• Home
  • About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Advertise

Tujuan I - Pendidikan Online

Tujuan I -  Pendidikan Online

Ahok Djarot Pilkada DKI

  • AHOK DJAROT PILKADA DKI
  • Home
  • DUNIA KESEHATAN
  • HUKUM PIDANA
  • MANAJEMEN
  • DAFTAR OBAT MUNTAH
  • SURAT LAMARAN KERJA
  • ▼
Home → Semua Post Berkategori Ilmu pengetahuan
Showing posts with label Ilmu pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label Ilmu pengetahuan. Show all posts
Penyebab terjadinya resesi gingiva

Penyebab terjadinya resesi gingiva

Unknown
10:37 AM

Penyebab terjadinya resesi gingiva bersifat multifaktorial. Secara anatomi diawali dengan gingiva lekat yang sempit, perlekatan frenum abnormal, letak gigi di luar lengkung rahang, sudut antara akar gigi dan tulang, dan tulang alveolar di bagian bukal tipis. Kerusakan jaringan gingiva juga dapat disebabkan oleh penyakit periodontal seperti periodontitis, NUG, dan HIV. Prosedur perawatan penyakit periodontal dan restoratif, baik secara bedah maupun non-bedah dapat menimbulkan efek samping berupa resesi gingiva dan akar terbuka seperti gingivektomi, ostektomi, dan preparasi pada mahkota.
Resesi gingiva yang disebabkan oleh trauma dapat berupa incisal overlap yang berlebihan yang dapat menimbulkan kerusakan pada gingiva. Prosedur pembersihan gigi yang salah, flossing, penggunaan bulu sikat yang kasar, kebiasaan buruk seperti menusuk-nusuk gingiva dengan tusuk gigi, dan gigi tiruan sebagian dengan disain buruk mendorong terjadinya resesi gigiva Pergerakan alat ortodontik ke arah labial dapat mengakibatkan kehilangan perlekatan jaringan ikat dan tulang marjinal, disertai resesi gingiva. Pergeseran gingiva terjadi berangsur-angsur dan lebih sering akibat dari efek kumulatif minor pathologic involvement dan minor direct trauma pada gingiva.
Resesi gingiva dapat mendorong terjadinya karies dan aberasi pada akar, rasa ngilu, dan masalah estetika. Sehingga perlu dilakukan penutupan resesi gingiva dan akar terbuka serta pencegahan meluasnya resesi lebih lanjut.
Penanganan resesi gingiva yang disebabkan oleh trauma dimulai dengan pencegahan meluasnya daerah resesi bergantung dari macam trauma penyebabnya. Tindakan yang dapat dilakukan meliputi penyesuaian oklusi, memperbaiki letak gigi, memperbaiki cara pembersihan gigi, memperbaiki dan membuat restorasi, penggunaan bulu sikat yang lebih lunak, dan memperbaiki kebiasaan buruk. Penanganan lebih lanjut dapat dilakukan penutupan resesi melalui berbagai teknik pembedahan untuk mengembalikan kehilangan perlekatan jaringan periodonsium. Teknik pembedahan dapat diawali dengan penambahan lebar dan tinggi gingiva berkeratin atau gingiva lekat ke arah apikal daerah resesi dengan teknik graf, dan dapat dikombinasikan juga dengan cara GTR.

RINGKASAN
            Resesi gingiva dan akar terbuka dapat menimbulkan rasa ngilu, karies akar, dan masalah estetik. Perawatan dan pencegahan resesi disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Perawatan resesi gingiva akibat trauma dapat diawali dengan pencegahan meluasnya resesi dengan menghilangkan trauma yang dianggap sebagai faktor penyebabnya seperti penyesuaian oklusi, membuat restorasi, dan teknik pembersihan gigi yang memadai. Selanjutnya untuk mengatasi rasa ngilu dan masalah estetika, resesi gingiva dapat ditutup melalui cara pembedahan atau dengan menggunakan masker gingiva.
MENGATASI RESESI GINGIVA AKIBAT TRAUMA   Abstrak

MENGATASI RESESI GINGIVA AKIBAT TRAUMA Abstrak

Unknown
10:36 AM

Resesi gingiva adalah peristiwa terjadinya pergeseran tepi gingiva ke arah apikal. Resesi gingiva dapat mengakibatkan rasa ngilu dan terjadi karies pada akar karena akar terbuka, serta gangguan estetika karena gigi tampak memanjang. Penyebab terjadinya resesi gingiva meliputi faktor umur, anatomi rongga mulut, fisiologi, patologi, trauma, dan kebersihan mulut. Berbagai upaya dilakukan untuk menutup akar yang terbuka. Perawatan resesi gingiva akibat trauma pada umumnya tidak berbeda dengan perawatan resesi akibat faktor lain. Penanganan dimulai dengan pencegahan meluasnya daerah resesi, seperti penyesuaian oklusi, memperbaiki letak gigi, memperbaiki cara pembersihan gigi, memperbaiki dan membuat restorasi, penggunaan bulu sikat yang lebih lunak, dan memperbaiki kebiasaan buruk. Penanganan lebih lanjut dapat dilakukan penutupan resesi melalui berbagai teknik pembedahan untuk mengembalikan kehilangan perlekatan jaringan periodonsium. Teknik pembedahan dapat diawali dengan penambahan lebar dan tinggi gingiva berkeratin atau gingiva lekat ke arah apikal dengan teknik graf, dan dapat dikombinasikan dengan cara guided tissue regeneration.


PENDAHULUAN
            Resesi gingiva merupakan awal terjadinya kerusakan sementum, terbukanya dentin dan ngilu pada dentin. Resesi dapat terjadi karena berbagai alasan. Secara anatomi, sebagian gigi mungkin memiliki gingiva lekat yang sempit. Jika kemudian gingiva lekat yang sempit ini berkurang akibat resesi, maka gingiva yang menutupi dan melindungi daerah servikal gigi akan tinggal sedikit atau hilang sama sekali. Pergeseran gigi juga dapat mengawali kehilangan jaringan gingiva jika tulang alveolar di bagian bukal tipis.
            Penggunaan alat pembersih gigi yang berlebihan dan bersifat aberasif dapat mengakibatkan resesi gingiva, namun sikat gigi bukan satu-satunya penyebab kerusakan enamel dan sementum.1,2 Gingiva dapat mengalami kerusakan oleh proses perusakan jaringan yang disebabkan oleh periodontitis, necrotizing ulcerative gingivitis (NUG), dan penyakit karena virus seperti HIV. Perawatan penyakit periodontal secara bedah maupun non-bedah dapat mengakibatkan resesi gingiva dan akar terbuka. Prosedur pembedahan dan restoratif tertentu seperti preparasi mahkota, juga dapat mendukung resesi gingiva dan akar terbuka.
            Ada anggapan bahwa resesi gingiva merupakan kejadian alami yang berkaitan dengan umur. Pada penelitian dengan sampel sejumlah lebih dari 500 orang dengan umur di atas 65 tahun, 39% permukaan giginya mengalami resesi gingiva.3 Belum jelas resesi mana yang disebabkan hanya oleh proses umur, karena sulit menghilangkan efek tambahan dari penyikatan gigi, penggunaan alat kebersihan mulut lainnya, dan kebiasaan buruk.
            Penyakit periodontal mengakibatkan kehilangan yang cepat dari perlekatan periodontal yang kemudian menyebabkan kehilangan gigi. Kehilangan perlekatan ini tampak terjadi selama periode kerusakan aktif yang bergantian dengan periode penyembuhan. Proses perusakan sering tanpa rasa sakit, sehingga tidak terdeteksi kecuali didiagnosis secara professional. Walaupun demikian, penderita dengan penyakit periodontal yang progresif lebih sering pergi ke dokter gigi bukan karena sakit, tetapi lebih karena alasan estetik yang disebabkan oleh penyakit. Penderita mungkin melaporkan adanya perdarahan atau kemerahan pada gingiva, migrasi atau ekstrusi gigi, halitosis, resesi yang mengganggu atau ada ruangan di antara gigi-gigi. Semua tersebut di atas merupakan keluhan sekunder, sedangkan masalah kosmetik merupakan keluhan utama dan motivasi penderita untuk mencari perawatan gigi.4
Resesi gingiva merupakan bagian dari cacat gingiva yang sering ditemukan. Prevalensi, perluasan, dan keparahan resesi gingiva bertambah sesuai umur dan lebih sering terjadi pada laki-laki.5 Penderita sering terganggu oleh resesi karena bermasalah pada rasa ngilu dan estetika.

Definisi
             Secara klinis, resesi gingiva adalah terbukanya permukaan akar karena pergeseran posisi gingiva ke arah apikal. Posisi actual adalah letak dari perlekatan epitel, sedangkan posisi apparent menunjukkan letak dari kres gingival margin pada permukaan gigi. Tingkat keparahan resesi ditentukan oleh posisi actual dari gingiva, bukan pada posisi apparent.6

Etiologi
            Resesi gingiva bertambah seiring bertambahnya umur, insidensinya bervariasi dari 8% pada anak-anak hingga 100% pada umur setelah 50 tahun.7 Hal ini menunjukkan adanya asumsi bahwa resesi merupakan pergeseran fisiologis dari perlekatan gingiva.8 Pergeseran yang berangsur-angsur lebih sering akibat dari efek kumulatif minor pathologic involvement dan minor direct trauma pada gingiva. Pada sebagian masyarakat resesi terjadi tanpa ada hubungan dengan pemeliharaan gigi, tetapi resesi dapat merupakan akibat dari penyakit periodontal.9
            Faktor-faktor berikut ini ada kaitannya sebagai penyebab resesi gingiva seperti kesalahan teknik penyikatan gigi yang mengakibatkan aberasi pada gingiva10, peradangan gingiva, perlekatan frenum abnormal, dan iatrogenic dentistry. Trauma oklusi dahulu dianggap berpengaruh, tetapi mekanisme terjadinya belum pernah diperlihatkan. Seperti gigitan dalam yang dikaitkan dengan radang gingiva dan resesi. Incisal overlap yang berlebihan dapat menimbulkan kerusakan pada gingiva. Pergerakan ortodontik ke arah labial yang diteliti pada kera mengakibatkan kehilangan perlekatan jaringan ikat dan tulang marjinal, disertai resesi gingiva.11
            Prosedur pembersihan mulut sehari-hari, baik penyikatan gigi maupun pemakaian benang gigi dapat mengawali kerusakan gingiva yang sedikit dan berulang-ulang.12 Walaupun penyikatan gigi penting untuk kesehatan gingiva, tetapi teknik penyikatan gigi yang salah atau menggunakan sikat gigi dengan bulu yang keras dapat menimbulkan kerusakan yang berarti. Jenis kerusakan ini dapat berupa laserasi, aberasi, keratosis, dan resesi, yang paling sering terkena adalah marginal gingiva bagian fasial.13 Pada kasus-kasus tersebut resesi cenderung lebih sering dan parah pada penderita dengan gingiva yang secara klinis sehat, plak sedikit, dan kebersihan mulut baik.14
            Kepekaan terhadap resesi juga dipengaruhi oleh posisi gigi dalam lengkung rahang15, sudut akar gigi terhadap tulang, dan kontur permukaan gigi mesio-distal. Pada gigi yang rotasi, miring, dan terletak fasial, lempeng tulang tipis dan tingginya berkurang. Tekanan pengunyahan atau penyikatan gigi biasa dapat merusak gingiva yang tidak mendapat dukungan, dan mengakibatkan resesi. Efek sudut akar terhadap tulang yang mengalami resesi sering tampak pada daerah molar rahang atas. Jika inklinasi lingual akar palatal menonjol atau akar bukal melebar keluar, tulang di daerah servikal menipis dan memendek, resesi dapat terjadi pada marginal gingiva yang tipis.6
            Kesehatan jaringan gingiva juga tergantung pada disain dan penempatan bahan-bahan restorasi yang memadai. Tekanan dari gigi tiruan sebagian dengan disain buruk, seperti cengkeram gigi tiruan yang tidak tepat, dapat mengakibatkan trauma dan resesi gigiva.16 Restorasi gigi yang mengemper (overhanging) adalah faktor pendukung timbulnya gingivitis karena sebagai tempat retensi plak. Disamping itu merupakan kesepakatan umum bahwa penempatan tepi restorasi sedalam lebar biologis sulkus gingiva sering mendorong terjadinya radang gingiva, kehilangan perlekatan, dan bahkan kerusakan tulang. Secara klinis, penyimpangan terhadap lebar biologis dapat bermanifestasi sebagai radang gingiva, pendalaman poket periodontal, dan resesi gingiva.6
            Merokok kemungkinan ada kaitannya dengan resesi gingiva. Mekanismenya bersifat multifaktor, seperti aliran darah ke gingiva yang berkurang dan perubahan respon imun.17  
            Pada masa lalu, perawatan bedah periodontal terutama prosedur pemotongan seperti gingivektomi, ostektomi, dan penempatan gingival margin ke apikal, diharapkan menghasilkan pengurangan poket dan resesi gingiva. Pada kenyataannya, sering mengakibatkan penambahan resesi dan radang gingiva, ngilu pada akar, karies akar, dan komplikasi estetika (gigi memanjang).4



Pengertian Klinis
            Berbagai aspek resesi gingiva mempunyai kepentingan secara klinis. Permukaan akar terbuka rentan terhadap karies. Aberasi dan erosi sementum yang terbuka karena resesi meninggalkan permukaan dentin di bawahnya yang menimbulkan rasa ngilu. Hiperemia pulpa dan gejala yang berkaitan dapat berasal dari permukaan akar yang terbuka berlebihan. Resesi interproksimal menimbulkan masalah untuk pembersihan mulut dan mengakibatkan akumulasi plak.6

Perubahan Kontur Gingiva
            Suatu kelainan juga terjadi pada gingival margin yang disebut sebagai Stillman’s clefts dan McCall festoons. Istilah “Stillman’s clefts” digunakan untuk menguraikan jenis spesifik dari resesi gingiva yang berbentuk segitiga dan sempit. Seiring berkembangnya resesi gingiva ke arah apikal, cleft menjadi lebih lebar, hingga sementum terbuka dari permukaan akar. Jika lesi mencapai garis mukogingiva, batas apikal mukosa mulut biasanya mengalami peradangan karena sulit menjaga kontrol plak yang memadai di daerah ini. Istilah “McCall festoons” digunakan untuk menguraikan keadaan tepi gingiva yang membulat dan menebal, biasanya terlihat pada daerah gigi kaninus jika resesi mencapai garis mukogingiva. Pada mulanya, Stillman’s clefts dan McCall festoons dikaitkan dengan trauma oklusi, dan perawatan yang dianjurkan adalah penyesuaian oklusi. Tetapi kaitan ini tidak pernah dibuktikan, dan kondisi ini sekadar mewakili peradangan yang khas dari marginal gingiva.6

Klasifikasi
            Pada tahun 1960an, Sullivan dan Atkins18 mengklasifikasikan resesi gingiva menjadi 4 golongan secara morfologis: 1) dangkal-sempit, 2) dangkal-lebar, 3) dalam-sempit, 4) dalam-lebar. Klasifikasi tersebut membantu menggolongkan lesi lebih baik, tetapi tidak mampu membantu klinikus memperkirakan hasil perawatan.
Kemampuan memperkirakan keberhasilan penutupan akar dapat ditambah dengan pemeriksaan prabedah dan hubungannya dengan resesi dengan menggunakan klasifikasi yang diajukan oleh Miller19, yaitu: (I) Resesi tepi jaringan tidak meluas ke garis mukogingiva. Tidak ada kerusakan tulang ataupun jaringan lunak di daerah interdental. Jenis resesi ini dapat sempit atau lebar. (II) Resesi tepi jaringan meluas sampai atau keluar garis mukogingiva. Tidak ada kerusakan tulang ataupun jaringan lunak di daerah interdental. Jenis resesi ini dapat disubgolongkan sebagai lebar dan sempit. (III) Resesi tepi jaringan meluas sampai atau keluar garis mukogingiva. Terdapat kerusakan tulang dan jaringan lunak di daerah interdental, atau keadaan gigi malposisi. (IV) Resesi tepi jaringan meluas sampai atau keluar garis mukogingiva. Terdapat kerusakan tulang dan jaringan lunak yang parah di daerah interdental atau terdapat gigi malposisi yang parah.
            Pada umumnya prognosis untuk kelas I dan II baik dan sempurna; sedangkan untuk kelas III hanya penutupan sebagian yang dapat diharapkan. Kelas IV memiliki prognosis yang sangat buruk jika dilakukan perawatan dengan teknik yang ada sekarang ini.

PERAWATAN
Resesi gingiva yang berkaitan dengan permukaan akar terbuka merupakan fenomena komplek yang menimbulkan tantangan untuk berbagai perawatan bagi para klinikus. Resesi dapat bersama-sama dengan timbulnya karies akar dan aberasi jaringan gigi, dan penderita mungkin mengeluh mengenai estetik atau timbulnya rasa ngilu. Salah satu tujuan dari perawatan periodontal adalah memperbaiki kehilangan perlekatan jaringan pada gigi. Telah terbukti bahwa berbagai cara prosedur regenerasi jaringan periodontal berpotensi memperbaiki resesi gingiva melalui penambahan ukuran lebar dan tinggi gingiva lekat yang berkeratin, serta mencapai penutupan akar, baik secara sempurna maupun sebagian. Sebagian besar prosedur ini ini berupa teknik cangkok (graft) bedah plastik periodontal (mukogingival).20
            Berbagai teknik bedah telah diperkenalkan untuk merawat resesi gingiva, termasuk cangkok jaringan ikat (connective tissue grafting/CTG); berbagai disain flep; ortodontik; dan guided tissue regeneration (GTR). 20 Tindakan bedah diikuti dengan perawatan periodontal konvensional seperti skeling dan penghalusan akar dikombinasi dengan prosedur perawatan kontrol plak di rumah yang memadai telah menunjukkan pengurangan keradangan. Selain itu berkurangnya warna kemerahan, perdarahan, dan eksudat disertai pengerutan gingiva, dapat meningkatkan estetika gingiva.4 Sementum yang terbuka menyerap endotoksin plak bakteri dan mengalami perubahan permukaan; dengan skeling dan penghalusan akar mampu mengurangi endotoksin.21

Penambahan Gingiva ke Apikal
            Pencangkokan gingiva, baik pedicle maupun free, ditempatkan pada daerah resipien di sebelah apikal dari tepi resesi gingiva. Penutupan permukaan akar yang terbuka tidak dapat dicapai jika masih ada resesi tulang dan gingiva. Teknik penambahan gingiva ke apikal daerah resesi dapat dilakukan dengan free gingival autograft, free connective tissue autograft, andilakukan dengand apically positioned flap.22

Penambahan Gingiva ke Koronal
            Berbagai teknik dan disain flep telah digunakan untuk mendapatkan keberhasilan penutupan akar; sebagian di antaranya tidak membutuhkan jaringan donor (pedicle graft), sebagian yang lain membutuhkan (free autogenous grafts). Sering sulit mengantisipasi tingkat keberhasilan prosedur penutupan akar, karena penutupan tergantung berbagai faktor, termasuk klasifikasi dan lokasi resesi serta teknik yang digunakan. Dimensi gingiva yang paling sering dikaji adalah ketinggiannya, yaitu jarak antara tepi jaringan ikat lunak dan garis mukogingiva yang diukur dalam millimeter. Adanya penambahan tinggi gingiva dianggap berhasil dalam prosedur penambahan gingiva, tidak tergantung dari jumlah millimeter yang dicapai.23     
Graf pedicle berbeda dengan graf free autogenous soft-tissue, pada graf pedicle, dasar flep mengandung pembuluh darahnya sendiri yang memberi nutrisi pada graf dan memudahkan penetapan kembali penyatuan pembuluh darah dengan resipien. Graf pedicle dapat dicapai dengan ketebalan penuh ataupun sebagian.24
            Berikut ini teknik yang digunakan untuk penambahan gingiva ke koronal dari daerah resesi (penutupan akar): 1) Free gingival autograft, 2) free connective tissue autograft, 3) Pedicle autografts (laterally/ horizontally positioned flap, coronally positioned flap), 4) Subepithelial connective tissue grat, 5) Guided tissue regeneration (GTR), 6) Pouch and tunnel technique.22

Masker gingiva
            Resesi gingiva dapat disembunyikan dengan cara menutup daerah akar yang terbuka dengan masker yang terbuat dari bahan yang bersifat fleksibel seperti silikon. Masker ini dapat mengatasi penampilan yang estetis pada mahkota gigi depan yang mengalami resesi sehingga mahkota tampak proporsional. Pemakaian masker dilakukan setelah jaringan periodonsium selesai menjalani perawatan dan sembuh dari penyakit periodontal. Pembuatan masker dilakukan melalui teknik pencetakan dua tahap.25

Program peningkatan kapasitas kerja penduduk rentan

Program peningkatan kapasitas kerja penduduk rentan

Unknown
8:17 PM
Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan ekonomi dan produktivitas penduduk rentan yang telah memiliki pekerjaan bebas atau bekerja mandiri, bukan sebagai pegawai suatu badan usaha pemerintah atau swasta, akan tetapi hasil pekerjaannya tidak memadai. Contohnya misalnya petani, nelayan, pedagang eceran, industri rumah tangga yang dikelola oleh anggota rumah tangga sendiri tanpa melibatkan tenaga kerja dari keluarga lain, atau pemilik toko atau warung yang dikelola oleh rumah tangga. Program-program ini sebaiknya dikelola secara terpadu lintas sektor dan melibatkan pengusaha besar nasional, yang bergerak dalam bidang retail, produksi, atau distribusi bahan. Pengawasan ketat oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota merupakan keharusan dalam rangka melindungi penduduk rentan dari eksploitasi untuk membayar biaya yang akan menghambat peningkatan kapasitasnya. Program-program yang dijalankan antara lain: 

1.) Menghidupkan kembali tabungan keluarga atau kredit usaha keluarga guna meningkatkan volume usaha, yang pernah dijalankan di jaman Orde Baru oleh program kependudukan yang kemudian dikelola oleh Yayasan Mandiri. Penduduk yang memiliki usaha diwajibkan menyediakan dana pendamping sebesar 20-30% dari modal pengembangan usaha yang dibutuhkan. Jaminan atau kolateral tidak boleh diwajibkan, namun demikian, penduduk wajib membuka rekening di BPR atau di kantor bank atau kantor pos atau kantor desa yang tersedia di daerah. Karena program ini akan melibatkan dana bergulir yang besar, maka pengawasan dana dan bantuan teknis pemerintah pusat atau pemerintah provinsi agar dana bergulir menjadi besar, mutlak diperlukan. Penegakan hukum atas penyimpangan, yang dirumuskan dan dilakukan secara terbuka oleh para anggota, harus dijalankan dengan tegas, agar program dapat berjalan untuk masa puluhan atau ratusan tahun. Penduduk rentan harus diberdayakan dan dibudayakan memberikan sangsi efektif dan tegas atas pelanggaran yang merugikan kelompok. Menyediakan pelatihan manajemen uang, manajemen industri kecil, manajemen pemasaran, manajemen teknis (misalnya pertanian tertentu, beternak udang, menanam rumput latu, atau teknik menangkap ikan), dan manajemen masa depan yang
Proses Terbentuknya Ilmu Pengetahuan

Proses Terbentuknya Ilmu Pengetahuan

Unknown
5:14 PM

a) Syarat-syarat Ilmu Pengetahuan Ilmiah 

Agar dapat diuraikan proses terbentuknya ilmu pengetahuan ilmiah, perlu terlebih dahulu diuraikan syarat-syarat ilmu pengetahuan ilmiah. 

Menurut Karlina Supeli Laksono dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan (Epsitomologi) pada Pascasarjana Universitas Indonesia tahun 1998/1999, ilmu pengetahuan ilmiah harus memenuhi tiga syarat, yaitu: 

1) Sistematik; yaitu merupakan kesatuan teori-teori yang tersusun sebagai suatu sistem. 

2) Objektif; atau dikatakan pula sebagai intersubjektif, yaitu teori tersebut terbuka untuk diteliti oleh orang lain/ahli lain, sehingga hasil penelitian bersifat universal. 

3) Dapat dipertanggungjawabkan; yaitu mengandung kebenaran yang bersifat universal, dengan kata lain dapat diterima oleh orang-orang lain/ahli-ahli lain. Tiga syarat ilmu pengetahuan tersebut telah diuraikan secara lengkap pada sub bab di atas. 

Pandangan ini sejalan dengan pandangan Parsudi Suparlan yang menyatakan bahwa Metode Ilmiah adalah suatu kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Selanjutnya dinyatakan bahwa penelitian ilmiah dilakukan dengan berlandaskan pada metode ilmiah. Sedangkan penelitian ilmiah harus dilakukan secara sistematik dan objektif (Suparlan P., 1994). Penelitian ilmiah sebagai pelaksanaan metode ilmiah harus sestematik dan objektif, sedang metode ilmiah merupakan suatu kerangka bagi terciptanya ilmu pengetahuan ilmiah. Maka jelaslah bahwa ilmu pengetahuan juga mempersyaratkan sistematik dan objektif. 

Sebuah teori pada dasarnya merupakan bagian utama dari metode ilmiah. Suatu kerangka teori menyajikan cara-cara mengorganisasikan dan menginterpretasi-kan hasil-hasil penelitian, dan menghubungkannya dengan hasil-hasil penelitian yang dibuat sebelumnya. Jadi peranan metode ilmiah adalah untuk menghubungkan penemuan-penemuan ilmiah dari waktu dan tempat yang berbeda. Ini berarti peranan metode ilmiah melandasi corak pengetahuan ilmiah yang sifatnya akumulatif. Dari uraian tersebut di atas dapatlah dikatakan bahwa proses terbentuknya ilmu pengetahuan ilmiah melalui metode ilmiah yang dilakukan dengan penelitian-penelitian ilmiah. 

Pembentukan ilmu pengetahuan ilmiah pada dasarnya merupakan bagian yang penting dari metode ilmiah. Suatu ilmu pengetahuan ilmiah menyajikan cara-cara pengorganisasian dan penginterpretasian hasil-hasil penelitian, dan menghubungkannya dengan hasil-hasil penelitian yang dibuat sebelumnya oleh peneliti lain. Ini berarti bahwa ilmu pengetahuan ilmiah merupakan suatu proses akumulasi dari pengetahuan. Di sini peranan metode ilmiah penting yaitu menghubungkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah dari waktu dan tempat yang berbeda. Walaupun dalam ilmu pengetahuan alam (sains) metode ilmiah menekankan metode induktif guna mengadakan generalisasi atas fakta-fakta khusus dalam rangka penelitian, penciptaan teori dan verifikasi, tetapi dalam ilmu-ilmu sosial, baik metode induktif maupun deduktif sama-sama penting. Walaupun fakta-fakta empirik itu penting peranannya dalam metode ilmiah namun kumpulan fakta itu sendiri tidak menciptakan teori atau ilmu pengetahuan (Suparlan P., 1994). Jadi jelaslah bahwa ilmu pengetahuan bukan merupakan kumpulan pengetahuan atau kumpulan fakta-fakta empirik. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena fakta-fakta empirik itu sendiri agar mempunyai makna, fakta-fakta tersebut harus ditata, diklasifikasi, dianalisis, digeneralisasi berdasarkan metode yang berlaku serta dikaitkan dengan fakta yang satu dengan yang lain. 

Dalam ilmu-ilmu sosial prinsip objektivitas merupakan prinsip utama dalam metode ilmiahnya. Hal ini disebabkan ilmu sosial berhubungan dengan kegiatan manusia sebagai mahluk sosial dan budaya sehingga tidak terlepas adanya hubungan perasaan dan emosional antara peneliti dengan pelaku yang diteliti. 

Untuk menjaga objektivitas metode ilmiah dalam ilmu-ilmu sosial berlaku prinsip-prinsip sebagai berikut: 

a) Ilmuwan harus mendekati sasaran kajiannya dengan penuh keraguan dan skeptis. 

b) Ilmuwan harus objektif yaitu membebaskan dirinya dari sikap, keinginan, kecenderungan untuk menolak, atau menyukai data yang dikumpulkan. 

c) Ilmuwan harus bersikap netral, yaitu dalam melakukan penilaian terhadap hasil penemuannya harus terbebas dari nilai-nilai budayanya sendiri. Demikian pula dalam membuat kesimpulan atas data yang dikumpulkan jangan dianggap sebagai data akhir, mutlak, dan merupakan kebenaran universal (Suparlan P., 1994). 

Sedang pelaksanaan penelitian yang berpedoman pada metode ilmiah hendaknya memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 

a) Prosedur penelitian harus terbuka untuk diperiksa oleh peneliti lainnya. 

b) Definisi-definisi yang dibuat adalah benar dan berdasarkan konsep-konsep dan teori-teori yang sudah ada/baku. 

c) Pengumpulan data dilakukan secara objektif, yaitu dengan menggunakan metode-metode penelitian ilmiah yang baku. 

d) Hasil-hasil penemuannya akan ditentukan ulang oleh peneliti lain bila sasaran, masalah, pendekatan, dan prosedur penelitiannya sama (Suparlan P., 1994). 



b) Metode Penelitian Ilmiah 

Pada dasarnya metode penelitian ilmiah untuk ilmu-ilmu sosial dapat dibedakan menjadi dua golongan pendekatan, yaitu: (1) pendekatan kuantitatif; (2) pendekatan kualitatif. 

1) Pendekatan Kuantitatif 

Landasan berpikir dari pendekatan kuantitatif adalah filsafat positivisme yang dikembangkan pertama kali oleh Emile Durkheim (1964). Pandangan dari filsafat positivisme ini yaitu bahwa tindakan-tindakan manusia terwujud dalam gejala-gejala sosial yang disebut fakta-fakta sosial. Fakta-fakta sosial tersebut harus dipelajari secara objektif, yaitu dengan memandangnya sebagai benda, seperti benda dalam ilmu pengetahuan alam. 

Caranya dengan melakukan observasi atau mengamati sesuatu fakta sosial, untuk melihat kecenderungan-kecenderungannya, menghubungkan dengan fakta-fakta sosial lainnya, dengan demikian kecenderungan-kecenderungan suatu fakta sosial tersebut dapat diidentifikasi. Penggunaan data kuantitatif diperlukan dalam analisa yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya demi tercapainya ketepatan data dan ketepatan penggunaan model hubungan variabel bebas dan variabel tergantung (Suparlan P., 1997). 

2) Pendekatan Kualitatif 

Landasan berpikir dalam pendekatan kualitatif adalah pemikiran Max Weber (1997) yang menyatakan bahwa pokok penelitian sosiologi bukan hanya gejala-gejala sosial, tetapi juga dan terutama makna-makna yang terdapat di balik tindakan-tindakan perorangan yang mendorong terwujudnya gejala-gejala sosial tersebut. Oleh karena itu, metode yang utama dalam sosiologi dari Max Weber adalah Verstehen atau pemahaman (jadi bukan Erklaren atau penjelasan). Agar dapat memahami makna yang ada dalam suatu gejala sosial, maka seorang peneliti harus dapat berperan sebagai pelaku yang ditelitinya, dan harus dapat memahami para pelaku yang ditelitinya agar dapat mencapai tingkat pemahaman yang sempurna mengenai makna-makna yang terwujud dalam gejala-gejala sosial yang diamatinya (Suparlan P., 1997).
Beda Ilmu Pengetahuan dan Pengetahuan

Beda Ilmu Pengetahuan dan Pengetahuan

Unknown
5:13 PM
a. Pendahuluan 

Ilmu pengetahuan (science) mempunyai pengertian yang berbeda dengan pengetahuan (knowledge atau dapat juga disebut common sense). Orang awam tidak memahami atau tidak menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu berbeda dengan pengetahuan. Bahkan mugkin mereka menyamakan dua pengertian tersebut. Tentang perbedaan antara ilmu pengetahuan dan pengetahuan akan dicoba dibahas disini. 

Mempelajari apa itu ilmu pengetahuan itu berarti mempelajari atau membahas esensi atau hakekat ilmu pengetahuan. Demikian pula membahas pengetahuan itu juga berarti membahas hakekat pengetahuan. Untuk itu kita perlu memahami serba sedikit Filsafat Ilmu Pengetahuan. Dengan mempelajari Filsafat Ilmu Pengetahuan di samping akan diketahui hakekat ilmu pengetahuan dan hakekat pengetahuan, kita tidak akan terbenam dalam suatu ilmu yang spesifik sehingga makin menyempit dan eksklusif. Dengan mempelajari filsafat ilmu pengetahuan akan membuka perspektif (wawasan) yang luas, sehingga kita dapat menghargai ilmu-ilmu lain, dapat berkomunikasi dengan ilmu-ilmu lain. Dengan demikian kita dapat mengembangkan ilmu pengetahuan secara interdisipliner. Sebelum kita membahas hakekat ilmu pengetahuan dan perbedaannya dengan pengetahuan, terlebih dahulu akan dikemukakan serba sedikit tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. 

b. Perkembangan Ilmu Pengetahuan 

Mempelajari sejarah ilmu pengetahuan itu penting, karena dengan mempelajari hal tersebut kita dapat mengetahui tahap-tahap perkembangannya. Ilmu pengetahuan tidak langsung terbentuk begitu saja, tetapi melalui proses, melalui tahap-tahap atau periode-periode perkembangan. 

a) Periode Pertama (abad 4 sebelum Masehi) 

Perintisan “Ilmu pengetahuan” dianggap dimulai pada abad 4 sebelum Masehi, karena peninggalan-peninggalan yang menggambarkan ilmu pengetahuan diketemukan mulai abad 4 sebelum Masehi. Abad 4 sebelum Masehi merupakan abad terjadinya pergeseran dari persepsi mitos ke persepsi logos, dari dongeng-dongeng ke analisis rasional. Contoh persepsi mitos adalah pandangan yang beranggapan bahwa kejadian-kejadian misalnya adanya penyakit atau gempa bumi disebabkan perbuatan dewa-dewa. Jadi pandangan tersebut tidak bersifat rasional, sebaliknya persepsi logos adalah pandangan yang bersifat rasional. Dalam persepsi mitos, dunia atau kosmos dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan magis, mistis. Atau dengan kata lain, dunia dijelaskan oleh faktor-faktor luar (eksternal). Sedang dalam persepsi rasional, dunia dianalisis dari faktor-faktor dalam (internal). Atau dengan kata lain, dunia dianalisis dengan argumentasi yang dapat diterima secara rasional atau akal sehat. Analisis rasional ini merupakan perintisan analisis secara ilmiah, tetapi belum dapat dikatakan ilmiah. 

Pada periode ini tokoh yang terkenal adalah Aristoteles. Persepsi Aristoteles tentang dunia adalah sebagai berikut: dunia adalah ontologis atau ada (eksis). Sebelum Aristoteles dunia dipersepsikan tidak eksis, dunia hanya menumpang keberadaan dewa-dewa. Dunia bukan dunia riil, yang riil adalah dunia ide. Menurut Aristoteles, dunia merupakan substansi, dan ada hirarki substansi-substansi. Substansi adalah sesuatu yang mandiri, dengan demikian dunia itu mandiri. Setiap substansi mempunyai struktur ontologis. Dalam struktur ontologis terdapat 2 prinsip, yaitu: 1) Akt: menunjukkan prinsip kesempurnaan (realis); 2) Potensi: menunjukkan prinsip kemampuannya, kemungkinannya (relatif). Setiap benda sempurna dalam dirinya dan mempunyai kemungkinan untuk mempunyai kesempurnaan. Perubahan terjadi bila potensi berubah, dan perubahan tersebut direalisasikan. 


Pandangan Aristoteles yang dapat dikatakan sebagai awal dari perintisan “ilmu pengetahuan” adalah hal-hal sebagai berikut: 

1) Hal Pengenalan 

Menurut Aristoteles terdapat dua macam pengenalan, yaitu: (1) pengenalan inderawi; (2) pengenalan rasional. Menurut Aristoteles, pengenalan inderawi memberi pengetahuan tentang hal-hal yang kongkrit dari suatu benda. Sedang pengenalan rasional dapat mencapai hakekat sesuatu, melalui jalan abstraksi. 

2) Hal Metode 

Selanjutnya, menurut Aristoteles, “ilmu pengetahuan” adalah pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau hukum-hukum bukan objek-objek eksternal atau fakta. Penggunaan prinsip atau hukum berarti berargumentasi (reasoning). Menurut Aristoteles, mengembangkan “ilmu pengetahuan” berarti mengembangkan prinsip-prinsip, mengembangkan “ilmu pengetahuan” (teori) tidak terletak pada akumulasi data tetapi peningkatan kualitas teori dan metode. Selanjutnya, menurut Aristoteles, metode untuk mengembangkan “ilmu pengetahuan” ada dua, yaitu: (1) induksi intuitif yaitu mulai dari fakta untuk menyusun hukum (pengetahuan universal); (2) deduksi (silogisme) yaitu mulai dari pengetahuan universal menuju fakta-fakta. 



b) Periode Kedua (abad 17 sesudah Masehi) 

Pada periode yang kedua ini terjadi revolusi ilmu pengetahuan karena adanya perombakan total dalam cara berpikir. Perombakan total tersebut adalah sebagai berikut: 

Apabila Aristoteles cara berpikirnya bersifat ontologis rasional, Gallileo Gallilei (tokoh pada awal abad 17 sesudah Masehi) cara berpikirnya bersifat analisis yang dituangkan dalam bentuk kuantitatif atau matematis. Yang dimunculkan dalam berfikir ilmiah Aristoteles adalah berpikir tentang hakekat, jadi berpikir metafisis (apa yang berada di balik yang nampak atau apa yang berada di balik fenomena). 


Gambar 9 : Gallileo Gallilei 

Abad 17 meninggalkan cara berpikir metafisis dan beralih ke elemen-elemen yang terdapat pada sutau benda, jadi tidak mempersoalkan hakikat. Dengan demikian bukan substansi tetapi elemen-elemen yang merupakan kesatuan sistem. Cara berpikir abad 17 mengkonstruksi suatu model yaitu memasukkan unsur makro menjadi mikro, mengkonstruksi suatu model yang dapat diuji coba secara empiris, sehingga memerlukan adanya laboratorium. Uji coba penting, untuk itu harus membuat eksperimen. Ini berarti mempergunakan pendekatan matematis dan pendekatan eksperimental. Selanjutnya apabila pada jaman Aristoteles ilmu pengetahuan bersifat ontologis, maka sejak abad 17, ilmu pengetahuan berpijak pada prinsip-prinsip yang kuat yaitu jelas dan terpilah-pilah (clearly and distinctly) serta disatu pihak berpikir pada kesadaran, dan pihak lain berpihak pada materi. Prinsip jelas dan terpilah-pilah dapat dilihat dari pandangan Rene Descartes (1596-1650) dengan ungkapan yang terkenal, yaitu Cogito Ergo Sum, yang artinya karena aku berpikir maka aku ada. Ungkapan Cogito Ergo Sum adalah sesuatu yang pasti, karena berpikir bukan merupakan khayalan. Suatu yang pasti adalah jelas dan terpilah-pilah. Menurut Descartes pengetahuan tentang sesuatu bukan hasil pengamatan melainkan hasil pemeriksaan rasio (dalam Hadiwijono, 1981). Pengamatan merupakan hasil kerja dari indera (mata, telinga, hidung, dan lain sebagainya), oleh karena itu hasilnya kabur, karena ini sama dengan pengamatan binatang. Untuk mencapai sesuatu yang pasti menurut Descartes kita harus meragukan apa yang kita amati dan kita ketahui sehari-hari. Pangkal pemikiran yang pasti menurut Descartes dikemukakan melalui keragu-raguan. Keragu-raguan menimbulkan kesadaran, kesadaran ini berada di samping materi. Prinsip ilmu pengetahuan satu pihak berpikir pada kesadaran dan pihak lain berpijak pada materi juga dapat dilihat dari pandangan Immanuel Kant (1724-1808). Menurut Immanuel Kant ilmu pengetahuan itu bukan merupakan pangalaman terhadap fakta saja, tetapi merupakan hasil konstruksi oleh rasio. 

Agar dapat memahami pandangan Immanuel Kant tersebut perlu terlebih dahulu mengenal pandangan rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur-unsur apriori dalam pengenalan, berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman. Sedangkan empirisme menekankan unsur-unsur aposteriori, berarti unsur-unsur yang berasal dari pengalaman. Menurut Immanuel Kant, baik rasionalisme maupun empirisme dua-duanya berat sebelah. Ia berusaha menjelaskan bahwa pengenalan manusia merupakan keterpaduan atau sintesa antara unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori (dalam Bertens, 1975). Oleh karena itu Kant berpendapat bahwa pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek. Sehingga dapat dikatakan menurut Kant ilmu pengetahuan bukan hasil pengalaman saja, tetapi hasil konstruksi oleh rasio. 

Inilah pandangan Rene Descartes dan Immanuel Kant yang menolak pandangan Aristoteles yang bersifat ontologis dan metafisis. Banyak tokoh lain yang meninggalkan pandangan Aristoteles, namun dalam makalah ini cukup mengajukan dua tokoh tersebut, kiranya cukup untuk menggambarkan adanya pemikiran yang revolusioner dalam perkembangan ilmu pengetahuan. 


c. Perbedaan Ilmu Pengetahuan dengan Pengetahuan 

Terdapat beberapa definisi ilmu pengetahuan, di antaranya adalah: 

a) Ilmu pengetahuan adalah penguasaan lingkungan hidup manusia. 

Definisi ini tidak diterima karena mencampuradukkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

b) Ilmu pengetahuan adalah kajian tentang dunia material. 

Definisi ini tidak dapat diterima karena ilmu pengetahuan tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat materi. 

c) Ilmu pengetahuan adalah definisi eksperimental. 

Definisi ini tidak dapat diterima karena ilmu pengetahuan tidak hanya hasil/metode eksperimental semata, tetapi juga hasil pengamatan, wawancara. Atau dapat dikatakan definisi ini tidak memberikan tali pengikat yang kuat untuk menyatukan hasil eksperimen dan hasil pengamatan (Ziman J. dalam Qadir C.A., 1995). 

d) Ilmu pengetahuan dapat sampai pada kebenaran melalui kesimpulan logis dari pengamatan empiris. 

Definisi ini mempergunakan metode induksi yaitu membangun prinsip-prinsip umum berdasarkan berbagai hasil pengamatan. Definisi ini memberikan tempat adanya hipotesa, sebagai ramalan akan hasil pengamatan yang akan datang. Definisi ini juga mengakui pentingnya pemikiran spekulatif atau metafisik selama ada kesesuaian dengan hasil pengamatan. Namun demikian, definisi ini tidak bersifat hitam atau putih. Definisi ini tidak memberi tempat pada pengujian pengamatan dengan penelitian lebih lanjut. 

Kebenaran yang disimpulkan dari hasil pengamatan empiris hanya berdasarkan kesimpulan logis berarti hanya berdasarkan kesimpulan akal sehat. Apabila kesimpulan tersebut hanya merupakan akal sehat, walaupun itu berdasarkan pengamatan empiris, tetap belum dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan tetapi masih pada taraf pengetahuan. Ilmu pengetahuan bukanlah hasil dari kesimpulan logis dari hasil pengamatan, namun haruslah merupakan kerangka konseptual atau teori yang memberi tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh ahli-ahli lain dalam bidang yang sama, dengan demikian diterima secara universal. Ini berarti terdapat adanya kesepakatan di antara para ahli terhadap kerangka konseptual yang telah dikaji dan diuji secara kritis atau telah dilakukan penelitian atau percobaan terhadap kerangka konseptual tersebut. 

Berdasarkan pemahaman tersebut maka pandangan yang bersifat statis ekstrim, maupun yang bersifat dinamis ekstrim harus kita tolak. Pandangan yang bersifat statis ekstrim menyatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan cara menjelaskan alam semesta di mana kita hidup. Ini berarti ilmu pengetahuan dianggap sebagai pabrik pengetahuan. Sementara pandangan yang bersifat dinamis ekstrim menyatakan ilmu pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadi dasar munculnya kegiatan lebih lanjut. Jadi ilmu pengetahuan dapat diibaratkan dengan suatu laboratorium. Bila kedua pandangan ekstrim tersebut diterima, maka ilmu pengetahuan akan hilang musnah, ketika pabrik dan laboratorium tersebut ditutup. 

Ilmu pengetahuan bukanlah kumpulan pengetahuan semesta alam atau kegiatan yang dapat dijadikan dasar bagi kegiatan yang lain, tetapi merupakan teori, prinsip, atau dalil yang berguna bagi pengembangan teori, prinsip, atau dalil lebih lanjut, atau dengan kata lain untuk menemukan teori, prinsip, atau dalil baru. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dapat didefinisikan sebagai berikut: 

Ilmu pengetahuan adalah rangkaian konsep dan kerangka konseptual yang saling berkaitan dan telah berkembang sebagai hasil percobaan dan pengamatan yang bermanfaat untuk percobaan lebih lanjut (Ziman J. dalam Qadir C.A., 1995). Pengertian percobaan di sini adalah pengkajian atau pengujian terhadap kerangka konseptual, ini dapat dilakukan dengan penelitian (pengamatan dan wawancara) atau dengan percobaan (eksperimen). 

Selanjutnya John Ziman menjelaskan bahwa definisi tersebut memberi tekanan pada makna manfaat, mengapa? Kesahihan gagasan baru dan makna penemuan eksperimen baru atau juga penemuan penelitian baru (menurut penulis) akan diukur hasilnya yaitu hasil dalam kaitan dengan gagasan lain dan eksperimen lain. Dengan demikian ilmu pengetahuan tidak dipahami sebagai pencarian kepastian, melainkan sebagai penyelidikan yang berhasil hanya sampai pada tingkat yang bersinambungan (Ziman J. dalam Qadir C.A., 1995). 

Bila kita analisis lebih lanjut perlu dipertanyakan mengapa definisi ilmu pengetahuan di atas menekankan kemampuannya untuk menghasilkan percobaan baru, berarti juga menghasilkan penelitian baru yang pada gilirannya menghasilkan teori baru dan seterusnya – berlangsung tanpa berhenti. Mengapa ilmu pengetahuan tidak menekankan penerapannya? Seperti yang dilakukan para ahli fisika dan kimia yang hanya menekankan pada penerapannya yaitu dengan mempertanyakan bagaimana alam semesta dibentuk dan berfungsi? Bila hanya itu yang menjadi penekanan ilmu pengetahuan, maka apabila pertanyaan itu sudah terjawab, ilmu pengetahuan itu akan berhenti. Oleh karena itu, definisi ilmu pengetahuan tidak berorientasi pada penerapannya melainkan pada kemampuannya untuk menghasilkan percobaan baru atau penelitian baru, dan pada gilirannya menghasilkan teori baru. 

Para ahli fisika dan kimia yang menekankan penerapannya pada hakikatnya bukan merupakan ilmu pengetahuan, tetapi merupakan akal sehat (common sense). Selanjutnya untuk membedakan hasil akal sehat dengan ilmu pengetahuan William James yang menyatakan hasil akal sehat adalah sistem perseptual, sedang hasil ilmu pengetahuan adalah sistem konseptual (Conant J. B. dalam Qadir C. A., 1995). Kemudian bagaimana cara untuk memantapkan atau mengembangkan ilmu pengetahuan? Berdasarkan definisi ilmu pengetahuan tersebut di atas maka pemantapan dilakukan dengan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan. 

Perlu dipertanyakan pula bagaimana hubungan antara akal sehat yang menghasilkan perseptual dengan ilmu pengetahuan sebagai konseptual. Jawabannya adalah akal sehat yang menghasilkan pengetahuan merupakan premis bagi pengetahuan eksperimental (Conant, J.B. dalam Qadir C.A., 1995). Ini berarti pengetahuan merupakan masukan bagi ilmu pengetahuan, masukan tersebut selanjutnya diterima sebagai masalah untuk diteliti lebih lanjut. Hasil penelitian dapat berbentuk teori baru. 

Sedangkan Ernest Nagel secara rinci membedakan pengetahuan (common sense) dengan ilmu pengetahuan (science). 

Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut: 

1) Dalam common sense informasi tentang suatu fakta jarang disertai penjelasan tentang mengapa dan bagaimana. Common sense tidak melakukan pengujian kritis hubungan sebab-akibat antara fakta yang satu dengan fakta lain. Sedang dalam science di samping diperlukan uraian yang sistematik, juga dapat dikontrol dengan sejumlah fakta sehingga dapat dilakukan pengorganisasian dan pengklarifikasian berdasarkan prinsip-prinsip atau dalil-dalil yang berlaku. 

2) Ilmu pengetahuan menekankan ciri sistematik. 

Penelitian ilmiah bertujuan untuk mendapatkan prinsip-prinsip yang mendasar dan berlaku umum tentang suatu hal. Artinya dengan berpedoman pada teori-teori yang dihasilkan dalam penelitian-penelitian terdahulu, penelitian baru bertujuan untuk menyempurnakan teori yang telah ada yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Sedang common sense tidak memberikan penjelasan (eksplanasi) yang sistematis dari berbagai fakta yang terjalin. Di samping itu, dalam common sense cara pengumpulan data bersifat subjektif, karena common sense sarat dengan muatan-muatan emosi dan perasaan. 

3) Dalam menghadapi konflik dalam kehidupan, ilmu pengetahuan menjadikan konflik sebagai pendorong untuk kemajuan ilmu pengetahuan. 

Ilmu pengetahuan berusaha untuk mencari, dan mengintroduksi pola-pola eksplanasi sistematik sejumlah fakta untuk mempertegas aturan-aturan. Dengan menunjukkan hubungan logis dari proposisi yang satu dengan lainnya, ilmu pengetahuan tampil mengatasi konflik. 

4) Kebenaran yang diakui oleh common sense bersifat tetap, sedang kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu diusik oleh pengujian kritis. Kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu dihadapkan pada pengujian melalui observasi maupun eksperimen dan sewaktu-waktu dapat diperbaharui atau diganti. 

5) Perbedaan selanjutnya terletak pada segi bahasa yang digunakan untuk memberikan penjelasan pengungkapan fakta. Istilah dalam common sense biasanya mengandung pengertian ganda dan samar-samar. Sedang ilmu pengetahuan merupakan konsep-konsep yang tajam yang harus dapat diverifikasi secara empirik. 

6) Perbedaan yang mendasar terletak pada prosedur. 

Ilmu pengetahuan berdasar pada metode ilmiah. Dalam ilmu pengetahuan alam (sains), metoda yang dipergunakan adalah metoda pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedang ilmu sosial dan budaya juga menggunakan metode pengamatan, wawancara, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Dalam common sense cara mendapatkan pengetahuan hanya melalui pengamatan dengan panca indera. 

Dari berbagai uraian berdasarkan pandangan tokoh-tokoh tersebut dapatlah dikatakan: ilmu pengetahuan adalah kerangka konseptual atau teori uang saling berkaitan yang memberi tempat pengkajian dan pengujian secara kritis dengan metode ilmiah oleh ahli-ahli lain dalam bidang yang sama, dengan demikian bersifat sistematik, objektif, dan universal. 

Sedang pengetahuan adalah hasil pengamatan yang bersifat tetap, karena tidak memberikan tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh orang lain, dengan demikian tidak bersifat sistematik dan tidak objektif serta tidak universal.

Cara Kerja Ilmu Pengetahuan Ilmiah

Unknown
5:11 PM
Cara kerja Ilmu Pengetahuan Ilmiah untuk mendapatkan kebenaran oleh Karl Popper disebut Siklus Empiris, yang dapat digambarkan sebagai berikut: 

Keterangan Gambar: 

Gambar dapat dibedakan menjadi 2 (dua) komponen, yaitu: 

1) Komponen Informasi, yang terdiri dari: 

a. Problem 

b. Teori 

c. Hipotesis 

d. Observasi 

e. Generalisasi Empiris 



Komponen Informasi digambarkan dengan kotak. 

2) Komponen langkah-langkah Metodologis, yang terdiri 6 (enam) langkah metodologis, yaitu: 

a. Inferensi logis 

b. Deduksi logis 

c. Interpretasi, instrumentasi, penetapan sampel, penyusun skala. 

d. Pengukuran, penyimpulan sampel, estimasi parameter. 

e. Pengujian hipotesis. 

f. Pembentukan konsep, pembentukan dan penyusunan proposisi. 

Langkah Metodologis digambarkan dengan elips. 



Penjelasan tentang langkah-langkah Metodologis adalah sebagai berikut: 
Langkah pertama. Ada masalah yang harus dipecahkan. Seluruh langkah ini (5 langkah) oleh Popper disebut Epistomology Problem Solving. Untuk pemecahan masalah tersebut diperlukan kajian pustaka (inferensi logis) guna mendapatkan teori-teori yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah. 
Langkah kedua. Selanjutnya dari teori disusun hipotesis. Untuk menyusun hipotesis diperlukan metode deduksi logis. 
Langkah ketiga. Untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis perlu adanya observasi. Sebelum melakukan observasi perlu melakukan interpretasi teori yang digunakan sebagai landasan penyusunan hipotesis dalam penelitian adalah penyusunan kisi-kisi/dimensi-dimensi, kemudian penyusunan instrumen pengumpulan data, penetapan sampel dan penyusunan skala. 
Langkah keempat. Setelah observasi, selanjutnya melakukan pengukuran (assessment), penetapan sampel, estimasi kriteria (parameter estimation). Langkah tersebut dilakukan guna mendapatkan generalisasi empiris (empirical generalization). 
Langkah kelima. Generalisasi emperis tersebut pada hakekatnya merupakan hasil pembuktian hipotesis. Apabila hipotesis benar akan memperkuat teori (verifikasi). Apabila hipotesis tidak terbukti akan memperlemah teori (falsifikasi). 
Langkah keenam. Hasil dari generalisasi empiris tersebut dipergunakan sebagai bahan untuk pembentukan konsep, pembentukan proposisi. Pembentukan atau penyusunan proposisi ini dipergunakan untuk memperkuat atau memantapkan teori, atau menyusun teori baru apabila hipotesis tidak terbukti.
 Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan Ilmiah

Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan Ilmiah

Unknown
5:05 PM
Filsafat Ilmu Pengetahuan merupakan cabang filsafat yang menelaah baik ciri-ciri ilmu pengetahuan ilmiah maupun cara-cara memperoleh ilmu pengetahuan ilmiah. Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan Ilmiah adalah sebagai berikut: 

1) Sistematis. 

Ilmu pengetahuan ilmiah bersifat sistematis artinya ilmu pengetahuan ilmiah dalam upaya menjelaskan setiap gejala selalu berlandaskan suatu teori. Atau dapat dikatakan bahwa teori dipergunakan sebagai sarana untuk menjelaskan gejala dari kehidupan sehari-hari. Tetapi teori itu sendiri bersifat abstrak dan merupakan puncak piramida dari susunan tahap-tahap proses mulai dari persepsi sehari-hari/ bahasa sehari-hari, observasi/konsep ilmiah, hipotesis, hukum dan puncaknya adalah teori. 

Ciri-ciri yang sistematis dari ilmu pengetahuan ilmiah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

a) Persepsi sehari-hari (bahasa sehari-hari). 

Dari persepsi sehari-hari terhadap fenomena atau fakta yang biasanya disampaikan dalam bahasa sehari-hari diobservasi agar dihasilkan makna. Dari observasi ini akan dihasilkan konsep ilmiah. 

b) Observasi (konsep ilmiah). 

Untuk memperoleh konsep ilmiah atau menyusun konsep ilmiah perlu ada definisi. Dalam menyusun definisi perlu diperhatikan bahwa dalam definisi tidak boleh terdapat kata yang didefinisikan. Terdapat 2 (dua) jenis definisi, yaitu: 1) definisi sejati, 2) definisi nir-sejati. 

Definisi sejati dapat diklasifikasikan dalam: 

1) Definisi Leksikal. Definisi ini dapat ditemukan dalam kamus, yang biasanya bersifat deskriptif. 

2) Definisi Stipulatif. Definisi ini disusun berkaitan dengan tujuan tertentu. Dengan demikian tidak dapat dinyatakan apakah definisi tersebut benar atau salah. Benar atau salah tidak menjadi masalah, tetapi yang penting adalah konsisten (taat asas). Contoh adalah pernyataan dalam Akta Notaris: Dalam Perjanjian ini si A disebut sebagai Pihak Pertama, si B disebut sebagai Pihak Kedua. 

3) Definisi Operasional. Definisi ini biasanya berkaitan dengan pengukuran (assessment) yang banyak dipergunakan oleh ilmu pengetahuan ilmiah. Definisi ini memiliki kekurangan karena seringkali apa yang didefinisikan terdapat atau disebut dalam definisi, sehingga terjadi pengulangan. Contoh: ”Yang dimaksud inteligensi dalam penelitian ini adalah kemampuan seseorang yang dinyatakan dengan skor tes inteligensi”. 

4) Definisi Teoritis. Definisi ini menjelaskan sesuatu fakta atau fenomena atau istilah berdasarkan teori tertentu. Contoh: Untuk mendefinisikan Superego, lalu menggunakan teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. 

Definisi nir-sejati dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu: 

1) Definisi Ostensif. Definisi ini menjelaskan sesuatu dengan menunjuk barangnya. Contoh: Ini gunting. 

2) Definisi Persuasif. Definisi yang mengandung pada anjuran (persuasif). Dalam definisi ini terkandung anjuran agar orang melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Contoh: ”Membunuh adalah tindakan menghabisi nyawa secara tidak terpuji”. Dalam definisi tersebut secara implisit terkandung anjuran agar orang tidak membunuh, karena tidak baik (berdosa menurut Agama apapun). 

c) Hipotesis 

Dari konsep ilmiah yang merupakan pernyataan-pernyataan yang mengandung informasi, 2 (dua) pernyataan digabung menjadi proposisi. Proposisi yang perlu diuji kebenarannya disebut hipotesis. 

d) Hukum 

Hipotesis yang sudah diuji kebenarannya disebut dalil atau hukum. 

e) Teori 

Keseluruhan dalil-dalil atau hukum-hukum yang tidak bertentangan satu sama lain serta dapat menjelaskan fenomena disebut teori. 

2) Dapat dipertanggungjawabkan. 

Ilmu pengetahuan ilmiah dapat dipertanggungjawabkan melalui 3 (tiga) macam sistem, yaitu: 

a) Sistem axiomatis 

Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu fenomena atau gejala sehari-hari mulai dari kaidah atau rumus umum menuju rumus khusus atau konkret. Atau mulai teori umum menuju fenomena/gejala konkret. Cara ini disebut deduktif-nomologis. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu-ilmu formal, misalnya matematika. 

b) Sistem empiris 

Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu teori mulai dari gejala/ fenomena khusus menuju rumus umum atau teori. Jadi bersifat induktif dan untuk menghasilkan rumus umum digunakan alat bantu statistik. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu pengetahuan alam dan sosial. 

c) Sistem semantik/linguistik 

Dalam sistem ini kebenaran didapatkan dengan cara menyusun proposisi-proposisi secara ketat. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu bahasa (linguistik). 


3) Objektif atau intersubjektif 

Ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat mandiri atau milik orang banyak (intersubjektif). Ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat otonom dan mandiri, bukan milik perorangan (subjektif) tetapi merupakan konsensus antar subjek (pelaku) kegiatan ilmiah. Dengan kata lain ilmu pengetahuan ilmiah itu harus ditopang oleh komunitas ilmiah.
 Sumber ilmu pengetahuan itu dari mana.

Sumber ilmu pengetahuan itu dari mana.

Unknown
5:03 PM
Sumber ilmu pengetahuan mempertanyakan dari mana ilmu pengetahuan itu diperoleh. Ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman (emperi) dan dari akal (ratio). Sehingga timbul faham atau aliran yang disebut empirisme dan rasionalisme. Aliran empirisme yaitu faham yang menyusun teorinya berdasarkan pada empiri atau pengalaman. Tokoh-tokoh aliran ini misalnya David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704), Berkley. Sedang rasionalisme menyusun teorinya berdasarkan ratio. Tokoh-tokoh aliran ini misalya Spinoza, Rene Descartes. Metode yang digunakan aliran emperisme adalah induksi, sedang rasionalisme menggunakan metode deduksi. Immanuel Kant adalah tokoh yang mensintesakan faham empirisme dan rasionalisme. 

2) Batas-batas Ilmu Pengetahuan. 

Menurut Immanuel Kant apa yang dapat kita tangkap dengan panca indera itu hanya terbatas pada gejala atau fenomena, sedang substansi yang ada di dalamnya tidak dapat kita tangkap dengan panca indera disebut nomenon. Apa yang dapat kita tangkap dengan panca indera itu adalah penting, pengetahuan tidak sampai disitu saja tetapi harus lebih dari sekedar yang dapat ditangkap panca indera. 

Yang dapat kita ketahui atau dengan kata lain dapat kita tangkap dengan panca indera adalah hal-hal yang berada di dalam ruang dan waktu. Yang berada di luar ruang dan waktu adalah di luar jangkauan panca indera kita, itu terdiri dari 3 (tiga) ide regulatif: 1) ide kosmologis yaitu tentang semesta alam (kosmos), yang tidak dapat kita jangkau dengan panca indera, 2) ide psikologis yaitu tentang psiche atau jiwa manusia, yang tidak dapat kita tangkap dengan panca indera, yang dapat kita tangkap dengan panca indera kita adalah manifestasinya misalnya perilakunya, emosinya, kemampuan berpikirnya, dan lain-lain, 3) ide teologis yaitu tentang Tuhan Sang Pencipta Semesta Alam. 

3) Strukturnya. 

Yang ingin mengetahui adalah subjek yang memiliki kesadaran. Yang ingin kita ketahui adalah objek, diantara kedua hal tersebut seakan-akan terdapat garis demarkasi yang tajam. Namun demikian sebenarnya dapat dijembatani dengan mengadakan dialektika. Jadi sebenarnya garis demarkasi tidak tajam, karena apabila dikatakan subjek menghadapi objek itu salah, karena objek itu adalah subjek juga, sehingga dapat terjadi dialektika. 

4) Keabsahan. 

Keabsahan ilmu pengetahuan membahas tentang kriteria bahwa ilmu pengetahuan itu sah berarti membahas kebenaran. Tetapi kebenaran itu nilai (axiologi), dan kebenaran itu adalah suatu relasi. Kebenaran adalah kesamaan antara gagasan dan kenyataan. Misalnya ada korespondensi yaitu persesuaian antara gagasan yang terlihat dari pernyataan yang diungkapkan dengan realita. 

Terdapat 3 (tiga) macam teori untuk mengungkapkan kebenaran, yaitu: 

a) Teori Korespondensi, terdapat persamaan atau persesuaian antara gagasan dengan kenyataan atau realita. 

b) Teori Koherensi, terdapat keterpaduan antara gagasan yang satu dengan yang lain. Tidak boleh terdapat kontradiksi antara rumus yang satu dengan yang lain. 

c) Teori Pragmatis, yang dianggap benar adalah yang berguna. Pragmatisme adalah tradisi dalam pemikiran filsafat yang berhadapan dengan idealisme, dan realisme. Aliran Pragmatisme timbul di Amerika Serikat. Kebenaran diartikan berdasarkan teori kebenaran pragmatisme.
Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Popular Posts

  • CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)
    CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)  Obat batuk dengan efek jangka panjang 10 – 12 jam  KOMPOSISI  Codipront Kapsul  Tiap Kapsul mengandun...
  • GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)
    GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)  Obat Generik : Gentamicin / Gentamisin Sulfat Obat Bermerek : Balticin, Bioderm, Dermabiotik, De...
  • Jenis - Jenis Obat Kortikosteroid
    Obat Kortikosteroid  Oradexon Tablet dan Injeksi ORADEXON Tablet, Suntik (Dexamethasone / Deksametason) Obat Generik : Dexamethasone...
  • BACTROBAN Krim / Salep Kulit (Mupirocin)
    Nama Obat Generik : Mupirocin / Mupirosin  Nama Obat Bermerek : Bactroban  KOMPOSISI / KANDUNGAN  Tiap 1 gram Bactroban Krim mengandung Mupi...
  • Contoh Latar Belakang Manajemen
    A.     Latar Belakang Manajemen  Sesungguhnya mulai kapan teori manajemen itu ada? Yaitu mulai sejak para pelaku usaha berkecimpung memi...
My Ping in TotalPing.com
My Ping in TotalPing.com

Labels

  • Cara Mengatasi Penyakit
  • Dunia Kesehatan
  • Hukum pidana
  • Manajemen

Popular Posts

  • CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)
    CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)  Obat batuk dengan efek jangka panjang 10 – 12 jam  KOMPOSISI  Codipront Kapsul  Tiap Kapsul mengandun...
  • GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)
    GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)  Obat Generik : Gentamicin / Gentamisin Sulfat Obat Bermerek : Balticin, Bioderm, Dermabiotik, De...

Pages

  • Home
Copyright © 2015 Tujuan I - Pendidikan Online . All rights reserved. My Notes Template. Simple Default Template edited by RT Media ™. Powered by Login