• Home
  • About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Advertise

Tujuan I - Pendidikan Online

Tujuan I -  Pendidikan Online

Ahok Djarot Pilkada DKI

  • AHOK DJAROT PILKADA DKI
  • Home
  • DUNIA KESEHATAN
  • HUKUM PIDANA
  • MANAJEMEN
  • DAFTAR OBAT MUNTAH
  • SURAT LAMARAN KERJA
  • ▼
Home → Semua Post Berkategori Kewirausahaan
Showing posts with label Kewirausahaan. Show all posts
Showing posts with label Kewirausahaan. Show all posts
 KONSEP KERJA KERAS

KONSEP KERJA KERAS

Unknown
8:02 AM
Usaha mengembangkan sekolah/madrasah memerlukan banyak tenaga, pikiran, dan biaya serta membutuhkan kemampuan bekerja dalam rentang waktu yang lama. Kita harus bekerja keras secara terus-menerus. Anda sebaiknya jangan hanya mengandalkan bekerja keras yang mengandalkan kekuatan fisik tetapi juga mengandalkan kerja cerdas yang mengandalkan kekuatan otak. Keras keras dan cerdas saja belum cukup tanpa diikuti oleh kerja ikhlas, kerja lugas, kerja lekas, kerja tuntas, dan kerja puas (memuaskan segala pihak (Collis & Le Boeuf, 1997). 

B. Materi Pokok 

1. Definisi Kerja Keras 

Kerja keras adalah berusaha sekuat daya dan tenaga, pantang menyerah, tidak pernah ada kata putus asa untuk mencapai hasil yang maksimal. Orang yang keranjingan kerja keras disebut workcholic. Kita harus fokus pada pekerjaan. 

2. Tujuan Kepala sekolah/madrasah berkerja keras 

Kepala sekolah/madrasah bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif. Berikut disampaikan beberapa cara untuk mempengaruhi seseorang agar mau bekerja keras. 

(1) Tanamkan keyakinan bahwa banyak bukti keberhasilan seseorang karena kerja keras. Apabila kita ditanya tentang keberhasilan kita, maka jawaban kita adalah berkat kerja keras.. 

(2) Tanamkan keyakinan, “Saya harus bekerja keras agar yang saya butuhkan tercapai”. “Jangan mengharapkan sesuatu, jika tidak berbuat sesuatu”. 

(3) Tanamkan keyakinan, saya ingin jadi orang yang bermanfaat. Banyak penganggur ingin bekerja. Mengapa mereka yang sudah mendapat pekerjaan ingin menganggur? 

(4) Tentukan target yang harus dicapai. 

(5) Tunjukkan kerja keras Anda untuk dijadikan contoh bawahan Anda. 

(6) Kelima cara di atas dapat dilakukan sendiri-sendiri atau dikombinasikan agar saling melengkapi. 



C. Contoh Kasus 

Perhatikan cara Pipo dan embro bekerja keras pada kasus di kegiatan belajar 2. 

D. Latihan 



Diskusikan kasus berikut selama 10 menit! Buat powerpointnya. Sajikan di depan kelompok lainnya untuk mendapatkan komentar-komentar dan saran-saran sebagai umpan balik! 



Kasus untuk Semua Kepala Sekolah 

Saya selalu kurang dan tak pernah merasa puas dengan keberhasilan sekolah/madrasah. Ujian Nasional sudah mencapai 6,5 ingin 7,0. UN 7,0 ingin 7.5. Saya juga ingin menjadi kepala sekolah/madrasah/madrasah berprestasi tingkat kabupaten. Prestasi tersebut sudah tercapai. Namun, saya masih belum puas. Saya bercita-cita ingin menjadi kepala sekolah/madrasah/madrasah berprestasi tingkat propinsi bahkan tingkat nasional. Untuk mencapai itu semua saya bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. Dengan cita-cita setinggi langit itu, saya bekerja keras mengarahkan dan membimbing guru agar mengejar prestasi yang tinggi. Akibatnya saya merasa jenuh,dan sering melupakan kegiatan keluarga. 



E. Rangkuman 

Kerja keras ialah kegiatan maksimal yang banyak menguras tenaga, pikiran, dan waktu untuk menyelesaikan sesuatu. Kerja keras adalah untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah. Lima cara agar orang mau bekerja keras. 
KONSEP INOVASI KEWIRAUSAHAAN

KONSEP INOVASI KEWIRAUSAHAAN

Unknown
8:01 AM
A. Pengantar 

Salah satu dari lima kompetensi kewirausahaan Kepala sekolah/madrasah adalah menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasahnya. Untuk meningkatkan kompetensi inovasi Kepala sekolah/madrasahnya, maka Kepala sekolah/madrasah hendaknya mengetahui dan mampu menerapkan konsep inovasi dalam mengembangkan sekolah/madrasah. Esensi kewirausahaan adalah kreativitas dan inovasi (Overton, 2002). Oleh sebab itu, Kepala sekolah/madrasah dituntut memiliki sifat kreatif dan inovatif dalam mengembangkan sekolah/madrasahnya. 

B. Materi Pokok 

1. Definisi Inovasi 

Kreativitas dan inovasi merupakan dimensi-dimensi penting kewirausahaan. Kreativitas adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, yang belum pernah ada sebelumnya. Sedang inovasi adalah penciptaan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya (Drucker, 1985). Contoh: hasil inovasi adalah kantin jujur, pembelajaran anti korupsi, pembelajaran PAIKEM, manajemen sekolah/madrasah bersertifikasi ISO, unit produksi sekolah/madrasah sebagai tempat praktik siswa untuk memperoleh pengalaman nyata di dunia kerja, dan lain-lain. 

2. Tujuan Kepala Sekolah Memiliki Kompetensi Inovasi 

Kepala sekolah/madrasah perlu memiliki kompetensi inovasi agar dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya selalu memikirkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya melalui perbaikan, pengembangan, pengayaan, pemodifikasian, dsb. Dalam rangka untuk memajukan dan mengembangkan sekolah/madrasahnya. 

3. Ciri-ciri Seorang Inovator 

Seorang inovator memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 

(1) mengerjakan tugas dengan cara yang tidak konvensional; 

(2) menemukan masalah dan memecahkannya dengan cara yang tidak liniear; 

(3) lebih tertarik pada hasil dari pada proses; 

(4) tidak senang pada pekerjaan yang bersifat rutin; 

(5) kurang senang pada kesepakatan; dan 

(1) kurang sensitif terhadap orang lain (Kirton, 1976); 

4. Cara Melakukan Inovasi 

Cara melakukan inovasi dapat diuraikan sebagai berikut: 

(1) anda harus ke luar dari kawasan yang membuat anda nyaman (comfort zone); 

(2) jangan berpikir dengan cara yang sudah terbiasa ada/dilakukan; 

(3) bergerak lebih cepat dibanding orang lain (pesaing) agar tidak didahului orang lain; 

(4) dengarkan ide stakeholders sekolah/madrasah; 

(5) bertanyalah kepada warga sekolah/madrasah dan stakeholders apa yang perlu diubah di sekolah/madrasah ini secara berkala; 

(6) dorong diri sendiri dan orang lain untuk cepat bergerak tetapi selamat; 

(7) berharap untuk menang, dan memiliki kesehatan dan kekuatan; dan 

(8) rekreasi secukupnya untuk mendapatkan ide-ide baru (Anonim 3, 2005). 



C. Contoh Kasus 

Yohanes Surya menemukan cara-cara pembelajaran fisika yang inovatif sehingga menghasilkan juara olimpiade fisika tingkat dunia. Penemu jarimatika menemukan pembelajaran matematika di SD. Phytagoras menemukan rumus Phytagoras dalam matematika.Sekolah/madrasah. Di Tidore memanfaatkan gelombang laut dan alam sekitar sebagai laboratorium praktik siswa,dan koleksi pohon langka di SMA Ambarawa sebagai sarana observasi siswa dan guru. 

D. Latihan 



Diskusikan kasus berikut untuk siswa-siswa SD! Selesaikan kasus dengan pendekatan kewirausahaan!. Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan. 

Kasus untuk Kepala SD 

James Shieh, usahawan Singapura menyatakan bahwa sejak kecil pikiran anak-anak Singapura sudah diisi dengan pemahaman tentang kewirausahaan (entrepreneurship). Anak-anak diberitahu bahwa hidup mereka berarti dan beradab kalau bisa berjualan. Dari 10 pintu rezeki, delapan ada di berjualan. Anak-anak kecil itu diajari memahami cara menaikkan nilai suatu barang. Mereka diajak memahami bahwa Singapura negara kecil dan untuk bisa bertahan (survive), mereka harus kreatif, inovatif, kerja keras, dan pantang menyerah. 

James Shieh mencontohkan, anak-anak kecil diajarkan bagaimana mengkreasi nilai benda. Satu pepaya, hanya akan dihargai satu buah pepaya kalau dijual begitu saja. Tetapi ketika pepaya itu dikreasikan menjadi jus, atau dijus atau dijus dan ditambah buah lain sehingga menambah kenikmatannya, maka nilai jual buah pepaya itu sudah menjadi lain. Begitu pula dengan durian yang bisa dikreasikan dengan amat banyak varian produk. “Ini baru contoh kecil tentang buah.” 

Anak-anak kecil juga diajarkan bahwa mereparasi barang yang rusak tentu baik. Akan tetapi akan jauh lebih hebat kalau barang yang direparasi itu diberi nilai tambah sehingga nilainya menjadi berlipat-lipat. Tidak sampai di sini, anak-anak itu diajarkan pula untuk memahami bahwa merusak jauh lebih gampang daripada membuat. Sebaliknya, tutur James, anak-anak dibawa ke lokasi pembuangan sampah. Di situ ditunjukkan betapa banyaknya benda yang masih bisa digunakan tetapi sudah dibuang. Anak-anak diminta mencari sampah yang masih bisa digunakan bahkan dikreasikan. 

Seorang guru besar sastra di Singapura yang ditemui terpisah, Prof Tan Tan Sen menambahkan, dalam konteks kewirausahaan dibutuhkan pikiran-pikiran sangat kreatif. “Untuk melatih kreasi, dan inovasi, pikiran harus jernih, sebab Anda butuh pengalaman, misalnya bagaimana membuat barang rongsokan menjadi sangat bernilai?” 

Apa yang diuraikan di atas sudah sering kita dengar. Hanya saja, sebagian di antara kita belum membuka mata, hati dan pikiran untuk menerima pemahaman tentang kreasi dan inovasi itu bagi siswa SD kita. Sebagian orang tua/wali murid yang kaya raya melarang anaknya bekerja hanya demi sebuah gengsi. Bagaimana caranya agar anak-anak SD kita kreatif, inovatif, mau bekerja keras, dan pantang menyerah? 



Kasus untuk Kepala SMP 



Diskusikan kasus berikut selama 10 menit! Selesaikan kasus dengan pendekatan kewirausahaan! Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan. 



Dalam rangka menerapkan konsep pendidikan karakter, akhir-akhir ini beberapa sekolah termasuk SMP mendirikan Kantin Kejujuran. Kantin Kejujuran sengaja dikelola oleh siswa-siswa SMP untuk memberikan pengalaman berwirausaha dan melatih pembeli menerapkan kejujuran. Jadi, Kantin Kejujuran punya dua misi yaitu melatih kejujuran dan kewirausahaan. Siswa yang membeli mengambil barang dan makanan/minuman sendiri, menghitung sendiri, dan membayar sendiri pada kotak yang telah disediakan. Mula-mula Kantin Kejujuran berjalan dengan baik. Namun, lama kelamaan kantin tersebut ditutup karena bangkrut. Siswa, guru, orang tua/wali murid, komite sekolah, dan juga kepala sekolah saling menyalahkan. 


Kasus untuk Kepala SMA 

Diskusikan kasus berikut 10 menit! Selesaikan kasus berikut dengan pendekatan kewirausahaan! Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan. 

Pengusaha dari Amerika Serikat, Schramm setelah diterjemahkan ke bhs Indonesianya menyatakan, ”Kita tidak bisa melatih seseorang untuk memiliki karisma. Ada orang-orang tertentu yang memiliki kepribadian senang dengan tantangan serta berani mengambil risiko dan inovatif dan gigih mewujudkan impiannya.” Yang bisa dilakukan, lanjut Schramm, adalah melatih atau mendidik seseorang yang memiliki bekal ide dan semangat atau bahkan sudah memulai usahanya sedikit demi sedikit untuk membuat rencana atau strategi usaha. Tujuannya, untuk mengurangi risiko kegagalan usahanya dan memastikan keberhasilan usaha. Jika memiliki rencana atau strategi usaha yang jelas, dipastikan usahanya pun akan berhasil. SMA-SMA apalagi SMK-SMK akan sangat berguna dalam hal itu. Tidak hanya itu. Para wirausaha yang sukses juga bisa berbagi ilmu dengan siswa di SMA-SMA dan SMK-SMK. 

”Jadi, belum tentu semua orang bisa menjadi entrepreneur karena masih lebih banyak orang yang boro-boro memikirkan inovasi usaha, memikirkan mau makan apa hari ini saja sudah susah,” kata Schramm. 

Menjadi seorang wirausaha yang sukses pun, kata Schramm, tidak perlu harus memulai usaha sejak usia muda. Selama ini banyak beredar anggapan keliru bahwa jika ingin sukses, seseorang harus memulai usaha sejak usia 19 atau 21 tahun. Jika tidak, tidak akan pernah berhasil menjadi wirausaha. ”Nyatanya, banyak orang yang memulai usaha justru ketika sudah pensiun,” ujarnya. 

Schramm juga mengatakan, kewirausahaan harus dilakukan, bukan sekadar diajarkan. Pendidikan kewirausahaan memang perlu diperkenalkan di sekolah- sekolah untuk menginformasikan kepada siswa bahwa kewirausahaan itu penting dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. 

Schramm menambahkan, kewirausahaan juga untuk membentuk adanya keinginan di dalam diri seseorang untuk bekerja sendiri, bukan bekerja kepada orang lain. Mampu memanfaatkan peluang dan berani mengambil risiko. Sebab, negara memang butuh meningkatkan jumlah perusahaan-perusahaan baru guna mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi. 

Pertanyaan bagi siswa SMA kita adalah mengapa siswa kita cenderung berbudaya santai? Konsumtif? Ingin serba instant? Sebagian punya motto, “Bersenang-senang dahulu, bersenang-senang kemudian.” Ada pula yang punya motto, “Muda jaya, tua kaya, mati masuk surga.” Dapatkah semua itu diwujudkan tanpa memiliki jiwa kewirausahaan? 

Kasus untuk Kepala SMK 

Diskusikan kasus berikut selama 10 menit! Selesaikan kasus dengan pendekatan kewirausahaan! Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan! 

Pendidikan kewirausahaan di Tanah Air perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Bahkan, melalui pendidikan kewirausahaan tersebut pemerintah harus ikut campur tangan menciptakan wirausaha. Langkah ini mendesak dilakukan karena saat ini terdapat sekitar 12 juta lulusan sarjana S-1 yang menganggur. 

”Jika yang 12 juta ini dibantu pemerintah untuk bisa menjadi wirausaha, pasti akan dahsyat dampaknya,” ujar CEO Garuda Food Group Sudhamek AWS dalam diskusi terbatas Forum Mangunwijaya VI tentang ”Pendidikan Kewirausahaan II”, yang diselenggarakan harian Kompas bekerja sama dengan Dinamika Edukasi Dasar dan Keuskupan Agung Semarang, Sabtu (18/12) di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah. 

Menurut Sudhamek, kewirausahaan dapat dipelajari melalui sistem manajemen strategi. Ada empat kompetensi yang perlu dimiliki wirausaha, yakni pengetahuan tentang proses produksi, jaringan usaha, dukungan finansial, dan kemampuan manajemen. 

Kewirausahaan hendaknya diberikan sejak dini dengan cara melihat dunia nyata di luar ruang kelas, seperti melihat proses produksi di pabrik, bengkel, bank, atau sentra kerajinan. Siswa SMK juga perlu diajarkan tentang ketidakpastian dan risiko bisnis dalam dunia usaha. Naluri kewirausahaan harus dibangun sejak dini dari keluarga. Sayangnya, hingga kini masih banyak orangtua yang ingin agar anaknya bekerja kantoran. Sementara itu, Darmono (nama samara) mengatakan bahwa dirinya yang masih siswa SMK lebih banyak belajar dari dunia praktisi bisnis karena banyak teori kewirausahaan yang diajarkan di SMK ternyata tidak sinkron dengan kenyataan di lapangan. Selama ini, pendidikan kewirausahaan di SMK atau di mana pun sering lebih banyak diajarkan secara teoritis oleh guru/dosen/pelatih yang tidak memiliki pengalaman praktis berwirausaha. 

Zaman telah berubah, untuk mengikuti dan mengantisipasi perubahan SMK dituntut melakukan inovasi-inovasi dalam mengembangkan ipteks di SMK-nya. Bila tidak, kompetensi lulusan SMK akan ketinggalan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Stakeholders SMK akan meninggalkan SMK Anda dan mencari SMK lain yang lebih inovatif. 

E. Rangkuman 

Inovasi adalah mengembangkan sesuatu yang sudah ada menjadi berbeda atau tampil beda (lebih baik). Inovasi bagi Kepala sekolah/madrasah adalah untuk mengembangkan sekolah/madrasahnya agar lebih inovatif (lebih baik). Setidaknya ada enam ciri seorang inovator dan ada delapan cara untuk melakukan inovasi. 
KONSEP KEWIRAUSAHAAN

KONSEP KEWIRAUSAHAAN

Unknown
8:00 AM
Salah satu dimensi kompetensi kepala sekolah/madrasah adalah kewirausahaan. Kewirausahaan dalam hal ini bermakna untuk kepentingan pendidikan yang bersifat sosial bukan untuk kepentingan bisnis yang mengkomersilkan sekolah/madrasah. Kewirausahaan dalam bidang pendidikan yang diambil adalah karakteristiknya (sifatnya) seperti inovatif, bekerja keras, motivasi yang kuat, pantang menyerah, kreatif untuk mencari solusi terbaik, dan memiliki naluri kewirausahaan. Semua karakteristik tersebut bermanfaat bagi Kepala sekolah/madrasah dalam mengembangkan sekolah/madrasah, mencapai keberhasilan sekolah/madrasah, melaksanakan tugas pokok dan fungsi, menghadapi kendala sekolah/madrasah, dan mengelola kegiatan sekolah/madrasah sebagai sumber belajar siswa. Berikut disampaikan secara ringkas tentang definisi kewirausahaan, tujuan kewirausahaan, karakteristik/dimensi kewirausahaan, cara mengembangakan kewirausahaan menurut Slamet PH (2010). 

B. Materi Pokok 

1. Definisi Kewirausahaan 

Kewirausahaan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru secara kreatif dan inovatif untuk mewujudkan nilai tambah (Overton, 2002). Kreatif berarti menghasilkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Inovatif berarti memperbaiki/memodifikasi/mengembangkan sesuatu yang sudah ada. Nilai tambah berarti memiliki nilai lebih dari sebelumnya. 

Ada yang berpendapat bahwa istilah kewirausahaan itu merupakan singkatan dari: Kreatif, Enerjik, Wawasan luas, Inovatif, Rencana bisnis, Agresif, Ulet, Supel, Antusias, Hemat, Asa, Ambisi, Negosiatif. (Anonim 1, 2005). Sebenarnya, masih banyak lagi sifat-sifat yang harus dimiliki seorang wirausaha misalnya berani mengambil risiko dengan penuh perhitungan, mampu memanfaatkan peluang, komunikatif, mampu memasarkan, mampu bernegosiasi. Namun pada materi pelatihan ini dibatasi pada sifat-sifat kewirausahaan yang terdapat dalam lima kompetensi kewirausahaan menurut Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. 
2. Tujuan Pengembangan Kewirausahaan 

Tujuan pengembangan kewirausahaan bagi kepala sekolah adalah agar kepala sekolah inovatif, kerja keras, memiliki motivasi kuat, pantang menyerah, dan kreatif dalam mencari solusi terbaik sehingga mampu menjadi contoh bagi warga sekolahnya. 
3. Karakteristik/Dimensi-Dimensi Kewirausahaan 
Ada dua jenis karateristik atau dimensi kewirausahaan yaitu: (1) kualitas dasar kewirausahaan meliputi kualitas daya pikir, daya hati, dan daya fisik; dan (2) kualitas instrumental kewirausahaan yakni penguasaan lintas disiplin ilmu (Slamet, 2009). Selanjutnya, dijelaskan Slamet (2009) sebagai berikut. 

a. Kualitas Dasar Kewirausahaan 



1) Daya Pikir 
Kualitas dasar daya pikir kewirausahaan memiliki karakteristik/dimensi-dimensi sebagai berikut: berpikir kreatif; berpikir inovatif; berpikir asli/baru/orisinil; berpikir divergen; berpikir mengembangkan; pionir berpikir; berpikir menciptakan produk dan layanan baru; memikirkan sesuatu yang belum pernah dipikirkan oleh orang lain; berpikir sebab-akibat; berpikir lateral; berpikir sistem; berpikir sebagai perubah (agen perubahan); berpikir kedepan (berpikir futuristik); berintuisi tinggi; berpikir maksimal; terampil mengambil keputusan; berpikir positif; dan versalitas berpikir sangat tinggi. 

2) Daya Hati 
Kualitas dasar daya hati kewirausahaan memiliki karakteristik/dimensi-dimensi sebagai berikut: prakarsa/inisiatif tinggi; ada keberanian moral untuk mengenalkan hal-hal baru; proaktif, tidak hanya aktif apalagi hanya reaktif; berani mengambil resiko; berani berbeda; properubahan dan bukan pro kemapanan; kemauan, motivasi, dan spirit untuk maju sangat kuat; memiliki tanggungjawab moral yang tinggi; hubungan interpersonal bagus; berintegritas tinggi; gigih, tekun, sabar, dan pantang menyerah; bekerja keras; berkomitmen tinggi; memiliki kemampuan untuk memobilisasi orang lain; melakukan apa saja yang terbaik; melakukan perbaikan secara terus menerus; mau memetik pelajaran dari kesalahan, dari kesuksesan, dan dari praktek-praktek yang baik; membangun teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah; percaya diri; pencipta peluang; memiliki sifat daya saing tinggi, tetapi mendasarkan pada nilai solidaritas; agresif/ofensif; sangat humanistik dan hangat pergaulan; terarah pada tujuan akhir, bukan tujuan sesaat; luwes dalam pergaulan; selalu menginginkan tantangan baru; selalu membangun keindahan cita rasa melalui seni (kriya, musik, suara, tari, lukis, dsb.); bersikap mandiri akan tetapi supel; tidak suka mencari kambing hitam; selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai tambah sumberdaya; terbuka terhadap umpan balik; selalu ingin mencari perubahan yang lebih baik (meningkatkan/mengembangkan); tidak pernah merasa puas, terus menerus melakukan inovasi dan improvisasi demi perbaikan selanjutnya; dan keinginan menciptakan sesuatu yang baru. 

3) Daya Fisik 

Kualitas dasar daya fisik/raga kewirausahaan memiliki karakteristik/dimensi-dimensi sebagai berikut: menjaga kesehatan secata teratur; memelihara ketahan/stamina tubuh dengan baik; memiliki energi yang tinggi; dan keterampilan tubuh dimanfaatkan demi kesehatan dan kebahagiaan hidup. 

b. Kualitas Instrumental Kewirausahaan 
Seseorang yang ingin menjadi wirausahawan sukses tidak cukup hanya memiliki kualitas dasar kewirausahaan, akan tetapi kualitas instrumental kewirausahaan (penguasaan disiplin ilmu). Misalnya, seorang kepala sekolah, pengawas, atau kepala dinas pendidikan kabupaten/kota, harus memiliki ilmu pengetahuan yang luas di bidang pekerjaan yang menjadi kewenangan dan tanggung jawabnya. 

4. Cara-Cara Mengembangkan Kewirausahaan 
Cara-cara mengembangkan kewirausahaan dilakukan melalui pentahapan sebagai berikut. 
(1) Melakukan evaluasi diri tentang tingkat/level kepemilikan kewirausahaan. Ini dapat dilakukan melalui pengisian daftar kualitas kewirausahaan atau menjawab sejumlah pertanyaan tentang kewirausahaan yang dilakukan setulus-tulusnya dan sejujur-jujurnya (lihat Lampiran tentang Instrumen Profil Diri Kualitas Dasar Kewirausahaan, oleh Slamet PH). Hasil pengisian daftar/jawaban tersebut berupa profil diri kewirausahaan. 
(2) Berdasarkan hasil evaluasi diri (profil diri jiwa kewirausahaan), selanjutnya ditempuh melalui berbagai upaya yang disebut “belajar.” 
(3) Mempelajari kewirausahaan dapat dilakukan melalui berbagai upaya, misalnya: berpikir sendiri (otak kita kaya untuk berpikir), membaca (buku, jurnal, internet/web-site), magang, kursus pendek, belajar dari wirausahawan sukses, pengamatan langsung dilapangan, dialog dengan wirausahawan sukses, mengikuti seminar, mengundang wirausahawan sukses, menyimak acara-acara kewirausahaan di televisi, atau cara-cara lain yang dianggap tepat bagi dirinya untuk mempelajari kewirausahaan Slamet, 2009). 



5. Manfaat kompetensi kewirausahaan bagi Kepala sekolah 

(1) Mampu menciptakan kreativitas dan inovasi yang bermanfaat bagi pengembangan sekolah/madrasah. 

(2) Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajaran yang efektif. 

(3) Memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai kesuksesan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah/madrasah, 

(4) Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala sekolah/madrasah, 

(5) Memiliki naluri kewirausahaan sebagai sumber belajar siswa, dan 

(6) Menjadi teladan bagi guru dan siswa di sekolahnya, khususnya mengenai kompetensi kewirausahaan. 

6. Menjadi Seorang Wirausaha yang Sukses 

Kepala sekolah/madrasah sebagai seorang wirausahawan yang sukses harus memiliki tiga kompetensi pokok yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap kewirausahaan. Ketiga kompetensi tersebut saling berkaitan. 

Kompetensi merupakan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pengetahuan adalah kumpulan informasi yang disimpan di otak dan dapat dipanggil jika dibutuhkan. Keterampilan adalah kemampuan menerapkan pengetahuan. Sikap adalah sekumpulan kualitas karakter yang membentuk kepribadian seseorang (Anonim 4, 2005). Seseorang yang tidak memiliki ketiga kompetensi tersebut akan gagal sebagai wirausahawan yang sukses. 

Keterkaitan ketiga kompetensi tersebut digambarkan sebagai berikut. 






Keterampilan 





Pengetahua 






Sikap 







Keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan menurut Hisrich & Peters (2002) adalah keterampilan teknikal, manajemen bisnis, dan jiwa kewirausahaan personal. Keterampilan teknikal meliputi: mampu menulis, berbicara, mendengar, memantau lingkungan, teknik bisnis, teknologi, mengorganisasi, membangun jaringan, gaya manajemen, melatih, bekerja sama dalam kerja tim (teamwork). Manajemen bisnis meliputi: perencanaan bisnis dan menetapkan tujuan bisnis, pengambilan keputusan, hubungan manusiawi, pemasaran, keuangan, pembukuan, manajemen, negosiasi, dan mengelola perubahan. Jiwa wirausahawan personal meliputi: disiplin (pengendalian diri), berani mengambil risiko diperhitungkan, inovatif, berorientasi perubahan, kerja keras, pemimpin visioner, dan mampu mengelola perubahan. 

C. Contoh Kasus 

Tokoh-tokoh wirausahawan yang sukses di bidang pendidikan antara lain adalah Raden Ajeng Kartini yang berupaya keras pada jamannya merintis kesadaran tentang hak kaum perempuan, KI Hajar Dewantoro dengan Taman Siswa, Ciputra dengan Universitas Entrepreneurship, dan pendiri sekolah Global Jaya. 

D. Latihan 



Kasus untuk Semua Kepala Sekolah 

Kasus (Lihat Film Pipo dan Embro, terlampir) 

(1) Identifikasikan sifat-sifat wirausaha yang tampak nyata (tersurat). 

(1) Identifikasikan sifat-sifat wirausaha yang tersembunyi (tersirat). 

(2) Mana dari sifat-sifat jawaban 1 dan 2 yang menunjang kompetensi wirausaha menurut Permendiknas Nomor 13 tentang Standar Kepala sekolah/madrasah/madrasah?. 



E. Rangkuman 


Kewirausahaan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang secara kreatif dan inovatif untuk mewujudkan nilai tambah. Tujuan pengembangan kewirausahaan bagi kepala sekolah adalah untuk meningkatkan kualitas kewirausahaannya dan mengembangkan sekolah/madrasahnya. Banyak karakteristik kewirausahaan yang dapat dimiliki oleh kepala sekolah sebagai wirausaha. Tetapi, pada materi ini dibatasi pada inovasi, kerja keras, motivasi tinggi, pantang menyerah. Dan kreatif untuk mencari solusi terbaik. Untuk menjadi wirausahawan sukses harus memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan kewirausahaan. 

Contoh Latar belakang Kewirausahaan

Unknown
7:58 AM
A. Latar Belakang 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah/madrasah menegaskan bahwa seorang kepala sekolah/madrasah harus memiliki lima dimensi kompetensi minimal yaitu: kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. 

Srategi sosialisasi dan bimbingan teknik kewirausahaan yang telah dilaksanakan selama ini ternyata masih belum memadai untuk menjangkau seluruh kepala sekolah/madrasah dalam waktu yang relatif singkat. Intensitas dan kedalaman penguasaan materi kurang dapat dicapai dengan kedua strategi ini karena terbatasnya waktu. 

Berdasarkan kenyataan tersebut dan demi mendukung peran kepala sekolah/madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah/madrasah maka dibutuhkan kepala sekolah/madrasah yang kuat yang dapat membimbing, menjadi contoh, dan menggerakkan guru dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah/madrasah sehingga akhirnya dapat mewujudkan kualitas siswa yang kreatif, inovatif, berpikir kritis, dan berjiwa kewirausahaan (entrepreneurship). 

B. Kompetensi yang Diharapkan 

(1) Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah. 

(2) Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif. 

(3) Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah. 

(4) Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah. 

(5) Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik. 

C. Ruang lingkup Materi 

Materi pelatihan terdiri atas lima bagian adalah sebagai berikut. 

(1) Dimensi kompetensi manajerial dengan materi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS); 

(2) Dimensi Kompetensi Kewirausahaan dengan materi Kewirausahaan; 

(3) Dimensi kompetensi supervisi dengan materi Supervisi Akademik dan Kepemimpinan Pembelajaran; 

(4) Penelitian Tindakan Sekolah/Madrasah. 

Materi pelatihan pada materi ini dibatasi pada kewirausahaan menurut Permendiknas Nomor 13 Tahun tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah yang meliputi kegiatan belajar: 

(1) konsep kewirausahaan, 

(2) konsep inovasi, 

(3) konsep kerja keras, 

(4) konsep motivasi kuat dan pantang menyerah, 

(5) konsep kreativitas untuk selalu mencari solusi terbaik. 



D. Langkah-langkah Pembelajaran 

Materi pelatihan ini dirancang untuk dipelajari oleh kepala sekolah/madrasah dalam pelatihan. Oleh karena itu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mempelajari materi ini mencakup aktivitas individual dan kelompok. Secara umum aktivitas individual meliputi: (1) membaca materi pelatihan, (2) melakukan latihan/mengerjakan tugas, menyelesaikan masalah/kasus pada setiap kegiatan belajar, (3) membuat rangkuman, dan (4) melakukan refleksi. Sedangkan aktivitas kelompok meliputi: (1) mendiskusikan materi pelatihan, (2) bertukar pengalaman (sharing) dalam melakukan latihan menyelesaikan masalah/kasus, dan (3) membuat rangkuman. Langkah-langkah pembelajaran dapat digambarkan seperti berikut.


Faktor-Faktor Pemicu Kewirausahaan

Faktor-Faktor Pemicu Kewirausahaan

Unknown
7:52 AM

A.    Faktor-Faktor Pemicu Kewirausahaan
Suryana (2001) perilaku kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal
1.      Faktor Internal
Faktor internal dipengaruhi oleh ;
a.       Hak kepemilikan (property right)
b.      Kemampuan/kompetensi (competency/ability)
c.       Insentif (incentive)

2.      Faktor Eksternal
Faktor eksternal dipengaruhi oleh lingkungan (environment)

B.     Model Proses Kewirausahaan

Menurut Carol Noore yang dikutif oleh Suryana (2001) proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor baik yang berasal dari pribadi maupun dari luar pribadi.

1.      Secara Internal
Keinovasian  dipengaruhi  oleh  faktor  yang  ber-asal dari individu seperti
a.       Locus of control
b.      Toleransi
c.        nilai-nilai
d.       pendidikan
e.        pengalaman

2.      Secara Eksternal
Keinovasian  dipengaruhi oleh faktor lingkung-an seperti
a.       Model peran
b.      Aktivitas
c.       Peluang

Oleh karena itu inovasi berkembang menjadi kewirausahaan melalui proses yang dipengaruhi lingkungan, organisasi, dan keluarga.

C.    Fase Permulaan dan Pertumbuhan Kewirausahaan

Menurut Suryana (2001) pada dasarnya dalam berwirausaha terdapat tiga tahap, yaitu ;

1.      Tahap Imitasi Dan Duplikasi
Tahap ini para wirausaha mulai meniru ide-ide orang lain

2.      Tahap Duplikasi Dan Pengembangan
Tahap ini para wirausaha mulai mengembangkan ide-ide baru

3.      Tahap Menciptakan Barang Dan Jasa Baru
Tahap ini para wirausaha mulai bosan dan ingin menciptakan sesuatu yang baru melalui ide-ide sendiri sampai terus berkembang

D.    Menuju Keberhasilan Wirausaha

Untuk menjadi wirausaha yang sukses ada 4 hal yang harus dimiliki, keempat hal dimaksud adalah sebagai berikut.
1.      Ide/visi bisnis yang jelas
2.      Kemauan/kemampuan/keberanian terhadap resiko
3.      Semangat dan kerja keras sesuai urgensinya
4.      Loyalitas dan tanggung jawab
Apabila ada kesiapan dalam menghadapi risiko, langkah berikutnya adalah membuat perencanaan usaha, mengorganisasikan, dan menjalankannya (Suryana,2001).


E.     Keberhasilan Dan Kegagalan Wirausaha

Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat tergantung pada kemampuan pribadi wirausaha

1.      Keberhasilan Wirausaha
a.       Kemampuan dan kemauan
b.      Tekad yang keras dan kerja keras
c.       Kesempatan dan peluang
d.      Berencana dan terorganisir
e.       Mengembangkan hubungan yang baik

2.      Kegagalan Wirausaha
a.       Kurang kompeten dalam manajerial
b.      Kurang berpengalaman dalam lapangan usaha
c.       Kurang bisa dalam mengedalikan finansial
d.      Gagal dalam perencanaan
e.       Lokasi kurang memadai
f.       Kurang pengawasan peralatan
g.      Sikap yang setengah hati
h.      Kurang siap mengalami perubahan/peralihan

F.     Keuntungan dan Kerugian Berwirausaha

1.      Keuntungan Berwirausaha
a.       Otonomi
b.      Tantangan awal yang menyenangkan
c.       Kontrol finansial

2.      Kerugian Berwirausaha
a.       Pengorbanan personal
b.      Beban tanggung jawab
c.       Margin kecil/kemungkinan gagal

 INDIKATOR KEBERHASILAN,PENGENDALIAN MUTU DAN PELAPORAN

INDIKATOR KEBERHASILAN,PENGENDALIAN MUTU DAN PELAPORAN

Unknown
1:29 AM
A. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan program dapat dilihat dari:

1. Meningkatnya pengetahuan, keterampilan, dan keahlian bagi pemuda binaan untuk membentuk usaha mandiri atau bekerja,

2. Terbentuknya kelompok usaha mandiri.



B. Pengendalian Mutu dan Pengawasan

Pengendalian mutu dan pengawasan terhadap pelaksanaan Program perlu dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas dan pencitraan publik. Pengendalian mutu dilakukan melalui monitoring, evaluasi, dan pelaporan. Pengendalian dilakukan oleh unsur Internal dan Eksternal, antara lain:

1. Departemen Pendidikan Nasional,

2. Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga,

3. BPPNFI,

4. Dinas Pendidikan Provinsi 

5. Dinas Pemuda dan Olahraga/Instansi yang menangani program kepemudaan Provinsi, 

6. Instansi/Lembaga yang memiliki wewenang melakukan fungsi pengawasan. Pengendalian mutu dan pengawasan meliputi aspek- aspek administrasi, manajemen pelaksanaan, tingkat pencapaian, dan penggunaan anggaran Program Kewirausahaan Pemuda.



C. Pelaporan



Lembaga kepemudaan atau BPKB penyelenggara program diwajibkan membuat dan menyampaikan laporan secara tertulis :

1. Laporan Keuangan sesuai format terlampir disampaikan setiap bulan sejak dana diterima sampai berakhir program

2. Laporan Perkembangan sesuai format terlampir yang disampaikan dalam pertengahan program.

3. Laporan Akhir disampaikan paling lambat 2 minggu setelah akhir masa program pembelajaran kepada Kepala BPPNFI dengan tembusan kepada Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga setempat;

BAB VI PENUTUP

Program kewirausahaan pemuda yang dirancang sebagai program sinergis antara Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora), memerlukan pemantapan dalam hal proses persiapan dan pelaksanaannya. Sehubungan dengan ini, dipandang perlu untuk menerbitkan pedoman ini agar dapat menjadi acuan, rujukan, dan petunjuk bagi semua pihak yang berkepentingan dalam merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengendalikan penyelenggaraan program tersebut. Program kewirausahaan pemuda yang dirancang oleh Depdiknas dan Kemenegpora ini, diharapkan dapat mengakselerasi enyelesaian masalah-masalah sosial khususnya untuk mengurangi angka pengangguran dan mengentaskan kemiskinan, dalam rangka mencapai masyarakat Indonesia yang lebih sejahtera, adil, dan bermartabat.

PENYUSUNAN DAN PENGAJUANPROPOSAL

PENYUSUNAN DAN PENGAJUANPROPOSAL

Unknown
1:27 AM
A. Penyusunan Proposal 

Lembaga yang berminat sebagai penyelenggara program Kewirausahaan Pemuda menyusun proposal yang meliputi asepk-aspek: 

a) What; apa jenis keterampilan yang akan diusulkan dan apa tujuannya, b) Why: mengapa program itu diusulkan, 

c) Who: siapa / lembaga penyelenggaranya, siapa calon instruktur, dan siapa calon warga belajarnya, 

d) When: kapan program itu akan dilaksanakan, 

e) Where: di mana program akan dilaksanakan, dan 

f) How: bagaimana rencana penyelenggaraannya.



2. Proposal dibuat dan ditandatangani oleh pimpinan lembaga calon penyelenggara program, dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung, dan memperoleh rekomendasi dari kepala dinas yang menangani kepemudaan minimal di Provinsi setempat.


B. Mekanisme Pengajuan Proposal

1. Lembaga Kepemudaan Tingkat Nasional calon penyelenggara program mengirimkan proposal ke Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan di Jakarta atau ke P2PNFI/BPPNFI dengan tembusan kepada Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda.



2. BPKB calon penyelenggara program mengirimkan proposal ke BP-PNFI dengan tembusan ke Dinas Propinsi yang menangani kepemudaan.


C. Waktu Pengajuan Proposal

Waktu pengajuan proposal dilakukan mulai bulan April sampai dengan bulan Mei 2009.



PENILAIAN PROPOSAL DAN PENETAPAN LEMBAGA


A. Tim Penilai

Tim penilai proposal di BP-PNFI terdiri atas:

a. Tim Penilai Proposal dibentuk dan bertanggungjawab kepada Kepala BPPNFI untuk wilayah regional masing-masing sebagaimana terlampir,

b. Tim Penilai Proposal terdiri dari unsur BPPNFI, dan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Utara,

c. Tim Penilai Regional terdiri dari seorang Ketua, seorang Sekretaris dan 3 orang anggota,

d. Tim Penilai didukung oleh sekretariat Tim Penilai BPPNFI



Tim Penilai bertugas :

1. Meneliti dan menilai kelengkapan dokumen proposal yang diusulkan,

2. Menilai kelayakan program yang diajukan oleh lembaga kepemudaan,

3. Melakukan verifikasi (visitasi) ke lapangan,

4. Melaporkan hasil penilaian kepada penanggungjawab program.


B. Mekanisme Penilaian Proposal

1. Penilaian proposal dilaksanakan melalui dua tahap yaitu: a) Penilaian administrasi, dan b) Penilaian substansi/teknis,

2. Penilaian kelengkapan administrasi dilakukan dengan cara melakukan pengecekan terhadap kelengkapan yang disyaratkan,

3. Penilaian substansi/teknis dilakukan terhadap proposal yang telah lolos pada penilaian kelengkapan administrasi melalui penilaian proposal dan verifikasi (visitasi) ke lapangan,

4. Setiap tahapan penilaian, dibuatkan Berita Acara Penilaian, yang ditandatangani oleh seluruh anggota Tim Penilai,

5. Tim Penilai menyampaikan lembaga kepemudaan yang telah lolos penilaian kepada Kepala BPPNFI untuk ditetapkan sebagai penyelenggara program.


C. Penetapan Penyelenggara Program

1. Kepala BPPNFI berdasarkan hasil Tim Penilai, menetapkan lembaga kepemudaan atau BPKB sebagai penyelenggara program,


2. Surat Keputusan (SK) Hasil Penetapan lembaga kepemudaan atau BPKB sebagai penyelenggara program disampaikan kepada Direktur Pembinaan Kursus dan Kelembagaan Depdiknas dan Asdep Pemberdayaan Lembaga Kepemudaan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.

3. Penetapan lembaga kepemudaan atau BPKB penyelenggara program akan diakhiri pada saat kuota telah terpenuhi tanpa menunggu akhir periode.



D. Penyaluran Dana

Mekanisme penyaluran dana dilakukan sebagai berikut:

1. Ketua lembaga kepemudaan atau Kepala BPKB yang ditetapkan sebagai penyelenggara program menandatangani akad kerjasama dengan Kepala BPPNFI, 


2. Setelah penandatanganan SK penetapan dan akad kerjasama, Kepala BPPNFI mengajukan usulan kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan I, untuk membayarkan/ mengirimkan dana penyelenggaraan program ke rekening lembaga kepemudaan atau BPKB sebagai penyelenggara program. 

3. Setelah menerima dana, lembaga kepemudaan atau BPKB sebagai penyelenggara Program menyampaikan surat pemberitahuan bahwa dana telah diterima dan akan segera melaksanakan program/kegiatan pembelajaran sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dalam proposal. 

Penyelenggara Program kewirausahaan

Penyelenggara Program kewirausahaan

Unknown
1:25 AM
1. Lembaga penyelenggara program adalah:

a. OKP, LSM Kepemudaan, Yayasan yang bergerak di bidang kepemudaan, Sentra Pemberdayaan Pemuda, Sentra Kewirausahaan Pemuda, dan lembaga kepemudaan lainnya Tingkat Nasional.

b. Untuk pengembangan model pendidikan kewirausahaan pemuda, Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) Propinsi atau nama lain yang sejenis dapat mengajukan proposal penyelenggaraan program kepada Balai Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (BPPNFI) Regional I Medan 



2. Persyaratan penyelenggara program :

a. Berbadan hukum/memiliki akte notaris dan atau memiliki AD/ART dan SK Kepengurusan,

b. Memiliki rekening bank dan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) atas nama lembaga (bukan rekening dan NPWP pribadi).

c. Memiliki jaringan mitra kerja yang relevan dengan jenis keterampilan yang dibelajarkan.

d. Sanggup melaksanakan proses pembelajaran yang dibuktikan dengan Surat Pernyataan Kesanggupan.



B. Peserta Program



1. Sasaran Peserta Program

Sasaran peserta program Kewirausahaan Pemuda untuk lembaga kepemudaan ini berjumlah 350 orang. Dana untuk setiap orang peserta rata-rata Rp. 1.000.000,- 



2. Kriteria

Kriteria peserta program adalah:

a. Pemuda usia produktif (18-35 tahun),

b. Menganggur

c. Berasal dari keluarga tidak mampu;

d. Minimal dapat baca, tulis, hitung;

e. Memiliki kemauan untuk belajar dan bekerja, dibuktikan dengan Surat Pernyataan Kesanggupan Peserta Program.



3. Rekrutmen dan Seleksi

a. Lembaga penyelenggara program melakukan rekrutmen dan seleksi peserta program.

b. Rekrutmen dan seleksi dapat dilakukan baik sendiri maupun dengan pihak lain.

c. Lembaga kepemudaan tingkat nasional dapat mengajukan peserta program sejumlah 50 sampai dengan 75 orang.

d. BPKB dalam rangka pengembangan model kewirausahaan pemuda dapat mengajukan peserta program sejumlah 25 sampai dengan 50 orang.



3. Fasilitas dan Program Pembelajaran

a. Fasilitas pembelajaran yang menjadi tanggungjawab lembaga penyelenggara, diantaranya: gedung, mebeler, alat-alat praktek, dan sebagainya.

b. Lembaga penyelenggara wajib menyusun kurikulum dan bahan ajar sesuai dengan peluang dan kebutuhan dunia kerja dan/atau usaha mandiri.

c. Lembaga penyelenggara wajib menyediakan tenaga pendidik/ instruktur yang kompeten di bidangnya.

d. Lembaga penyelenggara wajib melakukan evaluasi di akhir kegiatan pembelajaran.

e. Sebagai tindak lanjut program, lembaga penyelenggara dapat melakukan pendampingan untuk merintis usaha mandiri.



C. Jenis Keterampilan/Vokasi 

Keterampilan yang diselenggarakan dalam program kewirausahaan pemuda adalah jenis keterampilan yang sesuai dengan peluang usaha dan kebutuhan dunia kerja, antara lain:

Bidang Jasa

Bidang Produksi
1.
Menjahit
1.
Pertanian
2
Tata Kecantikan Kulit/Rambut
2
Perkebunan
3
Tata Rias Pengantin
3
Perikanan darat dan laut
4
Jasa Boga
4
Kehutanan
5
Otomotif/perbengkelan/Stir Mobil
5
Peternakan
6
Elektronika
6
Pertamanan
7
Komputer
7
Keterampilan produksi lainnya
8
Pariwisata (Perhotelan)

yang dianggap laku di pasar
9
Sablon

sekitar (marketable)
10
Service Handphone


11
Pertukangan


12
Bengkel Las


13
Pramuwisma


14
Jenis Keterampilan bidang jasa lainnya sesuai kebutuhan pasar kerja dan usaha di lingkungan masyarakat




D. Program Pembelajaran 

a. Kurikulum sebagai acuan dalam proses pembelajaran disediakan oleh penyelenggara berdasarkan kebutuhan pelatihan dan pengembangan usaha.

b. Kurikulum pelatihan Kewirausahaan Pemuda melalui lembaga kepemudaan mencakup empat kecakapan, yaitu;

1). Kecakapan personal; ketaqwaan, kejujuran, kemandirian, disiplin, kerja keras, semangat untuk maju untuk menunjang kewirausahaan pemuda;

2). Kecakapan sosial; toleransi, kerjasama, gotong royong, komunikasi sosial untuk menunjang kewirausahaan;

3). Kecakapan fungsional dalam kewirausahaan dideskripsikan sebagai kecakapan:

a) Mengenal alat-alat produksi

b) Menggunakan alat-alat secara benar

c) Mengenal karakter bahan sesuai dengan kriteria yang benar

d) Dapat melaksanakan pekerjaan dengan tata kerja yang tepat 

dan cermat, sehingga kecil kemungkinan kesalahannya.

4). Kecakapan manajerial menggambarkan kemampuan:

a) Mengidentifikasi dan mengenal potensi usaha

b) Mengenal karakter pembeli

c) Mengenal masalah yang mungkin timbul secara antisipatif

d) Mengenal tata kelola usaha sesuai dengan format yang baku

e) Memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah secara baik

f) Memiliki kemampuan untuk memimpin dan mengatur tiga kelompok secara profesional dan proporsional



Deskripsi materi dan metode pembelajaran menjadi tanggung jawab oleh penyelenggara.



c. Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan pemuda untuk Kewirausahaan Pemuda melalui lembaga kepemudaan menekankan pada penguasaan keterampilan berwirausaha yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia, dan dilatih oleh narasumber yang memiliki kapasitas, pengalaman dan kemampuan sebagai pelaku usaha, yang telah terbukti sebagai pengusaha yang sukses.





E. Pemanfaatan Dana

Komposisi penggunaan dana sebagai berikut:

1. Biaya manajemen (maksimal 10%), dipergunakan untuk keperluan manajemen penyelenggaraan program, misalnya: honorarium pengelola, penyusunan proposal, biaya rapat-rapat, dan biaya-biaya lain yang menunjang kelancaran penyelenggaraan program.





2. Biaya penyelenggaraan Pelatihan (maksimal 40%), dipergunakan untuk publikasi, rekrutmen Peserta Program, honorarium pendidik, bahan dan peralatan praktek, laporan dan dokumentasi, bahan habis pakai termasuk ATK, dan biaya operasional tidak langsung seperti biaya daya dan jasa, pemeliharaan peralatan serta biaya operasional lainnya yang menunjang proses pembelajaran.

3. Biaya Pemandirian Usaha/Modal (minimal 50%), dipergunakan untuk kepentingan pembelian bahan dan alat oprasional untuk pemandirian.

























































Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Popular Posts

  • CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)
    CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)  Obat batuk dengan efek jangka panjang 10 – 12 jam  KOMPOSISI  Codipront Kapsul  Tiap Kapsul mengandun...
  • GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)
    GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)  Obat Generik : Gentamicin / Gentamisin Sulfat Obat Bermerek : Balticin, Bioderm, Dermabiotik, De...
  • Jenis - Jenis Obat Kortikosteroid
    Obat Kortikosteroid  Oradexon Tablet dan Injeksi ORADEXON Tablet, Suntik (Dexamethasone / Deksametason) Obat Generik : Dexamethasone...
  • BACTROBAN Krim / Salep Kulit (Mupirocin)
    Nama Obat Generik : Mupirocin / Mupirosin  Nama Obat Bermerek : Bactroban  KOMPOSISI / KANDUNGAN  Tiap 1 gram Bactroban Krim mengandung Mupi...
  • Contoh Latar Belakang Manajemen
    A.     Latar Belakang Manajemen  Sesungguhnya mulai kapan teori manajemen itu ada? Yaitu mulai sejak para pelaku usaha berkecimpung memi...
My Ping in TotalPing.com
My Ping in TotalPing.com

Labels

  • Cara Mengatasi Penyakit
  • Dunia Kesehatan
  • Hukum pidana
  • Manajemen

Popular Posts

  • CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)
    CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)  Obat batuk dengan efek jangka panjang 10 – 12 jam  KOMPOSISI  Codipront Kapsul  Tiap Kapsul mengandun...
  • GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)
    GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)  Obat Generik : Gentamicin / Gentamisin Sulfat Obat Bermerek : Balticin, Bioderm, Dermabiotik, De...

Pages

  • Home
Copyright © 2015 Tujuan I - Pendidikan Online . All rights reserved. My Notes Template. Simple Default Template edited by RT Media ™. Powered by Login