• Home
  • About
  • Contact
  • Sitemap
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Advertise

Tujuan I - Pendidikan Online

Tujuan I -  Pendidikan Online

Ahok Djarot Pilkada DKI

  • AHOK DJAROT PILKADA DKI
  • Home
  • DUNIA KESEHATAN
  • HUKUM PIDANA
  • MANAJEMEN
  • DAFTAR OBAT MUNTAH
  • SURAT LAMARAN KERJA
  • ▼
Home → Semua Post Berkategori Kesehatan
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Infeksi  Ancylostoma duodenale

Infeksi Ancylostoma duodenale

Unknown
10:33 AM
Ancylostoma duodenale 



Infeksi parasit cacing ini banyak di laporkan di Eropa Selatan, Afrika Utara, India, China, Asia Tenggara, Amerika dan Kepulauan Karibia. Cacing ini adalah cacing kait (hook worm) pertama yang diketahui daur hidupnya pada tahun 1896 oleh Arthur Loos. Cacing jantan panjangnya 8-11 mm, betina 10-13 mm. 

Daur hidup 

Cacing betina dapat bertelur dalam jumlah 25000-30000 butir/hari pada kondisi lembab dan dingin atau pada suhu optimum 23oC-30oC, sehingga telur menetas menjadi larva kemudian menjadi cacing muda yang infektif. Cacing muda melakukan penetrasi melalui kulit hospes definitif, kemudian mengikuti aliran darah masuk kedalam paru-paru, alveoli, bronchus kemudian ke pharinx. Kemudian cacing tertelan masuk kedalam intestinum dan bergerak dan mengait dinding intestinum memakan darah dan jaringan eksudat. Cacing betina kemudian bertelur dan dikeluarkan melalui feses. 

Patologi 

Patolofi dari cacing kait ada 3 fase yaitu: fase invasi, fase migrasi dan fase intestinal. 

Larva infektif masuk melakukan penetrasi melalui kulit dan menyebabkan kerusakan kecil pada bagian superfisial kulit. Di dalam pembuluh darah cacing merangsang terjadinya reaksi seluler yang dapat mengisolasi cacing dan membunuhnya. Sehingga dapat menimbulkan reaksi alergik atau urticaria. 

Bila cacing dapat mencapai paru, larva masuk kedalam alveoli dan bergerak ke bronchi kemudian ke pharinx. Setiap lokasi dimana larva lewat akan terjadi hemoragik yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi sekunder. Fase ini menimbulkan batuk kering yang ringan, tetapi bila infeksinya berat dapat menyebabkan pneumonitis. 

Fase intestinal adalah periode yang paling penting dari patologi cacing ini. Pada waktu mencapai usus halus cacing muda mengait mukosa dengan giginya yang kuat (buccal kapsul dan gigi) dan mulai memakan darah. Pada kasus infeksi yang berat cacing ditemukan dari pylorus gastrium sampai ke colon bagian atas, tetapi biasanya cacing ditemukan terbatas pada sepertiga bagian atas dari usus halus. Cacing bergerak dari satu tempat ketempat lain, tetapi perdarahan pada lokasi yang ditinggalkan perdarahan segera terhenti. Diperkirakan penderrita kehilangan darah 0,15 ml perhari per ekor cacing. Sehingga pasien dapat kehilangan darah sampai 200 ml pada infeksi yang berat. Hal tersebut secara sedikit demi sedikit pasien akan kehilangan zat besi dan akan menimbulkan gejala defisiensi Fe. Gejala anemia terjadi pada penderita yang mengalami infeksi berat, gejala lain yang terlihat ialah adalah sakit perut dan anoreksia. 

Pada infeksi yang berat pasien akan menderita defisiensi protein dengan gejala rambut dan kulit mengering, edema. Pada anak-anak menyebabkan masa kedewasaan terhambat, kemunduran mental, gangguan jantung dan kematian. 

Diagnosis dan pengobatan 

Dengan menemukan telur cacing dalam feses dapat menentukan infeksi cacing ini. Bila memeprkirakan jumlah ccing yang menginfeksi dapat dilakukan dengan menghitung telur cacing per gram feses. 

Pengobatan tidak selalu memuaskan untuk membunuh cacing ini beberapa obat dicoba hasilnya sebagai berikut: 

-Hexylresorcinol: cukup baik tetapi menimbulkan efek yang tidak dikehendaki karena obat ini sangat mengiritasi saluran cerna. 

-Tetrachlor etylen: mudah dilakukan dan cukup baik hasilnya serta murah harganya. Obat ini sangat baik untuk A. duodenale dan N. americanus, tetapi tidak efektif terhadap Ascaris. 

-Bephenium hydroksinaphtoat, Pyrantel pamoat dan mebendazole: efektif terhadap cacing kait ini dan juga terhadap Ascaris. 

Parasit yang mirip: 

-Necator americanus, juga merupakan cacing kait, banyak dilaporkan di Amerika 

-Ancylostoma malayanum Dilaporkan di Malaysia dan India 

-A. Ceylanicum: dilaporkan di Srilangka, Asia Tenggara, India Timur dan Filippina 

-A. baraziliensis: Dilaporkan di Brazil dan daerah tropik lainnya.
Strongyloides stercoralis

Strongyloides stercoralis

Unknown
10:32 AM
Strongyloides stercoralis Adalah merupakan salah satu cacing nematoda yang terkecil yang sering menginfeksi orang dan hewan, seperti anjing, kucing dan ruminansia. Cacing S. papillosus menginfeksi hewan domba, S. ransoni, pada babi dan S. ratti Pada tikus. Cacing betina panjangnya 2,0-2,5 mm, dan yangt jantan sekitar 0,7 mm. 



Daur hidup 

Cacing betina menancapkan bagian depan tubuhnya (anterior end) didalam mukosa usus halus dan sampai kedalam sub mukosa. Cacing dewasa tersebut juga kadang dijumpai dala sistem saluran nafas, kantong empedu dan dalam pankreas. Cacing betina memproduksi telur yang telah berembrio dan dikeluarkan dalam submukosa atau lumen usus. Telur berukuran 50-58 um x 30-34 um. Telur tersebut menetas didalam submukosa atau waktu masuk kedalam lumen usus, dan cacing muda berada dalam lumen usus kemudian dikeluarkan melalui feses. Cacing muda bentuk filaria akan menginfeksi hospes melalui pori kulit atau tertelan masuk slauran pencernaan. Cacing muda yang masuk melalui kulit akan terbawa aliran darah menuju paru dan masuk kedalam alveoli, bergerak ke trachea yang kemudian menjadi dewasa dan bertelur didalam usus halus. Sedangkan yang masuk melalui mulut, akan langsung menjadi dewasa didalam usus halus. Cacing dewasa juga dapat hidup diluar hospes (free living adults), yaitu didalam tanah dan bertelur yang kemudian menetas dan menjadi cacing muda yang infektif dan dapat menginfeksi hospes. Tetapi bila tidak menginfeksi, cacing juga dapat tumbuh menjadi dewasa dan dapat memproduksi telur. Sehingga disini ada dua bentuk dar hidup yaitu: 1. Daur hidup heterogenik dan 2. Daur hidup homogenik. 

Bilaman cacing muda berkesempatan moulting dua kali pada saat turun kebawah saluran cerna, cacing tersebut dapat melakukan penetrasi dalam mukosa bagian bawah malalui darah dan terus menjadi dewasa lagi dalam usus. Proses tersebut disebut: Autoinfeksi. Dalam kondisi tersebut pasien dapat menderita infeksi cacing ini sampai 36 tahun. 





Patologi 

Pengaruh patologi dari cacing ini dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu: fase invasi; pulmonaris dan intestinal. 

Penetrasi melalui kulit dengan larva invasif dapat mengakibatkan perdarahan kecil dan pembengkakan sehingga menimbulkan rasa gatal pada lokasi masuknya cacing. Luka tersebut dapat menyebabkan infeksi sekundar oleh bakteri patogen yang dapat menyebabkan inflamasi. 

Selama migrasi dari cacing muda menuju paru dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru sehingga menimbulkan reaksi sel paru dan dapat sedikit memperlambat migrasi cacing tersebut. Hal ini dapat menyebabkan cacing dapat bertahan di paru dan bahkan dapat beradaptasi dan kemudian berproduksi seperti di dalam intestinum, karena cacing dapat menyesuaikan diri pada kondisi dalam paru. Hal demikian dapat menimbulkan rasa panas didaerah dada dan terjadi batuk kering (tanpa dahak) juga menyebabkan broncho-pneumonia. Gejala tersebut dapat dikelirukan dengan gejala penyakit TBC. 

Setelah tertelan, cacing betina muda masuk kedalam kripta mukosa intestinum dan cepat menjadi dewasa dan menembus jaringan sampai sub-mukosa atau sampai kedalam muskularis mukosa. Cacing bermigrasi kemukosa dan mengeluarkan telur tiap hari, pada saat ini akan timbul rasa sakit dan panas pada perut. Kerusakan jaringan oleh cacing dewasa dan larva menimbulkan pengelupasan mukosa dan pada kondisi kronis dapat diganti oleh jaringan ikat kadang menimbulkan nekrotik jaringan yang diikuti oleh ilserasi dari intestinum. 



Diagnosis 

Dengan cara fecal smear secara langsung biasanya segera dapat terdeteksi pada kasus infeksi yang berat. Pada kasus terjadinya diare, telur dapat dilihat dalam feses dan bentuknya mirip dengan telur cacing kait (hook worm) tetapi lebih bulat. 

Pengobatan 

Yang paling efektif adalah dengan Thiabendazole
APA ITU LOA LOA

APA ITU LOA LOA

Unknown
10:31 AM


Loa-loa 



Adalah cacing mata yang menyebabkan penyakit disebut loaiasis atau pembengkana Calabar (Calabar swelling/fugitive swelling). Penyakit banyak dilaporkan menginfeksi orang di hutan hujan (rain forest) Afrika Barat dan Sudan. 

Daur hidup 

Cacing dewasa hidup dibawah kulit daerah punggung, pinggang, axila, penis dan mata. Mikrofilaria ditemukan secara periodik di sirkulasi darah perifer pada waktu siang hari dan di daerah paru pada waktu malam hari. Hospes intermedier adalah lalat Chrysops yang menggigit kulit dan menghisap darah sehingga membawa mikrofilaria dalam tubuh hospes tersebut. Larva berkembang menjadi fase ke 3 dan dlam bentuk filariform muda dan bermigrasi ke mulut. Periode prepatent pada manusia sekitar 1 tahun dan cacing dewasa dapat hidup 15 tahun. 

Patologi 

Cacing bergerak di bawah dibawah kulit diantara jaringan dan menyebabkan respons radang. Bila cacing tinggal di suatu lokasi menimbulkan pembengkakan disebut “Calabar swelling”, dan kemudian menghilang bila cacing bergerak kelain tempat. Cacing dapat bermigrasi ke comjungtiva dan kornea. 

Diagnosis dan pengobatan 

Diagnosis tepat dengan menemukan mikrofilaria dalam darah. Cacing dewasa dapat dilihat dibawah kulit, dalam kornea dan persambungan tulang hidung. Diagnosis dapat dikelirukan dengan Onchocercosis. Pengobatan terutama deilakukan dengan operasi untuk mengambil cacing dewasa. Pengobatan dapat digunakan seperti pengobatan penyakit filariasis yaitu Dietyl carbamazin dan Metronidazole. 



Dioctophyma renale 



Caccing ini merupakan cacing yang terbesar diantara klas nematoda, cacing jantan panjangnya sampai 20 cm dan lebar 6mm; cacing betina panjangnya mencapai 100 cm lebar 12 mm, berwarna merah. 



Daur hidup 

Telur yang berkulit tebal memerlukan 6 bulan untuk membentuk embrio didalam air. Telur dimakan oleh anelida, sejenis cacing Lumbricus variegatus dan segera menetas menjadi cacing muda stadium satu. Kemudian penetrasi melalui dinding saluran darah abdominal berkembang menjadi stadium 4. Bila anelida tersebut tertelan oleh hospes intermedier, cacing bermigrasi ke ginjal dan menjadi dewasa. Tetapi bila dimakan oleh ikan, cacing muda akan membentuk cyste didalam daging ikan atau viscera ikan, disini ikan adalah hospes Paratenik. Bila ikan dimakan oleh hospes definitif, cacing muda akan melakukan penetrasi kedalam duodenum kemudian masuk kedalam ginjal dan menjadi dewasa (biasanya ginjal bagian kanan). Cacing dewasa bertelur dan telur dikeluarkan lewat urine. 



Patologi 

Neurosis terjadi karena tekanan dari cacing bersamaan dengan aktifitas makan dari parsit tersebut. Hal tersebut meyebabkan ginjal yang terkena dindingnya menipis, fungsi ginjal menurun bahkan menjadi tidak berfungsi dan menyebabkan toksisitas uremia. 



Diagnosis dan pengobatan 

Karena kasusnya sangat jarang maka dokter kadang tidak menduga dan tidak mendiagnosis secara tepat. Dengan ditemukannya telur cacing dalam urine adalah satu-satunya diagnosis yang tepat. Satu-satunya cara pengobatan ialah dengan operasi pengambilan cacing dari ginjal.
Penyakit  Onchocerca volvulus

Penyakit Onchocerca volvulus

Unknown
10:30 AM
Onchocerca volvulus 



Infeksi cacing ini telah dilaporkan di daerah Afrika, Arab, Guatemala, Meksiko, Venezuela dan Colombia. Morfologinya mirip dengan W. brancofti. Cacing jantan panjang 19=42 cm, betina 33,5-50 cm 

Daur hidup 

Cacing dewasa berlokasi dibawah kulit dan akan terbentuk kapsula karena reaksi tubuh hospes. Bilamana berlokasi dekat tulang seperti persendian atau diatas tulang kepala, nodule yang permanen akan terjadi. 

Mikrofilaria berada dalam kulit kemudian terhisap oleh lalat penghisap darah/lalat hitam/bleck fly (Simulium damnosum) sebagai hospes intermedier. Bagian mulut lalat tidak menembus terlalu dalam, berisi cairan kental yang penuh dengan mikrofilaria. Fase pertama dari larva cacing bergerak dari saluran cerna lalat ke otot dada. Kemudian mengalami moulting yang kemudian moulting lagi menjadi larva infektif menjadi bentuk filaria (filariform), filaria muda bergerak kearah mulut lalat dan akan menginfeksi hospes definitif baru. Filaria tumbuh menjadi dewassa tinggal dibawah kulit selama kurang dari 1 tahun. Cacing biasanya berpasangan. Cacing yang berada dibawah kulit atau dibawah kulit yang lebih dalam akan memproduksi mikrofilaria. Mikrofilaria kemudian menginvasi kepermukaan kulit dan akan terhisap oleh hospes intermedier. 

Patologi 

Ada dua hal yang menyebabkan efek patologi yaitu: cacing dewasa dan mikrofilaria. Dari kedua bentuk cacing tersebut, bentuk cacing dewasa tidak begitu patogenik dan bahkan kadang tidak menunjukkan gejala sakit. Tetapi pada kondisi yang buruk cacing didalam subkutan membentuk nodule disebut “Onchocercomas”, terutama yang menetap didekat tulang. Didaerah Amerika Tengah kebanyakan penderita terdapat nodule diantara tulang rusuk dan paha dan juga didaerah leher dan kepala. Nodule tersebut berbentuk benigna dan relatif tidak sakit. Jumlah nodule berfariasi dari hanya satu sampai ratusan. Nodule tersebut terutama berisi jaringan serabut kolagen yang mengelilingi beberapa cacing dewasa. Nodule akan mengalami degenerasi dapat membentuk abses atau kalsifikasi. 

Hadirnya mikrofilaria didaerah kulit menyebabkan dermatitis yang berat yang menyebabkan reaksi alergik dan efek toksik disebabkan matinya cacing muda. Gejala pertama adalah gatal-gatal yang menyebabkan luka dn terinfeksi oleh bakteri (infeksi sekunder). Kemudian diikuti dispigmentasi kulit lokal atau lebih luas, kemudian diikuti penebalan kulit dan kulit menjadi pecah-pecah. Gejala menyerupai avitaminosis A, hal tersebut diduga parasit berkompetisi dengan metabolisme vitamin A. 

Gejala yang lebih lanjut kulit kehilangan elastisitasnya. Depigmentasi berkembang menjadi daerah yang lebih luas terutama daerah kaki. Hal tersebut dapat dikelirukan dengan penyakit lepra. Pada kondisi yang lebih buruk lagi bila terjadi komplikasi dimana mikrofilaria mencapai kornea. Hal tersebut dalat menimbulkan inflamasi pada sklera atau bagian putih dari bola mata. Kemudian diikuti penimbunan jaringan ikat yang mengakibatkan vaskularisasi dari kornea yang dapat mengganggu penglihatan. Terjadinya penimbunan jaringan ikat (fibrous tissue) mengakibatkan pasien buta total. 

Diagnosis 

Diagnosis yang akurat dengan menemukan mikrofilaria dalam kulit. Hal tersebut dilakukan dengan mengambil sepotong kulit dengan gunting (daerah mana saja) kemudian ditaruh diatas slide kaca dan diberi tetesan garam fisiologis kemudian diperiksa dibawah mikroskop akan terlihat mikrofilaria. Diagnosis lebih spesifik dan sensitif juga dapat dilakukan dengan sistem imunodiagnostik dengan menggunakan haemaglutination tes. 

Pengobatan 

Ada dua bentuk pengobatan yaitu dengan operasi dan kemoterapi. Eksisi nodule didaerah kepala dapat mengurangi terjadinya invasi mikrofilaria kedaerah mata dan mengurangi infeksi baru dalam populasi. 

Pengobatan dengan “suramin” dapat membunuh cacing dewasa sehingga dapat menghilangkan mikrofilaria. Nodule harus diambil karena cacing yang mati karena pengobatan dapat menimbulkan abses pada nodul tersebut. “Dietilkarbamazin” dapat membunuh mikrofilaria dengan cepat tetapi tidak membunuh cacing dewasa. Tetapi bila mikrofilaria mati dengan cepat maka mikrofilaria yang mati akan menimbulkan reaksi tubuh dan kulit dapt mengkerut. Disamping itu dapat terjadi shock anapilaktik yang disebabkan oleh reaksi tubuh terhadap cacing yang mati tersebut. Obat ini lebih baik diberikan bersama antihistamin atau cortison untuk mencegah efek samping sehingga memperoleh hasil yang baik. 

Pencegahan dapat dilakukan dengan memberantas hospes intermedier lalat Simulium sp. Pemebrantasan dilakukan dengan insektisida yang sesuai. 

Penyakit  Wucheria brancofti

Penyakit Wucheria brancofti

Unknown
10:29 AM
Wucheria brancofti (Filariasis/elephantiasis) 



Cacing ini menyebabkan penyakit disebut “Elephantiasis”, karena pembengkakan yang luar biasa pada bagian tubuh manusia (terutama kaki). Penyakit ini juga disebut “filariasis” yang menyerang orang daerah Afrika Tengah, delta sungai Nile, Turki, India, Asia Tenggara, India Timur, Kepulauan Oceania, Australia dan Amerika Selatan. Filariasis menyebabkan gangguan fisiologi yang besar pada tentara Amerika yang bertugas di Pasifik pada Perang Dunia ke II. Cacing berukuran panjang 40 mm dan diameter 100 mm pada cacing jantan; cacing betina panjang 6-10 cm dan diameter 300 mm. 



Daur hidup 

Cacing betina bersifat ovovivipar dan mengeluarkan ribuan mikrofilaria disekitar cairan limfe. Mikrofilaria kemudian bergerak kedalam jaringan, tetapi kebanyakan terikut aliran darah melalui duktus thoracalis. Secara periodik mikrofilaria berada dalam sistem darah perifer dan kemudian menghilang dari lokasi tersebut. Jumlah paling besar ditemukan mikrofilaria dalam darah perifer adalah pada malam hari jam 10 sampai jam 2 pagi. Pada waktu itulah nyamuk menghisap darah penderita sehingga banyak mikrofilaria terbawa oleh nyamuk tersebut. Di dalam saluran pencernaan nyamuk selama 2-6 jam, kemudian menembus dinding lambung menuju menuju otot bagian dada nyamuk dan mengalami moulting, 2 hari kemudian mengalami fase ke 2 dan berada berbagai organ. Kemudian berkembang menjadi bentuk filaria (filariform), filaria muda dengan ukuran 1,4-2 mm dan merupakan bentuk infektif ini bergerak melalui aliran darah nyamuk menuju labium atau proboscis dan akan mengeluarkan filaria pada waktu nyamuk menggigit kulit manusia dan mencapai pembuluh darah limfe akan menjadi dewasa. 



Hospes intermedier 

Nyamuk dalam genus: - Anopheles, Aedes, Culex, Mansonia. Nyamuk tersebut pada umumnya menghisap darah pada waktu malam hari. 



Patologi 

Pathogenesis dari filariasis sangat bergantung pada reaksi radang dan respon imun dan hal tersebut juga bergantung pada respon terhadap cacing dewasa terutama cacing betina. Ada 3 fase gejala klinis yaitu: 

- fase inkubasi 

- fase akut atau fase inflamatory (pembengkakan) 

- Fase obstruksi atau fase komplikasi yang disebabkan oleh lympoedema kronik. 

Fase inkubasi adalah fase antara waktu infeksi sampai terlihatnya mikrofilaria dalam darah. Fase tersebut biasanya tidak terlihat gejala tetapi akan terlihat pembengkakan pada kelenjar limfe yang disertai demam ringan. 

Fase akut inflamasi kemudian terlihat waktu cacing betina mencapai kedewasaan dan mulai mengeluarkan mikrofilaria. Pembengkakan kelenjar limfe terjadi pada separo bagian bawah tubuh disertai demam dan toksemia. Kelenjar limfe yang terkena akan membengkak dan sakit. Gejala yang sering dijumpai adalah “inguinal limfadenitis” (pembengkakan kelenjar limfe daerah inguinal), “orchitis” (pembengkakan scrotum disertai rasa sakit), “hydrocele” (cairan limfe masuk kedalam tunica vaginalis testis), “epdedymitis”(pembengkakan epidedymis). Kondisi tersebut disebut dengan elephantiasis, dimana penderita akan mengalami demam sampai mencapai suhu 40oC dalam selang waktu beberapa jam sampai hari. Perubahan pada tingkat histologi akan terlihat proliferasi sel pada daerah limfatik dengan adanya infiltrasi sel leukosit seperti polymorfonuklear dan eosinofil disekitar limfatik dan vena. Sel radang yang paling banyak dijumpai adalah limposit, sel plasma dan eosinofil. Terbentuk abces mengelilingi cacing yang yang mati yang diikuti infeksi sekunder oleh bakteri. Mikrofilaria akan menghilang dari sirkulasi darah perifer selama atau setelah fase akut. 

Fase obstruksi ini sangat nyata ditandai dengan varices pada scrotum, hydrokel dan elephantiasis. Varices limfe adalah “varicose” saluran limfe, dimana cairan limfe tidak dapat mengalir kembali karena terbendung oleh cacing sehingga saluran tersebut membesar/melebar, menyebabkan “chyluria” (cairan limfe dalam urine) yang merupakan gejala khas pada penyakit filariasis. “chyle” tersebut menyebabkan uruine berwarna keputihan seperti susu, dan kadang ada warna kemerahan karena darah juga sering dijumpai. Pada kondisi obstruksi kronis daerah yang menderita akan terisi oleh jaringan ikat atau jaringan parut (scar), setelah pembengkakan selesai. Tetapi kadang cacing yang mati diselimuti oleh jaringan keras (mengalami kalsifikasi). 

Bilamana terjadi infeksi berulang pada fase akut inflamasi ini, maka proses elephantiasis ini kembali terjadi. Hal ini disebut “limfadenitis kronis”, banyak jaringan ikat terbentuk sehingga kulit mengalami penelbalan. Pada pria organ yang mengalami elephantiasis adalah scrotum, kaki dan tangan. Pada wanita pada kaki dan tangan, sedangkan pada vulva dan payudara kadang menderita. Organ yang mengalami elephantoid biasanya terdiri jaringan ikat, jaringan granulomatif dan lemak. Kulit menjadi menebal dan pecah-pecah, infeksi sekunder oleh bakteri dan jamur dapat terjadi. Mikrofilaria pada daerah tersebut tidak ditemukan. 

Diagnosis 

Dengan menemukan mikrofilaria dalam darah adalah disgnosis yang tepat. Dengan menggunakan ulas darah tebal dilakukan pada saat cacing muda berada dalam darah perifer. Dengan radiasi sinar x, dapat melihat cacing yang mati mengalami kalsifikasi. Filariasis perlu diwaspadai bila penderita menunjukkan gejala setelah 3 bulan baru datang di daerah endemik. 

Pengobatan 

- diethylcarbamazin 

- Metronidazole 

Pada kaki yang membengkak dapat dilakukan pembalutan yang ketat untuk menekan cairan limnfe keluar dari daerah yang membesar. Hal tersebut secara perlahan dapat mengecilkan pembesaran daerah tersebut hingga mendekati normal, tetapi bila sudah terbentuk jaringan ikat (kronis), susah dapat kembali normal. Dengan jalan operasi pengambilan jaringan elephantoid dapat dilaksanakan. 

Pencegahan utama ialah menghindari gigitan nyamuk didalam daerah endemik. Penggunaan repelant, obat nyamuk dan sebagainya harus dilakukan bila orang datang ke daerah endemik. 



Parasit yang mirip 

Brugia malayi, dilaporkan mirip dengan W. brancofti, baik gejala yang ditimbulkan maupun daur hidupnya. Parasit ini menyerang orang daerah India, Indonesia, Asia Tenggara, Filipina dan Srilangka. Ukuran cacing hanya separo dari W. bracofti. 

Enterobius vermiculatus

Enterobius vermiculatus

Unknown
10:26 AM
Enterobius vermiculatus (oxyurid nematode/ cacing kremi) 


Cacing ini banyak menyerang anak balita diseluruh dunia, terutama didaerah tropik. Tetapi kejadian infeksi dilaporkan juga didaerah Alaska, daerah subtropik Florida, Sanfransisco California dan sebagainya. Dilaporkan paling sedikit 500 juta orang terinfeksi oleh parasit ini. Cacing betina panjang 8-13 mm dan jantan 1-5 mm. 

Daur hidup 

Infeksi mudah terjadi karena telur mudah tersebar dimana-mana dan telur dapat bertahan berminggu-minggu pada kondisi yang lembab dan dingin. Telur berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu 6 jam pada suhu tubuh. Telur yang mengandung fase L3 akan menetas didalam duodenum dan bergerak ke usus halus (usus kecil), akan mengalami moulting dua kali sebelum menjadi dewasa dan fase tersebut cacing mencapai ileo-cecal. Total waktu sejak telur tertelan dan menjadi dewasa adalah 15-43 hari. Cacing dewasa biasanya tinggal di daerah ileo-cecal, tetapi mereka sering bergerak sepanjang saluran gastro-intestinal dari lambung sampai ke anus. Cacing memakan sel epithel usus dan bakteri dalam usus. Cacing betina yang mengandung telur bergerak didalam lumen intestinum dan sering keluar melalui anus sampai ke perianal. Di daerah sekitar anus (perianal) cacing betina tersebut mengeluarkan telurnya sampai 4600-16000 butir telur. Cacing betina mati segera setelah mengeluarkan telur dan cacing jantan mati setelah kopulasi. Sehingga biasanya banyak ditemukan cacing betina daripada cacing jantan didalam tubuh hospes. 

Bilamana pada lipatan perianal tidak dibersihkan dalam waktu yang lama, telur yang menempel pada daerah tersebut akan menetas dan larva bergerak masuk kedalam anus kemudian menuju usus. Proses tersebut dinamakan “Retrofection”. Proses penetasan telur di dalam intestinum tidak pernah terjadi, kecuali bilamana terjadi konstipasi. 

Patologi 

Pada infeksi ringan tidak menimbulkan gejala dan sering diabaikan. Tetapi bila terjadi infeksi berat dan sejumlah besar cacing berada da;am usus akan menimbulkan gejala serius. Sehingga patogenesis dapat menyebabkan dua aspek yaitu: 

1. Kerusakan disebabkan oleh cacing dalam intestinum 

2. Kerusakan disebabkan oleh deposit telur cacing disekitar anus. 

Timbulnya kerusakan pada mukosa intestinal karena perlekatan dengan cacing dewasa menyebabkan pembengkakan ringan dan menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri. Pergerakan cacing betina keluar dari anus dan melepaskan telur, terutama bila penderita sedang tidur, menyebabkan gatal sekitar anus, sehingga penderita menggaruknya. Garukan tersebut dapat menimbulkan luka berdarah sehingga timbul infeksi sekunder oleh bakteri. Rasa gatal pada usus tersebut menyebabkan pasien menjadi merasa tidak nyaman. 

Sering dijumpai cacing bergerak masuk kedalam vulva (pada wanita), dan cacing tersebut tinggal beberapa hari di lokasi tersebut sehingga menyebabkan iritasi ringan. Beberapa kasus dilaporkan cacing bergerak keatas masuk vagina, uterus dan sampai oviduct menerobos terus membentuk cysta di peritoneum. 

Anak yang terinfeksi berat oleh cacing ini menyebabkan nervous, gelisah dan iritasi sehingga megakibatkan anoreksia, kurus, tidak bisa tidur dan kesakitan pada lokasi sekitar anus. 

Diagnosis 

Diagnosis positif bila ditemukan telur ataupun cacing pada tubuh pasien. Pada umumnya dengan pemeriksaan feses tidak memuaskan karena hanya sedikit telur yang dikelusrkan dalam intestinum sehingga sedikit pula telur yang keluar melalui feses. Pada infeksi yang berat telur dapat ditemukan pada ekitar anus dan akan terlihat dengan penerangan lampu yang terang pada malam hari dan pagi hari. Cacing yang bergerak terlihat menggeliat disekitar anus dan mudah terlihat disekitar lipatan anus. 

Sepotong selopan tape ditempelkan pada sekeping kayu tipis dengan permukaan yang lengket menghadap keluar, kemudian ditempelkan pada lokasi sekitar anus dan perianus. Selopan kemudian ditempelkan diatas slide kaca. Diteteskan satu tetes xylen atau toluen pada permukaan selopan sehingga melarutkan zat perekat dan dilihat dibawah mikroskop akan terlihat telur cacing tersebut. Hal tersebut dilakukan waktu pasien baru bangun. 

Pengobatan 

Dengan obat piperazin sitrat, pyrinium pamoat dan mebendazole, sangat efektif terhadap cacing ini, pengobatan harus diulang setelah 10 hari untuk membunuh cacing yang masih hidup pada pengobatan pertama. Bersamaan dengan pengobatan tersebut, sanitasi lingkungan rumah harus dilakukan. Semua anggota rumah harus diobati, wlaupun mereka tidak menunjukkan gejala sakit. 

Walaupun diagnosis dan perawatan enterobiasis ini relatif mudah, pencegahan terjadinya reinfeksi lebih sulit dilakukan dan kebersihan individu sangat penting. Semua selimut, sprei, handuk harus direndam dalam air panas dan rumah dibersihkan sebersih mungkin untuk menurunkan prevalensi dari telur infektif dalam rumah tersebut. 

Sistem Reproduksi pada Manusia :

Sistem Reproduksi pada Manusia :

Unknown
10:21 AM
Sistem Reproduksi pada Manusia : 


Organ Reproduksi pada Manusi
Organ Reproduksi Pria 



Bagian Luar : 

Penis : berfungsi untuk memasukkan sperma ke dalam alat reproduksi wanita. 

Skrotum : berfungsi untuk untuk membungkus testis. 



Bagian Dalam: 

Testis : berfungsi menghasilkan sperma dan hormon kelamin (testosteron). 



Saluran Reproduksi : 

- Epididimis : merupakan saluran (tubulus) yang berkelok-kelok yang keluar dari testis sebagai tempat dan penyimpanan sperma sementara waktu. 

- Vas deferens :saluran vas deferens menghubungkan testis dengan kantong sperma (vesikula seminalis). Kantong sperma ini sebagai tempat penampungan sementara sperma. 



Kelenjar Kelamin : terdiri dari, 

- Kelenjar Prostat, merupakan penghasil cairan basa, pelindung sperma dari pengaruh luar. 

- Kelenjar Cowpery, merupakan penghasil lendir untuk melumasi saluran sperma keluar tubuh. 


Organ Reproduksi Wanita 



Bagian Luar : 

Vulva : merupakan celah paling luar dari alat kelamin wanita. 

Mons Pubis : terletak di bawah perut berupa gundukan lemak yang tertutup oleh rabmut pubis. 

Labium (bibir yang membatasivulva) : ada dua pasang labium, yaitu labium mayor (bibir besar) di sebelah luar dan labium minor (bibir kecil) di sebelah dalam. 

Clitoris : terletak pada pertemuan antara kedua labium minora dan dasar mons pubis. 



Bagian Dalam : 

Uterus / rahim : merupakan bagian yang mempunyai peranan vital (sebagai tempat perkembangan embrio menjadi janin). 

Oviduk / tuba fallopi : merupakan sepasang saluran dengan panjang kurang lebih 10 cm yang berada di samping kanan dan kiri dari rahim, dan salah satu ujungnya bermuara di rahim. Berfungsi sebagai tempat terjadinya pembuahan. 

Ovarium : berfungsi menghasilkan ovum (sel telur). Juga menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. 

Vagina : berfungsi sebagai jalan keluarnya embrio dan sebagai alat kopulasi. 



Proses Reproduksi pada Manusia 



Proses pembentukan gamet (sel kelamin) 

- Pembentukan gamet jantan (sperma) : disebut spermatogenesis terjadi pada tubulus seminiferus. 

- Pembentukan gamet betina (ovum) : disebut oogenesis terjadi di dalam ovarium. 



Menstruasi : terlepasnya ovum yang sudah masak dari ovarium ke oviduk dinamakan ovulasi. Siklus ini terjadi setiap 28 hari sekali. Bila tidak terjadi pembuahan (fertilisasi), maka dinding rahim akan mengalami peluruhan, hingga mengeluarkan darah yang disebut menstruasi (kurang lebih 7 hari dalam sebulan). Ada 4 fase : menstruasi, praovulasi, ovulasi, pasca ovulasi). 



Kehamilan : fertilisasi à zygote à ke rahim à embrio (janin) à berkembang di dalam rahim yang dilindungi oleh amnion dan mendapat suplai makanan dari induk melalui plasenta dan tali pusar. 



Hormone yang berperan dalam Reproduksi 

1. FSH (Folikel Stimulating Hormon) : dihasilkan oleh Kelenjar Hipofisis. Pada laki-laki berfungsi dalam pembentukan sel-sel interstiil, pada wanita berfungsi memacu terbentuknya folikel dalam ovum. 

2. LH (Luteinizing Hormon) : pada laki-laki berperan dalam pembentukan Hormon Testosteron, pada wanita berperan dalam pematangan ovum. 

3. Hormone Testosteron : berperan dalam pertumbuhan sekunder pria dan spermatogenesis. 

4. Hormone Progesteron : berfungsi mempengaruhi penebalan dinding rahim dan menghambat produksi LH. 

5. Hormon Oksitosin : dihasilkan oleh Kelenjar Hipofisis dan berfungsi mempengaruhi kontraksi uterus saat persalinan. 

6. Hormon Protoglandin : mengatasi progesterone yang menghambat kontraksi uterus. 

7. Hormone Relaksin : berfungsi mempengaruhi peregangan simfisis pubis saat wanita akan melahirkan. 



Penyakit pada Sistem Reproduksi Manusia 



1. Kencing nanah (Gonorhoeae): penyakit kelamin karena adanya infeksi yang disebabkan bakteri Neisseria gonorrhoeae. Gejalanya keluarnya cairan seperti nanah dari saluran kelamin disertai rasa nyeri dan panas. 

2. Sifilis : penyakit kelamin karena adanya infeksi yang disebabkan oleh bakteri Triponema pallidum. 

3. AIDS (Acquired Immune Deficiency Sndrome) : penyakit yang ditandai dengan menurunnya system kekebalan tubuh sebagai akibat infeksi HIV (Human Immunodificiency Virus). Cara penularan melalui : hubungan seksual, transfuse darah, janrum suntik yang tidak steril, jarum tato. 

4. Herpes genetalis : penyakit kelamin yang disebabkan oleh Virus Herpes sipleks. Gejalanya sakit atau gatal di daerah kelamin. 

5. Kanker leher Rahim : usia antara 31 – 60 tahun. Gejalanya mirip dengan gejala keputihan, namun tidak disertai gatal. Nyeri dan dengan disertai pendarahan. 

6. Endometriosis : wanita yang sedang menstruasi. Gejalanya timbul rasa nyeri bahkan sakit yang luar biasa.
Cara Pencegahan dan Pengobatan Keputihan

Cara Pencegahan dan Pengobatan Keputihan

Unknown
9:57 AM
Pencegahan dan Pengobatan 


Pencegahan untuk menjaga kesehatan vagina: 

* Obat antiseptik 

Jangan membersihkan vagina dengan obat-obatan antiseptik setiap hari atau sebentar-sebentar dicuci. Bila hendak membersihkan dengan menggunakan obat-obatan cukup dilakukan dua minggu sekali, yaitu di pertengahan siklus menstruasi. 

* Harus steril 

Penggunaan tisu basah atau produk panty liner harus betul-betul steril. Bahkan, kemasannya pun harus diperhatikan. Jangan sampai menyimpan sembarangan, misalnya tanpa kemasan ditaruh dalam tas bercampur dengan barang lainnya. Karena bila dalam keadaan terbuka, bisa saja panty liner atau tisu basah tersebut sudah terkontaminasi. 

* Tidak lembab 

Perhatikan kebersihan setelah buang air besar atau kecil. Setelah bersih, jangan lupa untuk mengelapnya dengan tisu kering atau handuk khusus. Jangan dibiarkan dalam keadaan lembab. 

* Kebersihan air 

Bila buang air kecil di tempat umum, perhatikan kebersihan airnya. Bila ragu, sebaiknya dilap saja dengan tisu. 

* Gunakan bahan katun 

Jangan sekali-kali menggunakan celana yang berbahan nilon. Bahan katun lebih baik karena menyerap keringat. 

* Tak perlu dibedaki 

Jangan memberi bedak/talk pada daerah vagina. Karena bisa menimbulkan keganasan (kanker) di indung telur. 

* Berkaitan dengan sanggama 

Bila melakukan senggama, usahakan sebelum dan sesudahnya baik isteri maupun suami, menjaga kebersihan alat kelaminnya. 

Pengobatannya: karena gejala awalnya berupa keputihan, sadar atau tidak sering mengabaikan infeksi vagina. terkadang karena tingkat kesadaran yang belum baik atau karena masalah finansial, wanita tersebut belum merasa perlu datang ke dokter, belum mengganggapnya sebagai suatu infeksi yang memerlukan bantuan dokter.Kadang wanita menganggap cukup diatasi cara tradisional dengan menggunakan rebusan daun air sirih untuk membersihkan vagina. Ada pula yang menggunakan semacam alat penyerap air berupa kapur batangan yang dimasukkan ke dalam vagina, dengan harapan agar tak "becek". Padahal itu belum tentu steril, untuk amannya, seharusnya meminta bantuan dokter. Dengan pemeriksaan medis sekaligus dapat diketahui penyebab keputihan tersebut, karena infeksi atau bukan. Walaupun demikian, untuk mendiagnosa terinfeksi tidaknya vagina memang tidak mudah. Harus diambil cairannya, kemudian dikirim ke laboratorium untuk dibiakkan. Ini bisa memakan waktu sepuluh hari sampai dua minggu. Sementara untuk mengobati infeksi tersebut, dokter akan melihat dari gejalanya, baru diberikan obat atau penanganan lebih lanjut yang tepat. Penanganannya bisa berbeda-beda, tergantung dari jenisnya. Untuk bakterial vaginosis, trichomonas ataupun kandida, hampir sama dengan pemberian obat kelompok metronidazole (obat anti jamur). Obat-obat ini umumnya dipasarkan dengan merek dagang tertentu. Ada obat yang diminum, ada pula yang berupa salep. Jadi, sasarannya pada dua tempat, yaitu penyembuhan dari dalam dengan cara meminum obat dan penyembuhan dari luar dengan cara dioleskan dengan salep. Namun, infeksi vagina akibat Condyloma acuminata harus dilakukan tindakan operasi karena adanya pertumbuhan seperti kembang kol. 

Cara Membuat Latar Belakang Masalah Tentlang Kesehatan

Cara Membuat Latar Belakang Masalah Tentlang Kesehatan

Unknown
9:49 AM
Latar Belakang 

Kesehatan merupakan hak dasar yang di miliki manusia dan menentukan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia,di samping itu juga merupakan karunia Tuhan yang perlu di pelihara dan di tingkatkan kualitasnya serta di lindungi dari ancaman yang merugikannya. Derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor : lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Perilaku sehat adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan masyarakat (Depkes, 2002) 

Kesehatan reproduksi di kalangan wanita harus memperoleh perhatian yang serius. Beberapa penyakit-penyakit infeksi organ reproduksi wanita adalah trikomoniasis, veginosis bakterial, kandidiasisvulvovaginitis, gonore, klamida, sifilis, ulkus mote/ chncroid. Salah satu gejala dan tanda-tanda penyakit infeksi organ reproduksi wanita adalah terjadinya keputihan. Keputihan merupakan salah satu masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Keputihan (Fluor Albus) adalah cairan berlebih yang keluar dari vagina (Dwiana, 2008) 

Banyak wanita di Indonesia yang tidak tahu tentang keputihan sehingga mereka menggangap keputihan sebagai hal yang umum dan sepele, di samping itu rasa malu ketika mengalami keputihan kerap membuat wanita enggan berkonsultasi ke dokter. Padahal keputihan tidak bisa di anggap sepele, karena akibat dari keputihan ini sangat fatal bila lambat di tangani tidak hanya bisa mengakibatkan kemandulan dan hamil di luar kandungan, keputihan juga bisa merupakan gejala awal dari kanker leher yang bisa berujung pada kematian. (Sugi, 2009). 

Meskipun termasuk penyakit yang sederhana kenyataanya keputihan adalah penyakit yang tak mudah di sembuhkan. Penyakit ini menyerang sekitar 50 % populasi perempuan dan mengenai hampir pada semua umur. Data penelitian tentang kesehatan reproduksi wanita menunjukkan 75 % wanita di dunia pasti menderita keputihan paling tidak sekali umur hidup dan 45 % di antaranya bisa mengalaminya sebanyak dua kali atau lebih (Putu, 2009) 

Di Indonesia, wanita yang mengalami keputihan ini sangat besar, 75 % wanita Indonesia pasti mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya. Angka ini berbeda tajam dengan eropa yang hanya 25 % saja. Kondisi cuaca Indonesia yang lembab menjadi salah satu penyebab banyaknya wanita Indonesia yang mengalami keputihan, hal ini berbeda dengan eropa yang hawanya kering sehingga wanita dapat tidak mudah terinfeksi jamur (Elistiawaty, 2006) 

Keputihan adalah gejala awal dari kanker mulut rahim. Di seluruh dunia, kini terdapat sekitar 2,2 juta penderita kanker serviks. Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah tumor ganas yang menyerang leher rahim yang di sebabkan virus (HPV) human papilonia virus, pada awalnya kanker serviks tidak menimbulkan gejala, namun bila sudah berkembang menjadi kanker serviks barulah muncul gejala-gejala klinis, seperti keputihan yang berbau dan bercampur darah, pendarahan di luar haid, sakit saat buang air kecil dan rasa sakit yang luar biasa pada panggul (Dwiana, 2008) 

Di Indonesia setiap tahunnya 8.000 perempuan meninggal dunia karena menderita kanker serviks. Sebuah fakta yang menakutkan, ini artinya hampir tiap jam, seorang perempuan Indonesia meninggal dunia karena di gerogoti kanker serviks. Sering kali kankers serviks menyerang dan membunuh perempuan pada usia produktif yakni usia 30-50 tahun, namun dapat muncul pula pada perempuan dengan usia yang lebih muda. (Laila, 2008) 

Ada dua hal yang menjadi faktor pendorong keputihan yaitu faktor endogen dari dalam tubuh dan faktor eksogen dari luar tubuh, yang keduanya saling mempengaruhi. Faktor endogen yaitu kelainan pada lubang kemaluan, faktor eksogen di bedakan menjadi dua yakni karena infeksi dan non infeksi. Faktor infeksi yaitu bakteri, jamur, parasit, virus, sedangkan faktor non infeksi adalah masuknya benda asing ke vagina baik sengaja maupun tidak, cebok tidak bersih, daerah sekitar kemaluan lembab, kondisi tubuh, kelainan endokrin atau hormon, menopause (Susi, 2009)
Membahas Tentang Indra Pengecap

Membahas Tentang Indra Pengecap

Unknown
9:43 AM
Indra Pengecap 

Indra pengecap merupakan indra yang penangkap rangsangan berupa zat kimia. Rangsangan yang diterima oleh indra pengecapan tersebut diatur oleh gustatory system. Gustatory system adalah sistem sensoris bagi indera pengecapan. Pengecapan adalah fungsi utama dari taste buds di dalam rongga mulut, lebih tepatnya pada lidah. Reseptor pengecapan terdiri dari kurang lebih 50 sel-sel epitel yang telah termodifikasi, dan membentuk kelompok di dalam taste buds. Beberapa diantaranya disebut sebagai sel sustentakular dan lainnya disebut sebagai sel pengecap. Sel-sel pengecap terus menerus digantikan melalui pembelahan mitosis dari sel-sel epitel disekitarnya, sehingga beberapa diantaranya adalah sel muda dan dan lainnya sel matang yang terletak ke arah bagian tengah inderadan akan segera terurai dan larut. Ujung-ujung luar dari sel pengecap tersusun disekitar pori-pori pengecap (taste pore) yang sangat kecil. Pada setiap sel-sel pengecap terdapat rambut pengecap (gustatory hair) atau microvilli, yang menonjol ke luar menuju ke pori-pori pengecap (taste pore), yang mengarah ke rongga mulut. Rambut-rambut pengecap (gustatory hair) dapat membangkitkan aksi potensial ketika mendapat stimulus kimia yang larut dalam saliva. Oleh karena itu, reseptor ini dikategorikan sebagai kemoreseptor. 15,16,17 



 Anatomi dan Fisiologi Indra Pengecap 

1. Struktur dari organ rasa (taste buds) atau organ gustasi terletak di permukaan dari lidah di dalam papillae, terdiri dari sel reseptor (gustatory cell) dikelilingi oleh sel penyangga epitel, ujung yang bebas memiliki microvilli yag disebut dengan rambut perasa yang diteruskan melalui pembukaan di dalam taste bud yang dinamakan taste pore. 

2. Dapat merasakan lima rasa utama : manis, asam, pahit, asin dan umami. 

3. Pathway gustatory meleburnya bahan kimia menyebabkan aksi potensial dalam neuron sensorik yang terletak di basis dari sel gustatorim turun ke cranial nerve menuju medulla oblongata, dan diterima oleh thalamus, disalurkan ke korteks cerebri.18 


Taste buds adalah struktur kecil yang terletak pada permukaan atas dari lidah, palatum lunak, permukaan atas esophagus dan epiglotis yang menyediakan informasi tentang rasa dari makanan yang masuk ke dalam tubuh. Struktur ini terlibat dalam pendeteksian lima elemen dari persepsi rasa: asin, asam, pahit, manis , dan umami (savory). Melalui celah kecil di dalam epitelium lidah, yang disebut taste pore, bagian dari makanan yang larut dalam saliva mengalami kontak dengan reseptor rasa. Hal itu terletak pada puncak dari sel reseptor rasa yang mengkonstitusi taste buds. Sel reseotir rasa mengirim informasi yang dideteksi oleh cluster dari berbagai reseptor dan kanal ion ke gustatory area di otak melalui facial nerve (N.VII), glossopharyngeal nerve (N.IX), dan vagus nerve (N.X). 19 

Lidah manusia mempunyai kira – kira 10000 taste buds (papilla pengecap) yang berbentuk seperti benjolan kecil berwarna merah pada sebagian besar bagian lidah. Pada mamalia, taste buds terletak pada pangkal rongga mulut, pada faring, epiglottis laring, dan pintu masuk pada esofagus. Taste buds pada epitel dorsum lingual merupakan bagian yang paling banyak. Taste buds tersebut dibagi menjadi 4 jenis, yaitu: 

a. Papilla fungiformis, terletak pada bagian lidah paling anterior. Papilla ini dihubungkan oleh chorda tymphani yang merupakan cabang dari facial nerve (N.VII). Papilla ini terlihat seperti titik – titik merah pada lidah (berwarna merah karena papilla ini kaya akan pembuluh darah). Terdapat kira – kira 1120 taste buds pada papilla ini. 

b. Papilla foliata, terletak pada ujung lidah agak anterior pada garis circumvallate. Papilla – papilla ini sensitive pada rasa asam. Papilla – papilla ini juga dihubungkan oleh glossopharyngeal nerve (N.IX). Kira - kira terdapat 1280 taste buds pada papilla ini. 

c. Papilla circumvalata, merupakan papilla yang terlihat seperti tenggelam, dan mempunyai semacam kotak yang memisahkannya dari dinding – dinding sekelilingnya. Taste buds terletak didalam papilla. Papilla ini juga terletak pada garis circumvalata dan berperan pada sensitivitas asam dan pada 2/3 bagian posterior lidah. Papilla ini dihubungkan dengan glossopharyngeal nerve (N.IX). Pada papilla ini, terdapat kira – kira 2200 taste buds. 

d. Papila filiformis hanya bersifat mekanik dan tidak berfungsi sebagai pengecap karena tidak mengandung taste bud. 20 


Setiap taste bud berbentuk flask-like, berbasis lebar, bertumpu pada corium, dan lehernya terbuka, pori gustatori, di antara sel-sel epithelium. Bud ini terbentuk dari dua macam sel yaitu sel penyangga dan gustatory cells. Sel penyangga (sustentacular) kebanyakan diatur seperti staves of cask, dan membentuk amplop luar untuk bud. Sebagian, ditemukan di bagian interior dari bud di antara gustatory cells. Gustatory cells, merupakan chemoreseptor, yang mengisi bagian tengah dari bud, berbentuk spindle, dan masing-masing memiliki nucleus spherical di dekat bagian tengah dari sel.19 

Akhir periferal dari sel berterminasi di gustatory pore dalam filamen yang berupa rambut, merupakan gustatory hair. Proses sentral melewati bud dengan ekstrimitas yang dalam, dan di sana diakhiri dalam single atau bifurcated varicosities. Fibril saraf setelah kehilangan medullary sheath memasuki taste bud, dan diakhiri di antara gustatory cells, saraf fibril lain menjalar di antara sel penyangga dan berterminasi di fine extremities; Hal ini, dianggap sebagai sensasi biasa dari saraf dan bukan gustatori. 18 


Pada gustatory system terdapat lima sensasi rasa yaitu, rasa manis, pahit, dan umami ( savory), yang bekerja dengan signal melalui reseptor dengan aktivasi G-protein serta rasa asam dan asin, yang berkerja dengan kanal ion. 19 

Keterangan : 

1. Rasa pahit 

2. Rasa asam 

3. Rasa asin 

4. Rasa manis19 

            Penanganan Bell,s Palsy

Penanganan Bell,s Palsy

Unknown
9:40 AM
Penanganan Bell,s Palsy 

1. Istirahat terutama pada keadaan akut. 

2. Medikamentosa 

Selain itu, dari tinjauan terbaru menyimpulkan bahwa pemberian kortikosteroid dalam tujuh hari pertama efektif untuk menangani bell’s palsy. Pemberian sebaiknya selekas-lekasnya terutama pada kasus bell’s palsy yang secara elektrik menunjukkan denervasi. Tujuannya untuk mengurangi udem dan mempercepat reinervasi.12 Dosis yang dianjurkan 3 mg/kg BB/hari sampai ada perbaikan, kemudian dosis diturunkan bertahap selama 2 minggu. 


1. Fisioterapi 

Sering dikerjakan bersama-sama pemberian prednison, dapat dianjurkan pada stadium akut. Tujuan fisioterapi untuk mempertahankan tonus otot yang lumpuh. 

a. Penanganan mata 

Bagian mata juga harus mendapatkan perhatian khusus dan harus dijaga agar tetap lembab, hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian pelumas mata setiap jam sepanjang hari dan salep mata harus digunakan setiap malam.13 

b. Latihan wajah 

Komponen lain yang tidak kalah pentingnya dalam optimalisasi terapi adalah latihan wajah. Latihan ini dilakukan minimal 2-3 kali sehari, akan tetapi kualitas latihan lebih utama daripada kuantitasnya.14 Sehingga latihan wajan ini harus dilakukan sebaik mungkin. Pada fase akut dapat dimulai dengan kompres hangat dan pemijatan pada wajah, hal ini berguna mengingkatkan aliran darah pada otot-otot wajah. Kemudian latihan dilanjutkan dengan gerakan-gerakan wajah tertentu yang dapat merangsang otak untuk tetap memberi sinyal untuk menggerakkan otot-otot wajah. Sebaiknya latihan ini dilakukan di depan cermin. Gerakan yang dapat dilakukan berupa: 

a. Tersenyum 

b. Tertawa 

c. Mencucurkan mulut, kemudian bersiul 

d. Mengatupkan bibir 

e. Menutup dan membuka mulut 

f. Mengerutkan hidung 

g. Mengerutkan dahi 

h. Gunakan telunjuk dan ibu jari untuk menarik sudut mulut secara manual 

i. Mengangkat alis secara manual dengan keempat jari


1.    Tindakan operatif umumnya tidak dianjurkan pada anak-anak karena dapat menimbulkan komplikasi lokal maupun intracranial.
2.    Terapi penyinaran atau pemanasan ditujukan pada daerah bawah telinga yang mengalami penyumbatan atau pembengkakan dimana aliran darah menjadi tidak lancar.
3.    Denyut setrum yang tujuannya agar syaraf muka yang tidak aktif dapat aktif lagi.12,13,14


 Gejala Bell’s Palsy

Gejala Bell’s Palsy

Unknown
9:39 AM
Gejala Bell’s Palsy 

Karena saraf pada bagian wajah memiliki banyak fungsi dan kompleks, kerusakan atau gangguan fungsi pada saraf tersebut dapat mengakibatkan banyak masalah. Penyakit ini seringkali menimbulkan gejala-gejala klinis yang beragam akan tetapi gejala-gejala yang sering terjadi yaitu wajah yang tidak simetris, kelopak mata tidak bisa menutup dengan sempurna, gangguan pada pengecapan, serta sensasi mati rasa pada salah satu bagian wajah. Pada kasus yang lain juga terkadang disertai dengan adanya hiperakusis (sensasi pendengaran yang berlebihan), telinga berdenging, nyeri kepala dan perasaan melayang. Hal tersebut terjadi mendadak dan mencapai puncaknya dalam dua hari. Keluhan yang terjadi diawali dengan nyeri pada bagian telinga yang seringkali dianggap sebagai infeksi. Selain itu juga terjadi kelemahan atau paralisis otot, Kerutan dahi menghilang, Tampak seperti orang letih, Hidung terasa kaku terus - menerus, sulit berbicara, sulit makan dan minum, sensitive terhadap suara (hiperakusis), salivasi yang berlebih atau berkurang, pembengkakan wajah, berkurang atau hilangnya rasa kecap, air liur sering keluar, air mata berkurang, alis mata jatuh, kelopak mata bawah jatuh, sensitif terhadap cahaya.1 

Selain itu masih ada gejala-gejala lain yang ditimbulkan oleh penyakit ini yaitu, pada awalnya, penderita merasakan ada kelainan di mulut pada saat bangun tidur, menggosok gigi atau berkumur, minum atau berbicara. Mulut tampak mencong terlebih saat meringis, kelopak mata tidak dapat dipejamkan (lagoftalmos), waktu penderita menutup kelopak matanya maka bola mata akan tampak berputar ke atas. Penderita tidak dapat bersiul atau meniup, apabila berkumur maka air akan keluar ke sisi melalui sisi mulut yang lumpuh. Selanjutnya gejala dan tanda klinik lainnya berhubungan dengan tempat/lokasi lesi..10,11 



a. Lesi di luar foramen stylomastoideus 

Mulut tertarik ke arah sisi mulut yang sehat, makanan berkumpul di antar pipi dan gusi, dan sensasi dalam (deep sensation) di wajah menghilang, lipatan kulit dahi menghilang. Apabila mata yang terkena tidak tertutup atau tidak dilindungi maka aur mata akan keluar terus menerus.10 



b. Lesi di canalis facialis (melibatkan chorda tympani) 

Gejala dan tanda klinik seperti pada lesi di luar foramen stylomastoideus, ditambah dengan hilangnya ketajaman pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi di sisi yang terkena berkurang. Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnya intermedius nerve, sekaligus menunjukkan lesi di daerah antara pons dan titik di mana chorda tympani bergabung dengan facial nerve (N.VII) di canalis facialis.8 



c. Lesi di canalis facialis lebih tinggi lagi (melibatkan musculus stapedius) 

Gejala dan tanda klinik seperti pada lesi di luar foramen stylomastoideus, lesi di canalis facialis, ditambah dengan adanya hiperakusis. 



d. Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion genikulatum) 

Gejala dan tanda klinik seperti lesi di luar foramen stylomastoideus. Lesi di canalis facialis, lebih tinggi lagi disertai dengan nyeri di belakang dan di dalam liang telinga. Kasus seperti ini dapat terjadi pasca herpes di tympani membrane dan conchae. 11 



e. Lesi di daerah meatus acusticus interna 

Gejala dan tanda klinik seperti lesi di luar foramen stylomastoideus, lesi di canalis facialis, lesi di canalis facialis lebih tinggi lagi, lesi di tempat yang lebih tinggi lagi, ditambah dengan tuli sebagai akibat dari terlibatnya vagus nerve (N.X).8 



f. Lesi di tempat keluarnya facial nerve (N.VII) dari pons. 

Gejala dan tanda klinik sama dengan di atas, disertai gejala dan tanda terlibatnya trigeminus nerve (N.V), vagus nerve (N.X), dan kadang-kadang juga abducens nerve (N.VI), accessory nerve (N.XI), dan hypoglossal nerve (N.XII).10 

Syndrome Bell’s Palsy

Syndrome Bell’s Palsy

Unknown
9:38 AM
Penyakit Bell’s Palsy 

Bell’s palsy adalah nama penyakit yang menyerang facial nerve (N.VII), sehingga menyebabkan kelumpuhan pada otot wajah disalah satu sisi. Ditandai dengan susahnya menggerakkan otot wajah dibagian yang terserang, seperti mata tidak bisa menutup. Penyebab kelumpuhan ini masih menjadi perdebatan. Beberapa ahli menyatakan penyebabnya adalah karena terpapar angin dingin disalah satu sisi wajah secara terus menerus, ada juga yang menyatakan hal itu disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) yang menetap ditubuh dan aktif kembali karena trauma, faktor lingkungan, dan stress. Sebagian penderita bisa sembuh tanpa pengobatan, tapi disarankan untuk menjalani terapi dan pengobatan agar bisa segera sembuh.1 



 Facial Nerve (N.VII) 

Facial nerve (N.VII) memiliki fungsi sensorik dan motorik terhadap wajah. Sensorik facialis nerve (N.VII) terletak di dalam geniculate ganglion. Sensorik facialis nerve (N.VII) untuk reseptor indera pengecap terdapat pada dua pertiga lidah bagian anterior, dan motorik facialis nerve (N.VII) berasal dari nuclei motor pada pons, serta berfungsi untuk menggerakkan otot-otot mimik wajah. Facialis nerve (N.VII) melewati canalis acustic internal hingga ke canalis facialis dan berakhir pada foramen stilomastoideus. Facialis nerve (N.VII) bercabang membentuk cabang temporal, zygomatic, buccal, mandibular, dan cervical.2 

Sensorik facialis nerve (N.VII) mengatur proprioceptor pada otot-otot mimik, menimbulkan sensasi tekanan yang dalam pada wajah dan menerima informasi pengecapan dari reseptor di sepanjang dua pertiga lidah bagian anterior. Serabut motorik somatic dari facialis nerve (N.VII) 



mengontrol otot-otot superficial dari scalp (kulit kepala), wajah, dan otot-otot profundus di dekat telinga. Facial nerve (N.VII) membawa serabut preganglionc autonomic ke sphenopalatine dan submandibular ganglia. Serabut postganglionic dari sphenopalatine menginervasi glandula lacrimalis dan glandula kecil dari cavity nasalis dan pharyng. Submandibular ganglia menginervasi glandula submandibular dan sublingualis.3 

Bell’s palsy adalah kelainan cranial nerve yang disebabkan karena peradangan pada facial nerve (N.VII). Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi virus. Beberapa gejalanya adalah paralisis pada otot facial di sisi yang terinfeksi dan kehilangan kemampuan untuk mengecap pada dua pertiga bagian anterior dari lidah. Kondisi ini biasanya tidak menimbulkan nyeri dan pada kebanyakan kasus menghilang setelah beberapa minggu atau beberapa bulan.4 



 Epidemiologi Bell’s Palsy 

Peluang terjadinya bell’s palsy setiap tahunnya adalah 20 dari 100.000 populasi, dan meningkatnya kejadian seiring dengan umur. Bell’s palsy diderita oleh sekitar 40.000 orang di AS setiap tahun. Ditemukan juga penyakit turunan pada sekitar 4 sampai 14% kasus. Bell’s palsy lebih rentan 3 kali menyerang wanita yang tak hamil, serta 4 kali lebih sering diderita orang dengan penyakit diabetes dibandingkan pada kondisi normal.5 

Bell’s palsy adalah penyebab umum dari kelainan facial unilateral. Kejadian rata-rata adalah 10 sampai dengan 30 kasus untuk setiap 100.000 orang dalam satu populasi. Tak ada batasan umur bagi seseorang untuk beresiko terkena penyakit ini, namun penyakit ini umumnya menyerang antara usia 15-45, baik pria maupun wanita memiliki peluang yang sama, begitu juga sisi wajah kiri maupun kanan berpeluang sama untuk terkena bell’s palsy. Sekitar 7-10% kasus menyerang bagian wajah secara ipsilateral maupun kontralateral. Ada 8- 10% pasien yang positif menderita bell’s palsy karena keturunan.6 


Etiologi dan Patologi Bell’s Palsy 

Menurut perkiraan para ahli penyebab bell’s palsy adalah virus. Akan tetapi, baru beberapa tahun terakhir ini dapat dibuktikan etiologi ini secara logis karena pada umumnya kasus bell’s palsy sekian lama dianggap idiopatik. Telah diidentifikasi gen Herpes Simplex Virus (HSV) dalam geniculate ganglion penderita bell’s palsy. Dahulu yang kita ketahui sebagai pemicu bell’s palsy adalah terpapar angin atau suhu yang ekstrem misalnya hawa dingin, AC, atau menyetir mobil dengan jendela terbuka dianggap sebagai pemicu bell’s palsy. Selain itu penyebab yang lain adalah perubahan tekanan atmosfir yang tiba-tiba seperti menyelam dan terbang, serta otitis media akut atau inflamasi di telinga tengah. Akan tetapi, sekarang banyak yang meyakini Herpes Simplex Virus (HSV) sebagai penyebab bell’s palsy.7 

Tahun 1972, McCormick pertama kali mengusulkan Herpes Simplex Virus (HSV) sebagai penyebab paralisis fasial idiopatik. Dengan analaogi bahwa Herpes Simplex Virus (HSV) ditemukan pada keadaan masuk angin (panas dalam/cold sore), dan beliau memberikan hipotesis bahwa Herpes Simplex Virus (HSV) bisa tetap dorman dalam geniculate ganglion. Sejak saat itu, penelitian memperlihatkan adanya Herpes Simplex Virus (HSV) dalam geniculate ganglion pasien bell’s palsy. Dengan melakukan tes PCR (Polymerase-Chain Reaction) pada cairan endoneural facial nerve (N.VII), penderita bell’s palsy berat yang menjalani pembedahan dan menemukan Herpes Simplex Virus (HSV) dalam cairan endoneural. Apabila Herpes Simplex Virus (HSV) diinokulasi pada telinga dan lidah tikus, maka akan ditemukan antigen virus dalam facial nerve (N.VII) dan geniculate ganglion.8 

Herpes Simplex Virus (HVS), Cytomegalo yang banyak ditularkan lewat ciuman. Virus Herpes Simplex (HVS) ditularkan antara lain lewat berciuman (juga pada anak-anak oleh orang tua), handuk, saputangan, dan sariawan, lalu membawanya sebagai pembawa (carrier). Dalam tubuh pembawa, virus dalam keadaan tenang tanpa mengganggu. Baru jika tubuh yang ditumpangi sedang menurun kondisinya, virus berubah jadi ganas, dan menyerang tubuh yang ditumpanginya. Selain virus dan bakteri, infeksi telinga tengah bisa juga menjadi penyebab penyakit bell’s palsy, termasuk kondisi autoimun. Kemunculan faktor penentu virus ini menyerang adalah seperti sedang sakit menahun dan ada trauma fisik maupun mental. Facial nerve (N.VII) mengalami peradangan, lalu membengkak, dan terjepit di liang tulang bawah telinga yang dilaluinya. Jepitan pada saraf yang sedang membengkak ini yang menimbulkan gejala bell’s palsy yang khas itu.9
 Latar Belakang Tentang Inda Pengecap

Latar Belakang Tentang Inda Pengecap

Unknown
9:36 AM
Latar Belakang 

Makalah “Gangguan pada Indra Pengecap Akibat Paparan Herpes Simplex Virus pada Penyakit Bell’s Palsy” ini dikembangkan dari 2 topik berbeda yang kemudian dihubungkan oleh beberapa sebab akibat. Topik pertama adalah bell’s palsy. Bell’s palsy atau prosoplegia adalah kelumpuhan facialis tipe lower motor neuron akibat paralisis nervous facial perifer yang terjadi secara akut dan penyebabnya akibat paparan herpes simplex virus (HSV). Lokasi cedera facial nerve pada bell’s palsy adalah di bagian perifer nukleus facial nerve (N.VII). Cedera tersebut terjadi di dekat geniculate ganglion. Salah satu gejala bell’s palsy adalah kelopak mata sulit menutup dan saat penderita berusaha menutup kelopak matanya, matanya terputar ke atas dan matanya tetap kelihatan. 

Topik kedua adalah gangguan indra pengecap. Indra pengecap adalah salah satu indra yang mampu menangkap rangsangan berupa zat kimia. Pengecapan adalah fungsi utama dari taste buds di dalam rongga mulut tepatnya pada lidah. Pada indra pengecap dikendalikan oleh 3 cabang cranial nerve, yaitu facial nerve (N.VII), glossopharyngeal (N.IX), dan vagus nerve (N.X). Facial nerve (N.VII )tersebut tentu akan ikut terpengaruh bila penderita mengalami bell’s palsy, yang artinya salah satu keluhan yang diakibatkan adalah berkurangnya atau hilangnya daya pengecapan. Pada penderita bell’s palsy, facial nerve (N.VII) diserang oleh herpes simplex virus (HSV) sehingga mengalami gangguan pada indra pengecap. Mekanisme lebih lanjut akan dijelaskan pada bab pembahasan. 

Setelah mempelajari fakta-fakta yang disajikan, dapat disimpulkan beberapa poin penting berupa penyebab, gejala, serta cara penanganan bell’s palsy, dan ide tentang hal-hal yang dapat ditempuh untuk upaya pencegahan. 

Bahaya Kanker Serviks Buat Wanita Modern

Bahaya Kanker Serviks Buat Wanita Modern

Unknown
10:10 AM
Apa Bahaya Kanker Serviks Buat Wanita Modern ??

Kanker Serviks 

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, penyakit kanker serviks merupakan penyebab utama kematian akibat kanker. Di dunia, setiap dua menit seorang wanita meninggal dunia akibat kanker serviks. Jadi, jangan lagi memandang ancaman penyakit ini dengan sebelah mata. Berikut 13 hal yang wajib Anda ketahui tentang kanker serviks.

1. Apa itu kanker serviks?

Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah jenis penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu, bagian rahim yang terletak di bawah, yang membuka ke arah liang vagina. Berawal dari leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh.


2. Seberapa berbahaya penyakit kanker serviks ini?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks, dan kira-kira sebanyak 8000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks yang tertinggi di dunia. Mengapa bisa begitu berbahaya? Pasalnya, kanker serviks muncul seperti musuh dalam selimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut.


3. Apa penyebab kanker serviks?

Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18. Namun, selain disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.


4. Bagaimana penularan kanker serviks?

Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital. Karenanya, penggunaan kondom saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Sebab, tak hanya menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah melalui sentuhan kulit.


5. Apa saja gejala kanker serviks?

Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang mudah diamati. Itu sebabnya, Anda yang sudah aktif secara seksual amat dianjurkan untuk melakukan tes pap smear setiap dua tahun sekali. Gejala fisik serangan penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan oleh penderita kanker stadium lanjut. Yaitu, munculnya rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan intim (contact bleeding), keputihan yang berlebihan dan tidak normal, perdarahan di luar siklus menstruasi, serta penurunan berat badan drastis. Apabila kanker sudah menyebar ke panggul, maka pasien akan menderita keluhan nyeri punggung, hambatan dalam berkemih, serta pembesaran ginjal.


6. Berapa lama masa pertumbuhan kanker serviks?

Masa preinvasif (pertumbuhan sel-sel abnormal sebelum menjadi keganasan) penyakit ini terbilang cukup lama, sehingga penderita yang berhasil mendeteksinya sejak dini dapat melakukan berbagai langkah untuk mengatasinya. Infeksi menetap akan menyebabkan pertumbuhan sel abnormal yang akhirnya dapat mengarah pada perkembangan kanker. Perkembangan ini memakan waktu antara 5-20 tahun, mulai dari tahap infeksi, lesi pra-kanker hingga positif menjadi kanker serviks.


7. Benarkah perokok berisiko terjangkit kanker serviks?

Ada banyak penelitian yang menyatakan hubungan antara kebiasaan merokok dengan meningkatnya risiko seseorang terjangkit penyakit kanker serviks. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di Karolinska Institute di Swedia dan dipublikasikan di British Journal of Cancer pada tahun 2001. Menurut Joakam Dillner, M.D., peneliti yang memimpin riset tersebut, zat nikotin serta “racun” lain yang masuk ke dalam darah melalui asap rokok mampu meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi cervical neoplasia atau tumbuhnya sel-sel abnormal pada rahim. “Cervical neoplasia adalah kondisi awal berkembangnya kanker serviks di dalam tubuh seseorang,” ujarnya.


8. Selain itu, siapa lagi yang berisiko terinfeksi kanker serviks?

Perempuan yang rawan mengidap kanker serviks adalah mereka yang berusia antara 35-50 tahun, terutama Anda yang telah aktif secara seksual sebelum usia 16 tahun. Hubungan seksual pada usia terlalu dini bisa meningkatkan risiko terserang kanker leher rahim sebesar 2 kali dibandingkan perempuan yang melakukan hubungan seksual setelah usia 20 tahun. Kanker leher rahim juga berkaitan dengan jumlah partner seksual. Semakin banyak partner seksual yang Anda miliki, maka kian meningkat pula risiko terjadinya kanker leher rahim. Sama seperti jumlah partner seksual, jumlah kehamilan yang pernah dialami juga meningkatkan risiko terjadinya kanker leher rahim.

Anda yang terinfeksi virus HIV dan yang dinyatakan memiliki hasil uji pap smear abnormal, serta para penderita gizi buruk, juga berisiko terinfeksi virus HPV. Pada Anda yang melakukan diet ketat, rendahnya konsumsi vitamin A, C, dan E setiap hari bisa menyebabkan berkurangnya tingkat kekebalan pada tubuh, sehingga Anda mudah terinfeksi.


9. Bagaimana cara mendeteksi kanker serviks?

Pap smear adalah metode pemeriksaan standar untuk mendeteksi kanker leher rahim. Namun, pap smear bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi penyakit ini. Ada pula jenis pemeriksaan dengan menggunakan asam asetat (cuka) yang relatif lebih mudah dan lebih murah dilakukan. Jika menginginkan hasil yang lebih akurat, kini ada teknik pemeriksaan terbaru untuk deteksi dini kanker leher rahim, yang dinamakan teknologi Hybrid Capture II System (HCII). 


10. Bisakah kanker serviks dicegah?

Meski menempati peringkat tertinggi di antara berbagai jenis penyakit kanker yang menyebabkan kematian, kanker serviks merupakan satu-satunya jenis kanker yang telah diketahui penyebabnya. Karena itu, upaya pencegahannya pun sangat mungkin dilakukan. Yaitu dengan cara tidak berhubungan intim dengan pasangan yang berganti-ganti, rajin melakukan pap smear setiap dua tahun sekali bagi yang sudah aktif secara seksual, memelihara kesehatan tubuh, dan melakukan vaksinasi HPV bagi yang belum pernah melakukan kontak secara seksual.


11. Haruskah mengambil vaksinasi HPV untuk kanker serviks?

Pada pertengahan tahun 2006 telah beredar vaksin pencegah infeksi HPV tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab kanker serviks. Vaksin ini bekerja dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkap virus sebelum memasuki sel-sel serviks. Selain membentengi dari penyakit kanker serviks, vaksin ini juga bekerja ganda melindungi perempuan dari ancaman HPV tipe 6 dan 11 yang menyebabkan kutil kelamin.

Yang perlu ditekankan adalah, vaksinasi ini baru efektif apabila diberikan pada perempuan berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif secara seksual. Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dalam jangka waktu tertentu. Dengan vaksinasi, risiko terkena kanker serviks bisa menurun hingga 75%. Ada kabar gembira, mulai tahun ini harga vaksin yang semula Rp 1.300.000,- sekali suntik menjadi Rp 700.000,- sekali suntik.


12. Apakah vaksinasi kanker serviks ini memiliki efek samping?

Vaksin ini telah diujikan pada ribuan perempuan di seluruh dunia. Hasilnya tidak menunjukkan adanya efek samping yang berbahaya. Efek samping yang paling sering dikeluhkan adalah demam dan kemerahan, nyeri, dan bengkak di tempat suntikan. Efek samping yang sering ditemui lainnya adalah berdarah dan gatal di tempat suntikan. Vaksin ini sendiri tidak dianjurkan untuk perempuan hamil. Namun, ibu menyusui boleh menerima vaksin ini.


13. Kalau sudah terinfeksi kanker serviks, bisakah disembuhkan?

Berhubung tidak mengeluhkan gejala apa pun, penderita kanker serviks biasanya datang ke rumah sakit ketika penyakitnya sudah mencapai stadium 3. Masalahnya, kanker serviks yang sudah mencapai stadium 2 sampai stadium 4 telah mengakibatkan kerusakan pada organ-organ tubuh, seperti kandung kemih, ginjal, dan lainnya. Karenanya, operasi pengangkatan rahim saja tidak cukup membuat penderita sembuh seperti sedia kala. Selain operasi, penderita masih harus mendapatkan terapi tambahan, seperti radiasi dan kemoterapi. Langkah tersebut sekalipun tidak dapat menjamin 100% penderita mengalami kesembuhan.
Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Popular Posts

  • CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)
    CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)  Obat batuk dengan efek jangka panjang 10 – 12 jam  KOMPOSISI  Codipront Kapsul  Tiap Kapsul mengandun...
  • GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)
    GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)  Obat Generik : Gentamicin / Gentamisin Sulfat Obat Bermerek : Balticin, Bioderm, Dermabiotik, De...
  • Jenis - Jenis Obat Kortikosteroid
    Obat Kortikosteroid  Oradexon Tablet dan Injeksi ORADEXON Tablet, Suntik (Dexamethasone / Deksametason) Obat Generik : Dexamethasone...
  • BACTROBAN Krim / Salep Kulit (Mupirocin)
    Nama Obat Generik : Mupirocin / Mupirosin  Nama Obat Bermerek : Bactroban  KOMPOSISI / KANDUNGAN  Tiap 1 gram Bactroban Krim mengandung Mupi...
  • Contoh Latar Belakang Manajemen
    A.     Latar Belakang Manajemen  Sesungguhnya mulai kapan teori manajemen itu ada? Yaitu mulai sejak para pelaku usaha berkecimpung memi...
My Ping in TotalPing.com
My Ping in TotalPing.com

Labels

  • Cara Mengatasi Penyakit
  • Dunia Kesehatan
  • Hukum pidana
  • Manajemen

Popular Posts

  • CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)
    CODIPRONT (Codeine, Phenyltoloxamine)  Obat batuk dengan efek jangka panjang 10 – 12 jam  KOMPOSISI  Codipront Kapsul  Tiap Kapsul mengandun...
  • GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)
    GARAMYCIN Krim, Salep (Gentamicin Sulfate)  Obat Generik : Gentamicin / Gentamisin Sulfat Obat Bermerek : Balticin, Bioderm, Dermabiotik, De...

Pages

  • Home
Copyright © 2015 Tujuan I - Pendidikan Online . All rights reserved. My Notes Template. Simple Default Template edited by RT Media ™. Powered by Login