hal yang kita utarakan di atas, kebutuhan sistim dan lembaga Pendidikan Islam terhadap tujuan disebabkan oleh dua masalah penting lainnya, yaitu: 

1. Sistim pendidikan yang berkembang di negara-negara Islam adalah sistim yang diimpor dari model Eropah dan Amerika. Sistim tersebut tidak serasi dengan budaya dan kebiasaan ummat di negara ini. Disamping itu sistim tersebut masuk ke dalam negara Islam sebagai bagian dari kekuasaan kolonialis, yang otomatis tujuannya sesuai dengan tujuan ekonomis kolonial itu, dan sesuai dengan dominasi politik kelompok-kelompok terdidik dan pemerintahan negara penjajah itu. Penjajah melalui sekolah yang mereka siapkan berusaha untuk melatih orang-orang terjajah untuk melakukan peran-peran penjajah. Walaupun penjajahan fisik berakhir, namun sistim pendidikan belum banyak mengalami probahan. Kurikulum, malah bahasa di sebagian negara Islam misalnya, masih sama dengan zaman pemjajahan. Malah hubungan kebudayaan antara negara bekas jajahan dengan ngara penjajah lebih kuat dibadingkan dengan zaman penajajahan. Dr. Majid Arsan Al-kailani, Ahdaf At-Tarbiyah Al-islamihah, Madinah, Maktabah Darut-Turast, 1988, hal 35. 

Kekhawatiran kita terhadap budaya Barat bukan berarti kita menutup diri dari semua budaya ini, tapi kita harus mempelajarinya dengan hati-hati dan kritis, dan menganggapnya sebagai salah satu informasi. Untuk mengatasi kesensitipan interaksi budaya itu dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal: (a) siapa yang kita pilih untuk berinteraksi itu; (b) pada umur berapa mereka kita bolehkan berinteraksi; dan (c) di mana tempat interaksi itu dilakukan. 

2. Sebab kedua adalah bahwa sistim pendidikan di negara Islam masih merupakan penceplakan terhadap model pendidikan lama yang berkembang di negara-negara Islam. Pendidikan model lama itu belum memahami tujuan Pendidikan Islam dan tidak pula menghayati hubungan tujuan dengan proses pendidikan. Tujuan satu-satunya yang terlihat dalam pendidikan lama ini adalah mentranformasikan budaya orang tua kepada anak-anaknya tanpa melakukan pengembangan dan tanpa memperhatikan kebutuhan masa depan anak tersebut. Hal ini sama dengan apa yang diungkap Allah dalam surat Az-zuhruf ayat 22. 

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ 

Oleh sebab itu kurikulum yang diberikan kepada anak-anak saat ini sama dengan apa yang diberikan pada masa yang lalu tanpa memperhatikan perbedaan kebutuhan saat ini dan masa yang lalu dan tanpa memperbadingkan probelma yang dihadapi oleh ummat masa kini dengan problema mereka masa lampau. Ibid, hal 39 

Akibat ketidak pahaman tujuan ini lahirlah keterbelakangan di berbagai lembaga pendidikan Islam, baik dalam bidang kurikulum ataupun dalam bidang metode. Dan yang lebih naif lagi timbulnya dualisme, atau dikhatomi dalam sistim pendidikan kita saat ini. 

Tujuan Pendidikan Islam 

Bila kita ingin berbicara tentang tujuan Pendidikan Islam, kita harus melihat tujuan hidup manusia di dunia ini. Tujuan itu tertera dalam Surat Az-Zaiyat ayat 56. 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلا لِيَعْبُدُونِي 

"Aku jadikan Jin dan Manusia itu untuk beribadah kepadaku". 

Beribadah itu jugalah yang menjadi tujuan yang akan dicapai oleh Pendidikan Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan Pendidikan Islam adalah "bagaimana merealisasikan ubudiyah lillah dalam kehidupan insan, baik seca individu ataupun kelompok".Dr. Hamid Mahmud Ismail, Min Ushul Tabiyah fil Islam, Shan'a, Wizarah Atbiyah wa At-Ta'lim, l986, hal. 98 

Ibadah yang dimaksudkan di sini bukanlah terbatas pada ritual-ritual Islam, seperti shalat, shiyam dan zakat, tapi lebih luas dari itu. Ibadah dalam pengeritan bahwa seseorang hanya menerima seluruh masalah kehidupannya dari Allah SWT, dalam arti bahwa ia terus menerus dalam hubungan dengan Allah SWT. Shalat, shiyam, zakat tidak lebih dari miftah ibadah/kunci ibadah, atau sebagai halte tempat menambah perbekalan bagi seorang yang sedang mengembara. Ibid, hal. 98 

Sesunggunya seluruh perjalanan, mulai dari bidayah, sampai kepada nihayah adalah ibadah. Ibadah dalam pengertian seperti ini mencakup seluruh kehidupan manusia, tidak terbatas pada waktu pendek yang dipergunakan untuk ritual itu saja. Kalau itu yang dimaksud dengan ibadah oleh ayat 56 surah Azzariyat itu, tentu ayat itu tidak mempunyai makna yang mendalam. Apa artinya waktu yang babarapa menit untuk ritual itu jika dibandingkan dengan kehidupan kita yang panjang itu ! Hampir ia tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Ayat ini baru mempunyai makna penting bila ibadah dijadikan manhaj hayah/sistim kehidupan manusia ini, dan bila ibadah itu menjadi cara berbuat, dan cara berfikir insa tersebut. Dalam arti bahwa semua perbuatan manusia harus kembali kepada Allah. 

Membentuk hubungan hati manusia dengan Allah SWT, dan mendorong hati manusia untuk kembali kepada Allah pada setiap saat adalah kaedah pokok Pendidikan Islam. Dengan kaedah inilah semua masalah dilaksanakan. Tanpa kaedah ini segala perbuatan di dunia tidak mempunyai arti. 

Oleh sebab itu, tujuan Pendidikan Islam berbeda dengan tujuan pendidikan lainnya, yaitu membentuk muslim yang beramal shaleh. Dalam arti bahwa manusia yang ingin diciptakan oleh Pendidikan Islam adalah insan yang dalam semua amalnya selalu berhubungan dengan Allah SWT. 


Amal Shaleh 

Dilihat dari implimentasinya, amal shaleh dapat dibagi kepada amal agama yang shaleh, amal sosial yang sholeh dan amal alami atau kauni yang sholeh. Namun bila dilihat dari pengaruhnya, amal shaleh dapat dikatagorikan kepada dua kelompok: 

Pertama. amal yang mendatangkan kemanfaatan dan keredhaan Allah. 

Kedua. amal yang bertujuan menghindarkan kemudharatan dan menjauhkan kemarahan Allah. 

Individu yang melakukan kedua bentuk amal shaleh itu desebut sebagai shaleh-mushlih. Sedangkan yang hanya melakukan yang pertama saja disebut dengan shaleh. Melakukan salah satunya belumlah memadai, sebab yang pertama diperlukan untuk pengembangan dan kemajuan, sedangkan yang kedua adalah untuk menghalangi sebab-sebab kemufsadatan dan keterbelakangan. Ibid, hal. 49. 

Pendidikan Islam berusaha untuk menciptakan manusia yang shaleh dan mushlih itu, dalam arti berusaha menciptakan insan yang akan berusaha melakukan kedua sisi amal shaleh tersebut. Hal ini disebabkan penegasan Allah dalam surat Al-Anfal ayat 25 yang mengatakan bahwa kehancuran tidak akan menimpa ummat yang anggotanya shaleh dan mushlih, tapi masyarakat yang anggotanya hanya shaleh saja akan dihadapkan kepada kehancuran. 

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (الانفال 25) 

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (هود 117) 

Bagaimana Menciptakan individu yang beramal shaleh? 

Pertanyaan yang muncul bagaimana cara Pendidikan Islam menciptakan individu yang beramal shaleh ? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memberikan defenisi amal dan bagaimana menciptakan amal itu. 

Amal dalam Pendidikan Islam adalah semua gerak yang diiringi dengan niyat. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal itau mempunyai niat”. Setiap gerakan tanpa niat (tujuan) tidak dinamakan amal. Bila dikhususkan kepada manusia, maka setiap gerak yang bertujuan mendatangkan kemanfaatan atau menghindarkan kemudharatan (keburukan) dinamakan oleh Al-Quran sebagai amal. Sedangkan gerak tanpa tujuan disebut Al-Quran sebagai jiryan (peredaran), seperti peredaran matahari dan bumi. 

Dengan demikian, amal adalah gerak dan tujuan, atau dalam ungkapan lain kudrah dan iradah (kemampuan dan keinginan). Bila ada kemampuan dan ada pula keinginan maka akan tercipta amal. 

Kudrah dapat berarti tenaga (thaqah) yang terdapat pada manusia dan hewan. Ia dapat pula berarti kemampuan untuk menundukkan alam. Ini hanya dipunyai oleh manusia. Kudrah dalam pengertian inilah yang akan diarahkan oleh Pendidikan Islam. Kemampuan untuk menundukkan ini adalah perkawinan antara kemampulan akal dengan pengalaman dan keahlian manusia dalam bidang agama, sosial dan kauni. 

Sedangkan Iradah adalah keinginan individu terhadap tujuan-tujuan tertentu. Iradah ini juga suatu hal yang membedakan manusia dengan hewan. 

Atas dasar ini, maka Pendidikan Islam memusatkan perhatiannya kepada pembentukan individu Muslim agar melakukan amal sholeh dalam dirinya, yaitu dengan mengembangkan kemampuan akal sampai ketingkat kematangan dan keahlian baik dalam bidang agama, sosial maupun kauni. Dalam kalimat yang lebih tergas, tujuan utama Pendidikan Islam adalah menciptakan muslim yang shaleh yang oleh banyak ulama digariskan dalam sepuluh ciri, yaitu Said Hawa, Fi Afaq At-Ta'alim, Kairo, Maktabah Wahbah 1980, hal 32 

1. Berbadan sehat 

2. Berakhlak baik 

3. Berwawasan luas 

4. Berkesanggupan berusaha 

5. Berakidah lurus 

6. Beribadah benar 

7. Bertekad tinggi 

8. Berjaga-jaga terhadap waktunya. 

9. Bermanfaat bagi orang lain 

10. Berketeraturan dalam semua amal 



Penutup 

Dari uraian di atas kita dapat mengatakan bahwa Pandidikan Islam adalah pendidikan yang syumul, yang mencakup semua segi pendidikan, baik akal, wujdan dan jasmani, atau kognitif, afektif dan psikhomotorik. Dengan demikian tujuan pendidikan juga akan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. 

Bila individu muslim berhasil dididik menjadi manusia-manusia shaleh dan muslih, maka keluarga muslim akan tercipta dengan sendirinya, dan selanjutnya keluarga tersebut akan menjadi dasar bagi pembentukan masyarakat muslim yang baik. 

Apa Tujuan Kurikulum

Apa Tujuan Kurikulum

Unknown
11:27 AM
Tujuan Kurikulum adalah tujuan yang hendak dicapai oleh suatu program studi, bidang studi, dan suatu mata pelajaran, yang disusun berdasarkan tujuan institusional. Peruumusan tujuan kurikulum berpedoman pada katagorisasi tujuan pendidikan/ taksonomi tujuan, yang dikaitkan dengan bidang-bidang studi bersangkutan. 

Berikut contoh taksonomi tujuan dari Benyamin S Bloom sebagai landasan tujuan kurikulum : 
Benyamin S Bloom dan kawan-kawan menamakan hal ini dengan “ The Taxonomy of Educational Objectives “ – Taksonomi tujuan pendidikan. Bloom dan kawan-kawan berpendapat bahwa tujuan pendidikan/pengajaran dapat klasifikasikan kedalam 3 domein ( daerah ) , yaitu : 

1. Domein Kognitif 

2. Domein Afektif 

3. Domein Psiko-motor 


1. Domein Kognitif 



Domein Kognitif berkenaan dengan perilaku yang berhubungan dengan berpikir, mengetahui, memecahkan masalah. Domein ini mempunyai enam tingkatan. Tingkatan yang paling rendah menunjukkan kemampuan yang sederhana, sedangkan yang paling tinggi menunjukkan kemampuan ynag cukup kompleks. Tingkatan kemampuan itu kalau diuraikan adalah sebagai berikut 

1. Pengetahuan ( Knowledge ) 

2. Pemahaman ( Comprehension ) 

3. Penerapan ( Aplication ) 

4. Analisis ( Analysis ) 

5. Sinthesis ( Synthesis ) 

6. Evaluasi ( Evaluation ) 


2. Domein Afektif 

Domein afektif berkaitan dengan sikap, nilai-nilai, interes, apresiasi, dan penyesuian perasaan sosial. Sebagaimana kognitif, domein afektif juga mempunyai klasifikasi tingkatan dari sederhana kepada yang kompleks. Tingkatan itu adalah : 



1. Kemauan menerima ( receiving ) 

2. Kemauan menanggapi ( responding ) 

3. Keyakinan ( confidence ) 

4. Penerapan karya ( organization ) 

5. Ketekunan dan ketelitian ( characterization by a value complex ) 



3. Domein Psiko-motor 

Domein Psiko-motor mencakup tujuan berkaitan dengan ketrampilan ( skill ) yang bersifat manual dan motorik. Domein ini meliputi tingkatan sebagai berikut : 



1. Persepsi ( perception ) 

2. Kesiapan melakukan sesuatu ( set ) 

3. Mekanisme ( mechanism ) 

4. Respon terbimbing ( guided response ) 

5. Kemahiran ( complex overt response ) 

6. Adaptasi ( adaptation ) 

7. Originasi ( origination ) 



2. Tujuan Pembelajaran ( Instruksional ) 



Tujuan pembelajaran adalah tujuan yang hendak dicapai setelah selesai diselenggarakan suatu proses pembelajaran, misalnya satuan acara pertemuan, yang bertitik tolak pada perubahan tingkah laku siswa. 

Tujuan Pendidikan Nasional menurut UU No 2 Tahun 1989 ada beberapa perbedaan dengan Tujuan Pendidikan Nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 diantaranya : 

1. UU No 2 Tahun 1989 mencerdaskan kehidupan bangsa UU No 20 Tahun 2003 untuk berkembangnya potensi peserta didik 

2. UU No 2 Tahun 1989 punya rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan UU No 20 Tahun 2003 menjadi warga negara yg demokratis serta bertanggung jawab 

Pada UU No 2 Tahun 1989 tidak disebutkan bahwa satuan pendidikan juga termasuk layanan pendidikan pada jalur formal, nonformal dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. 

Pendidikan formal : adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Perguruan tinggi ( UU No 20 Tahun 2003 ) 

Pendidikan nonformal : adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang ( UU No 20 Tahun 2003 ) 

Pendidikan informal : adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan ( UU No 20 Tahun 2003 ) 

Subscribe to: Posts (Atom)

Popular Posts

  • CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)
    CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)  Obat batuk dengan efek jangka panjang 10 – 12 jam  KOMPOSISI  Codipront Kapsul  Tiap Kapsul mengandun...
  • GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)
    GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)  Obat Generik : Gentamicin / Gentamisin Sulfat Obat Bermerek : Balticin, Bioderm, Dermabiotik, De...
  • Jenis - Jenis Obat Kortikosteroid
    Obat Kortikosteroid  Oradexon Tablet dan Injeksi ORADEXON Tablet, Suntik (Dexamethasone / Deksametason) Obat Generik : Dexamethasone...
  • BACTROBAN Krim / Salep Kulit (Mupirocin)
    Nama Obat Generik : Mupirocin / Mupirosin  Nama Obat Bermerek : Bactroban  KOMPOSISI / KANDUNGAN  Tiap 1 gram Bactroban Krim mengandung Mupi...
  • Contoh Latar Belakang Manajemen
    A.     Latar Belakang Manajemen  Sesungguhnya mulai kapan teori manajemen itu ada? Yaitu mulai sejak para pelaku usaha berkecimpung memi...
My Ping in TotalPing.com
My Ping in TotalPing.com

Labels

  • Cara Mengatasi Penyakit
  • Dunia Kesehatan
  • Hukum pidana
  • Manajemen

Popular Posts

  • CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)
    CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)  Obat batuk dengan efek jangka panjang 10 – 12 jam  KOMPOSISI  Codipront Kapsul  Tiap Kapsul mengandun...
  • GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)
    GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)  Obat Generik : Gentamicin / Gentamisin Sulfat Obat Bermerek : Balticin, Bioderm, Dermabiotik, De...

Pages

  • Home
Copyright © 2015 Tujuan I - Pendidikan Online . All rights reserved. My Notes Template. Simple Default Template edited by RT Media ™. Powered by Login